Sisi Lain Lelaki

sisilainlelaki.jpg

Baru-baru ini ada seorang trainer bercerita kepada saya, “Kasihan, ada seorang istri yang curhat kepada saya, ternyata sudah lama ia tidak diperhatikan suaminya. Ia jablay, ia tersiksa. Sementara suaminya terlalu egois dan hanya sibuk dengan pekerjaannya. Suaminya tidak perhatian kepada sang istri.”

Mendengar cerita itu saya hanya menjawab singkat, “Hati-hati, yang curhat belum tentu yang benar.” Sang trainer kaget. Kami pun akhirnya diskusi dari berbagai sisi. Kita memang tidak boleh terbawa suasana dan emosi orang yang curhat kepada kita. Bisa tidak obyektif dan akhirnya memberikan nasihat yang keliru. Saya pernah memberi nasihat yang keliru karena emosi saya terbawa oleh orang yang curhat kepada saya.

Saya pun mengajak trainer berimajinasi, “Mari bayangkan sisi lain dari lelaki. Banyak lelaki yang sudah bersusah payah mencari nafkah. Di kantor ia dimarahi boss-nya. Di rumah ia dicemberutin istri. Terkadang ia pun kena semprot pelanggannya. Ia diam, ia mengalah untuk kebahagiaan orang lain.”

Saya pun melanjutkan, “Kalau lelaki istirahat di rumah, ada yang menuduhnya malas. Sementara bila ia sibuk di luar rumah, ada yang mengatakan tukang ngelayap dan tidak “care” terhadap keluarga. Dan ironisnya, saat di rumah ia menegur atau menasihati istri dan anaknya, ia akan dikenal orang yang galak. Sementara bila ia diam saja, ia akan dituduh tidak tegas dan tak pantas jadi imam.”

“Saat sang lelaki ingin menjadi anak yang sholeh, ia pun mentaati, menyanyangi dan mendengar apa yang diucapkan ibunya. Namun apa yang ia peroleh? Ia akan dikelompokkan menjadi lelaki anak mami. Sementara bila ia memuliakan, memanjakan dan mendengar apa yang diucapkan istrinya. Maka ia akan dikelompokkan lelaki yang takut istri.”

“Terkadang sang lelaki berusaha keras membahagiakan orang-orang yang ia cintai. Ia bersusah payah mencari rupiah untuk memberi hadiah. Namun ternyata hadiah diterima dengan cara yang biasa bahkan terkadang diserta ucapan: Yah, cuma begini!”

“Namun, cobalah lihat, walau ia menerima banyak tuduhan, amarah, mungkin cacian dan kurangnya perhatian, ia tetap melangkah mencari nafkah. Ia habiskan waktunya untuk membahagiakan orang-orang di sekitarnya. Meski ia terkadang sangat lelah, ia masih sempat mendoakan orang-orang yang dicintainya.”

Saya katakan lagi kepada sang trainer, “Lelaki sejati memang tidak harus membela lelaki. Tetapi jangan kau abaikan pengorbanan lelaki hanya karena curhat seorang wanita yang kau anggap menderita.”

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

23 thoughts on “Sisi Lain Lelaki”

  1. Sultan says:

    Wajib dibaca kaum Hawa..

  2. ali samsudin` says:

    terimakasih kek, lelaki sejati memang harusnya sangat hati-hati dengan curhatan istri orang

    1. Jamil Azzaini says:

      Akur…setuju….

  3. azrur rahmi says:

    assalamualaikum kek jami, alhamdulillah saya sudah baca tulisan kek jami , sangat indah, tapi boleh saya mau menambahkan sedikit ttg tulisan di atas, yaitu pentingnya” keseimbangan dalam rumah tangga” karena itu sangat2 lah penting,
    utk sang suami boleh cari uang dengan berkerja keras, tapi jangan lupa anak2 dan istrinya juga, jangan sampai sang suami mencari uang utk anak istri utk memenuhi “lahiriah” tapi lupa sama “bathiniah”nya, sehingga nauzubillah bila akhirnya anak2 dan istri mencari bathiniahnya ke yg lain, sehingga sia2 semua pengorbanan sang suami yg judulnya cari uang utk anak istri, eh anak istri sudah tak ada utk dia lagi, jadi utk siapa “UANG”itu????? , dan utk sang istri juga harus mengerti seperti tulisan kek jami itu suami perlu memenuhi kebutuhan hidup keluarga.dia harus berusaha keras karena kehidupan yg semakin lama semakin kerAS ,utk mendapatkan yg halal, dan satu lagi
    utk sang isitri berdoalah agar suami kita di beri kemudahan kelancaran mencari rezeki yg halal, sehingga kalau sudah lancar ada waktu utk anak dan istrinya aamiin dan utk mencapai kebahagiaan itu tak perlu kaya ,tapi cukup sederhana,sehat dan selalu saling mengisi dan saling menghargaii satu sama lainnya

    1. Jamil Azzaini says:

      Setuju, maka judulnya sisi lain lelaki….heheheheh

    2. sepakat dengan kak azrur.. coba untuk seimbang.. jangan hanya mikirin nafkah.. karna tanggung jawab suami itu memimpin keluarga, ada anak dan istri yang harus di bimbing dengan kasih sayang, bukan cuma mencari nafkah

  4. fazar firmanshyah says:

    “Lelaki sejati memang tidak harus membela lelaki. Tetapi jangan kau abaikan pengorbanan lelaki hanya karena curhat seorang wanita yang kau anggap menderita.” Sarapan pagi yang membuat kita semakin bijak dalam menanggapi persoalan, khususnya curhatan. Biar tidak salah paham, saat jadi konsultan curhat nanti 😀

  5. Fauzi Zoo says:

    Iya kek… setuju, memang kita harus meilihat dari berbagai sudut pandang dalam menghadapi suatu masalah.
    Sebagai seorang laki-laki memang lebih banyak Dilemanya dalam menghadapai wanita.
    Tapi aku yakin jika kita ikhlas, insyaallah “wanita” kita juga akan bisa mengerti.
    mengenai pandangan orang lain terhadap kita… kita jadikan sebuah cermin kehidupan untuk terus memperbaiki diri.
    terimakasih kek…
    #TetapBerjuangKeluarDariZonaNyaman

  6. Lili Hamdiah says:

    Betul pak, I love my husband fillah, mencintai dan membuatkan suami mnjd ladang ibadah kita kpd Allah, menjadikan rumah penuh cinta dan kasih sayang, tidak terlalu menuntut suami, ttp menuntut diri sendiri utk bnyk memberikan perhatian, cinta dan kasih sayang pd suami, so far so greatfull

    1. Jamil Azzaini says:

      KerON. Ilmunya perlu dibagi 🙂

  7. mahfudz RZ says:

    Terimakasih kek… Sdh bela saya 🙂

    1. Jamil Azzaini says:

      Wah curcol ya 🙂

  8. lailia maghfiroh says:

    bagus bnget tlisan hr ni kek….. pengen jd istri yg lbh baex lg buat suami. mksh kek

    1. Jamil Azzaini says:

      Didoakan….

  9. Arfani says:

    betul sekali Kek, tulisan ini adalah kejadian nyata yg banyak kita temui sehari-hari. Semoga sang suami selalu bekerja keras untuk memberi nafkah lahir & bathin anak-anak & istrinya. Anak-anak & istri dapat menerima dengan bahagia. Saling membantu, menerima, menghormati, dan saling mengingatkan untuk kebaikan.

  10. muh taufiq says:

    Jamil… bet pak Jamil 🙂

  11. zainab_lila says:

    saatnya harus lebih menghormati setiap laki-laki dalam hidup kita, kembali introspeksi diri.

  12. mas shohib khan says:

    betul sekali….
    sesuai kenyataan bngt…
    wajib dibaca bagi yg pernah melahirkan dan yg pernah dilahirkan.

  13. Masbrow says:

    Cocok bgt bacaan pagi ini.

  14. harry says:

    Terkadang diam nya lelaki untuk mencoba membahagiakan orang sekitar nya, tp di nilai sebaliknya, BTW keren bacaan nya!

  15. ika says:

    makasiih kek. buat bekal nanti klo punya suami.
    doain ya kek semoga cepat bertemu dgn sang jodoh..
    aamiin

  16. iin nuraeni says:

    ,,,,Sy pun pernah demikian…dan kini berpikir balik,seandainya sy menjadi suami sy,betapa lelahnya dia…padahal hanya kita kaum hawa tumpuannya dirmh, semoga dia mencari nafkah diluar sana selalu dalam lindunganNya,,biar Dia yang menjaganya..dan Pulang kerumah dengan Selamat.

  17. irwan says:

    Sabar & Ikhlas untuk kebahagian bersama…

Leave a Reply

Your email address will not be published.