Skenario Allah

JA-mekah.jpg

Ahad kemarin (31 Januari 2016), pukul 03.00 dinihari saya meninggalkan hotel pergi menuju Masjidil Haram untuk thawaf dan sholat malam. Saya membuat janji dengan salah seorang anggota rombongan Anta Umroh untuk mencium hajar aswad dan bertemu di Ka’bah. Saya mengira yang thawaf tidak sepadat hari-hari sebelumnya khususnya seperti Jumat. Tapi, ternyata yang thawaf pagi itu masih banyak dan juga sangat padat.

Saya kebingungan, dimana bisa jumpa dengan teman satu rombongan ini, karena di sekitar Ka’bah ada ribuan manusia yang sedang berthawaf. Usai thawaf tujuh putaran, saya berusaha mencium hajar aswad. Beberapa kali mencoba saya gagal. Karena sudah berkomitmen untuk mencium maka saya terus berusaha agar bisa mewujudkan keinginan saya. Gagal, coba lagi. Gagal, coba lagi…

Hingga akhirnya, di dekat hajar aswad saya terkejut karena bertatap muka dengan sahabat saya yang punya janji untuk bertemu. Ia baru saja selesai mencium hajar aswad. Dia pun terkejut melihat saya, lalu secara refleks dia tarik saya untuk mencium hajar aswad dan menjaga saya agar bisa mencium hajar aswad dengan nyaman dan aman. Allahu Akbar! Setelah itu, kami berpelukan disertai deraian air mata di depan multazam –tempat diantara hajar Aswad dan pintu Ka’bah.

Saya bersama Boby dan pak Beta (kanan).

Saya bersama Boby dan pak Beta (kanan).

Lelaki yang janjian bertemu saya di Ka’bah ini bernama Boby Ahmad Maulana. Dia sebenarnya tidak berencana pergi umroh tahun ini. Ia berniat mengumrohkan mertuanya dulu setelah dua tahun yang lalu ia bisa mengumrohkan ibu kandungnya. Ia juga belum mempersiapkan dana untuk umroh karena dana yang ada sedang digunakan untuk membangun rumah dan keperluan istrinya kuliah pascasarjana.

Bagaimana Boby bisa umroh? Lelaki asal Samarinda ini bercerita. Empat tahun yang lalu, ketika bergabung dengan salah satu perusahaan nikel di Sulawesi, ia berkenalan dengan seorang mantan karyawan disana bernama Sudding Daeng Beta (Pak Beta). Pak Beta ini tidak bisa mendengar. Walau baru berkenalan, tetapi Boby akrab dan bersahabat dengan pak Beta. Ia bahkan merawat dan mengawasi pak Beta dengan penuh kesungguhan.

Rupanya jasa pak Beta terhadap perusahaan nikel tersebut cukup besar, sehingga pihak perusahaan memberinya hadiah untuk berangkat umroh. Namun pihak perusahaan kebingungan apabila pak Beta yang duda, tuli dan usianya sudah lebih dari 60 tahun ini harus berangkat seorang diri. Maka pimpinan perusahaan meminta Boby untuk menemaninya.

Bahagia bercampur bingung, itulah yang menimpa Boby ketika itu. Bahagia karena ia bisa ke Tanah Suci, bingung karena ia tak tahu tata cara menjalankan ibadah umroh. Ia juga bingung karena merasa belum pantas umroh sebab sholatnya masih belum bisa disiplin. “Masih banyak karyawan lain yang lebih pantas dan lebih lama bekerja di perusahaan itu untuk berangkat umroh,” katanya.

Kebingungan Boby yang utama adalah tidak punya uang untuk bekal ke Tanah Suci. Hingga, akhirnya, istrinya mengusulkan untuk menjual perhiasan emasnya agar sang suami punya uang “pegangan” agar nyaman saat umroh.

Namun, lelaki beranak dua ini menolak usulan istrinya. Ia berkata, “Allah yang memberangkatkan saya, pastilah Allah sudah menyediakan perbekalannya.”

Walau demikian, sesungguhnya ia juga gelisah karena memang tidak punya uang sedikit pun sementara gajian masih bulan berikutnya. “Tiket pesawat dan keperluan umroh memang sudah disediakan kantor, tetapi tidak ada uang untuk keperluan lain,” ujarnya.

Waktu berangkat umroh pun tiba. Di tengah kegalauan Boby, sang pimpinan menemuinya untuk melepas kepergian Boby pergi umroh. Bukan sekadar melepas, sang pimpinan memberi amplop yang cukup tebal untuk bekal di Tanah Suci. Alhamdulillah…

Saya jadi mengerti, mengapa Boby begitu erat memeluk saya disertai linangan air mata usai mencium hajar aswad tadi. Karena, ternyata, banyak cerita dibalik keberangkatan umrohnya ke Tanah Suci. Skenario Allah memang selalu luar biasa.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

13 thoughts on “Skenario Allah”

  1. Duqi says:

    Terimakasih sekali pak Haji Jamil Azzaini, senang mendengar cerita tentang mencium hajar aswad (batu hitam dr surga). Sungguh mengharukan… jd ikut nangis ni membacax. Mohon didoakan pak haji sy dan keluarga bisa nyusul ke baitullah.. Amin..
    Juga senang dg cerita yg lainx.
    Smoga pak haji, dilancarkan smuax dlm menjalankan ibadah umroh… Amin..

    1. Jamil Azzaini says:

      Aamiin yra…silakan disebar

      1. Ora Dadi Opo says:

        Aamiin Aamiin Yaa Robbal Alamin

  2. Bang Motty says:

    kangen tahajud bareng + ngobrol mesra di depan Ka’bah Mbah :”) Uhibbuka Fillah.. pulang umroh kabarin ya Mbah. Pengen sungkem :”)

    1. Jamil Azzaini says:

      Aku punya fotonya lho saat jumpa umroh dulu..dibuka gak ya? Hehehe

      1. Bang Motty says:

        muehehe.. foto kenangan tak terlupa Mbah. nempel di hati banget :”) aku main ke rumah ya. nanti aku WA Mbah ^_^

  3. CECEP SAPRUDIN says:

    Luar biasa ceritanya Pak Jamil…. sampai saya menitikkan air mata.

  4. ROFIN says:

    Saya ingin sekali berangkatin orang tua dan mertua saya untuk umroh..tolong doain ya Pak Jamil

  5. kiki says:

    suhanallah… sampai berkaca-kaca bacanya… semoga kelak Allah memampukan saya ke tanah suci

  6. Hilman says:

    Nangiissss aku bacanya kek
    hampir sama dengan kisahku

  7. lailia maghfiroh says:

    merinding n meneteskan air mata kek bcnya…..skenario Allah luar biasa n g trjangkau nalar kt. subhanallah

  8. Enjank says:

    Thank’s for artikel

  9. Enjank says:

    Terima kasih atas artikelnya,,, smoga bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published.