Seni Leadership: Menahan Amarah

Menahan-Amarah.jpg

Hari pertama puasa, saya kedatangan tamu, mas Bony Sholahuddin. Kami bertiga (saya, istri, mas Bony) berdiskusi tentang pengembangan trainer yang ada pada jejaring kami. Diskusi di teras rumah saya yang di Bogor itu berlangsung kurang lebih 3 jam. Seru, kami saling melengkapi dan saling mengisi serta saling mengkritisi konsep pengembangan trainer yang sudah dan hendak kita lakukan.

Usai diskusi, saya masuk ke ruang keluarga, dimana keluarga besar saya sedang berkumpul. Tiba-tiba, anak lelaki saya berkata “bapak diskusi atau marah-marah.” Anak saya yang pertama mengomentari ucapan adiknya “mungkin gaya bicara CEO memang harus begitu mas.” Saya pun tertegun dan berkomentar “masak sich marah-marah, bapak biasa saja koq.” Setelah itu saya masuk kamar merenungi proses diskusi yang kami jalani.

Ternyata memang ada moment-moment yang saya bersuara keras, lantang dan cenderung emosional khususnya bila ide yang saya lontarkan dilemahkan dan dikritisi. Astaghfirullah, jadi selama ini tanpa sadar ada beberapa moment yang saya sebenarnya marah tetapi saya tidak merasa marah, saya merasa seperti sedang diskusi dan bertukar pikiran. Sungguh egois saya ini.

Keesokan harinya, semua anggota keluarga termasuk tiga saudara yang tinggal di rumah Bogor saya kumpulkan. Saya menyampaikan permohonan maaf apabila selama ini ada yang merasa tersakiti oleh saya namun saya tidak menyadari. Saya khawatir, puasa saya hanya berbuah lapar dan dahaga tanpa berbuah pahala. Sebab salah satu tujuan puasa adalah menjadi manusia bertaqwa, dan salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah “mampu menahan amarah.”

Amarah itu, sangat merugikan. Selain bisa menimbulkan berbagai macam penyakit, marah juga menjauhkan kita dengan orang-orang terdekat kita, menutupi berbagai kebenaran dan kebaikan lainnya, tidak melahirkan solusi yang brilian dan mendalam.

Waspadalah saat kita rapat, diskusi dan ngobrol, apabila sudah terbetik kesombongan, ketidaksukaan, ketersinggungan dan emosi negatif lainnua maka yang terucap bisa menjadi bahasa amarah. Kita perlu terus berlatih mengelola emosi agar tidak berbuah amarah, apalagi apabila Anda mendapat amanah memimpin sebuah tim.
Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.