Semakin Bodoh

otakkita.jpg

Cara belajar yang sangat saya sukai adalah mendengar bukan membaca. Namun, tadi malam saya “dipaksa” membaca banyak literatur hingga lewat tengah malam. Ini terjadi setelah kemarin saya diskusi dengan mas Farid Poniman, penemu mesin kecerdasan STIFIn (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Instinct).

Kegiatan membaca mengajak saya berkenalan dengan buah pikiran pakar ilmu otak Dario Nardi, PhD dari Amerika Serikat dan buah pikiran Imam Al Ghozali tentang pembagian struktur otak. Ruaarrr biasa. Allahu Akbar!

Dari mereka saya menemukan banyak pelajaran. Misalnya, mengapa kita diminta untuk bersujud? Karena salah satu penyebab kesombongan dan kedurhakaan itu ternyata ada di bagian otak yang bernama Prefrontal [jidat]. Sekali-kali bagian prefrontal ini haris diletakkan di bumi [bersujud] agar kesombongan dan keangkuhan itu tidak semakin menjadi-jadi.

Bukan hanya itu, saya juga menemukan bahwa penyusunan visi hidup atau mimpi sebaiknya disesuaikan dengan bagian otak mana yang dominan. Ada lima pilihan pondasi dasar yang disarankan untuk menjadi acuan penyusunan visi atau mimpi hidup, yaitu yang berhubungan dengan tarif, gaji, prestasi, laba, dan rating.

Mereka yang dominan otak kiri (limbik) bawah, sering disebut orang Sensing, akan lebih baik bila visi atau mimpi hidupnya berkaitan dengan tarif (nilai) atau seberapa tinggi gaji yang akan didapat.

Sedangkan bagi orang-orang yang dominan otak kiri (neo cortek) atas, sering disebut orang Thinking, sebaiknya visi atau mimpi hidupnya diprioritaskan pada seberapa banyak dan tinggi prestasi yang ingin dihasilkan. Pada urutan kedua, orang Thinking sebaiknya memilih visi atau mimpi hidup yang berkaitan dengan tarif.

Adapun orang-orang yang kreatif [dominan otak kanan-atas] alias Intuiting, disarankan visi atau mimpi hidupnya berkaitan dengan laba di urutan pertama. Jika ia pebisnis maka sebaiknya memberikan value added pada setiap bisnis yang ditekuninya. Namun, apabila dia bukan pebisnis maka pilihan yang disarankan berkaitan dengan prestasi yang hendak ditorehkan.

Bagi mereka yang dominan otaknya kanan-bawah atau Feeling, visi atau mimpi yang disarankan harus berkaitan dengan rating (popularitas). Sementara itu, orang yang dominan otak tengahnya (Instinct) sangat disarankan visi atau mimpi hidupnya berkaitan dengan gaji atau rating (popularitas) yang ingin diraihnya.

Menelusuri karya-karya para ahli tersebut membuat saya terperangah. Betapa banyak ilmu mereka yang berkualitas yang bisa diterapkan dalam kehidupan. Dan, lebih dari itu, saya semakin menyadari bahwa saya semakin bodoh…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

14 thoughts on “Semakin Bodoh”

  1. Saya juga pengen tau ILMU-nya Pak Jamiiiilll…

    merasa Bodoh bahwa Ilmu kita belum seberapa,
    merasa Bodoh bahwa kita harus menambah ILMU
    merasa Bodoh agar kita tak jumawa
    merasa Bodoh agar Semangat belajar, Semangat Berbagai kebaikan

    Semangat SUKSESMULIA Pak Jamil!
    😀

  2. Toss dulu kek.. saya Feeling Introvert..
    Hehe..
    *salim*
    Alhamdulillah tidak ada kata terlambat utk belajar. Dgn mengetahui potensi diri ini, hidup terasa lebih bergairah..

    1. Mesin Kecerdasannya sama dengan saya 🙂

  3. ORA DADI OPO says:

    mantap kek asupan gizi pagi ini. 🙂

    SukrON atas sharing ilmunya…

    dapat lagi tambahan lagi tentang Intuiting 😀

    Sekali lagi sukrON kakek 🙂

  4. Semakin banyak belajar semakin sadar banyak hal yang tidak kita ketahui. Setuju mas Jamil, tapi tidak sebaliknya, semakin sedikit belajar semakin sedikit yang tidak kita ketahui. Thanks for sharing my teacher

  5. EventJogja says:

    saya pun merasa begitu, semakin bodoh, karna belum tau banyak juga ttg STIFIn, makasih sharingnya, semoga ke depan saya bisa lbh banyak belajar lagi 🙂

  6. Ali Akbar says:

    Nikmatnya belajar bikin kita memang semakin bodoh sehingga malu jika punya kesombongan yang sedikit.

    Terima Kasih, Kek 😉

    1. Orang pinter dan kaya saja gak boleh sombong apalagi yang masih miskin dan oon 🙂

  7. Semakin kita banyak mencari ilmu, semakin berasa kita semakin kekurangan. Seperti ilmu padi katanya “Semakin berisi semakin merunduk”. Makanya sabda Rasulloh “Cari ilmu ilmu ga ada hentinya sampai liang lahat”..

  8. Mulyadi says:

    terimakasih atas artikelnya, kek.. semoga bisa belajar dan tidak lupa dari, kek.. 😀

  9. Edi Wibowo says:

    Semakin kita menyelami ilmu yang kita pilih, semakian kita merasa haus.
    Tp yang penting tetap rendah hati..Ituhhh

    #SalamSenyum

  10. maserha says:

    wah kek jamil makin bodoh, kalo gitu saya siap ngadu ilmu kesaktiaan.. ciaaat

  11. ade amel says:

    Bagaimana caranya kita mengetahui kecenderungan otak mengarah ke arah otak kiri atau kanan kek?

Leave a Reply

Your email address will not be published.