Sudarto Guruku

hari-guru.jpg

Saya yakin setiap kita pasti punya kenangan masa lalu dengan seorang guru. Bisa jadi kenangan manis, bisa juga kenangan yang menyedihkan. Kalau saya selalu ingat dengan guru yang cantik, guru yang galak dan tentu ingat juga dengan guru yang sangat baik.

Diantara puluhan guru yang pernah mengajar saya sejak SD hingga SMA yang paling berkesan bagi saya adalah pak Sudarto. Kami memanggilnya pak Darto. Beliau guru matematika saya di SMAN Way Halim, Bandar Lampung. Beliau berasal dari Jogja. Selain mengajar beliau adalah Pembina Pramuka di sekolah kami. Bukan hanya Pembina Pramuka, sejatinya beliau juga pembina kehidupan kami.

Cara mengajarnya biasa saja, namun perhatiannya kepada siswa sangat luar biasa. Saya pernah diajak ke rumahnya, beliau pun pernah berkunjung ke rumah saya. Padahal rumah saya di pedesaan, jauh dari rumah pak Darto. Bukan hanya itu, saat saya kost di dekat sekolah, beliau pun pernah datang ke tempat kost saya.

Pak Darto selalu berusaha meyakinkan saya bahwa saya mampu meraih cita-cita saya. Pesan yang masih saya ingat, “Kemiskinan bisa kamu taklukkan dengan kepemimpinan. Belajarlah terus jadi pemimpin. Jangan hanya pintar, tapi kamu juga harus aktif di organisasi sekolah. Kamu miskin harta tapi tak boleh miskin karya.”

Berkat dorongan beliaulah saya aktif di Pramuka, saya menjadi Sekretaris Umum di ambalan Soekarno-Hatta. Saya juga menjadi pengurus OSIS. Saya memimpin delegasi SMAN Way Halim untuk ikut berbagai kompetisi. Ada yang juara tingkat propinsi, ada yang termasuk 3 terbaik tetapi ada juga yang gagal total.

Saat kami berhasil, ia memberikan apresiasi kepada kami. Saat kami gagal, ia memeluk kami. Ia mengangkat moral kami. Ia selalu memberikan keyakinan bahwa tak ada kegagalan yang ada adalah pembelajaran.

Saat saya mendapat panggilan untuk kuliah di IPB, hanya dia satu-satunya guru yang datang ke tempat saya. Memeluk saya sangat erat sembari menangis tiada henti. Ia memberi keyakinan bahwa saya harus berangkat ke IPB walau dengan berbagai keterbatasan dana yang kami punya. Pesannya singkat, “Kamu harus taklukkan kemiskinanmu dengan keyakinanmu.”

Guru bukan sekedar transfer ilmu. Guru juga digugu dan ditiru, didengar dan dicontoh. Guru adalah sumber ilmu, inspirator, motivator, coach, mentor, sekaligus orang tua kedua bagi siswa. Semua itu ada pada sosok pak Darto, guru saya di SMAN Way Halim, Bandar Lampung. Saya yakin masih banyak pak Darto pak Darto lain yang ada di berbagai sekolah di negeri ini.

Selamat hari guru, jasamu ku kenang selalu. Namamu selalu tersimpan di dalam hatiku…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

9 thoughts on “Sudarto Guruku”

  1. dedy says:

    Terharu bacanya pak, suwun.

    1. Jamil Azzaini says:

      Tadi saya nulis juga sambil nangis…

  2. Ali samsudin says:

    subhanallah, guru yang hebat

    1. Jamil Azzaini says:

      Bukan hanya hebat, sangat hebat….

  3. Anonymous says:

    hiks hiks hiks….terharu sangat,….semoga Allah memberkati Bapak (P’Guru kehidupan buat saya dan anak saya) dan P’Sudarto kesehatan,senantiasa bahagiaa bersama keluarga….dan sukses selalu menyertai..Aaminn

    1. Jamil Azzaini says:

      Aamiin yra…

  4. andi djunaidi says:

    Semoga Allah SWT memberikan kebaikan untuk Pak Darto dan Guru-guru lainnya.

    1. Jamil Azzaini says:

      Aamiin yra….

  5. Retno Mustikaningsih says:

    Sangat haru,.. jd ingat sm almarhum Ayah, Sutardjo.. yg juga seorg guru . Ayo P’Guru n B’ Guru .. pastikan jd mentor untuk murid2 anda. Mrk prlu ..’ Guru Sahabat’. Trims Mas Jamil, ..You are the best inspirator in this country.

Leave a Reply

Your email address will not be published.