Sedekah Pun Dilogikakan

Beni  BadaruzamanMengajarkan akidah terhadap anak #Thinking memang membutuhkan energi, pikiran, kreativitas dan materi yang lebih besar agar masuk daya nalarnya.

Saya punya misi agar sejak kecil, Haikal mempunyai sense of sedekah yang kuat dan tertanan dalam daya nalarnya.

Setiap jum’at saya selalu mengajak Haikal untuk melakukan sholat Jum’at baik itu di lingkungan Rumah ataupun dilingkungan sekolahnya.

Kami biasakan duduk di barisan terdepan, cukup memberi motivasi kepada Haikal, bahwa seorang pemimpin itu harus memberi contoh untuk selalu berdiri di shof terdepan. Kalo ngga terdepan kita bukan sebagai pemimpin!. Cukup itu saja dulu saya tanamkan untuk memotivasi dia untuk datang lebih awal dan duduk pada barisan pertama disetiap sholat. Dan ini sudah menjadi kebiasaan dia. Di setiap waktu sholat berjamaahnya. Saya masih belum perlu memberi tahu kepada dia, bahwa sholat pada shof pertama itu akan mendapatkan pahala sebesar sapi, khawatir analisanya terlalu dalam terhadap sapinya, bukan keutamaan sholat paling depannya. He… he ….

Pelajaran selanjutnya adalah tentang menanamkan kebiasaan bersedekah.

Pada suatu jum’at, saya mengeluarkan dompet dan memperlihatkan ke Haikal.

“Haikal lihat dompet Bapak, mana uang yang paling besar?”

Didalam dompet saya sengaja saya siapkan pecahan seribuan, lima ribuan sepuluh ribuan, dua pulu ribuan dan lima puluh ribuan.

“Lima puluh ribu pak”

“Nah, kalo untuk sedekah, menurut haikal bagusnya yang mana?”

“Seribu aja pak!, orang-orang juga seribu pak”

Sambil tersenyum bijak gaya feeling saya pun berpetuah

“De, kata guru ngaji dede kan bahwa sedekah itu harus ngasih yang terbaik dari yang kita punya, nah di dompet bapak mana yang paling besar ?”

“Lima puluh ribu pak, tapi ntar uang bapaknya abis dong!”

“Dede Haikal harus percaya bahwa Allah akan menggantinya jadi sepuluh kali lipat”

“Iya Pak?” bertanya penasaran

“Ok, nanti besok atau beberapa hari lagi lihat dompet bapak, berapa isinya”

Maka hampir tiap hari Haikal melihat berapa isi dompet saya. Dan hampir tiap hari wajah kecewa pun muncul.

“Katanya Allah akan ganti 10 kali lipat pak, mana ko belum di ganti?”

“Sebentar lagi, kita harus sabar dan berusaha, kita coba sedekah lagiyah!, nah besok bapak ada kerjaan lumayan nih de”

Esoknya saya siasati dengan mengisi 15 lembar uang lima puluh ribuan. Begitu haikal melihat isi dompet saya pada pagi harinya, Haikal pun berteriak memanggil saya.

“Pak, Allah udah ganti uang bapak yang disedekahin jumat kemarin!”

“Iya kan de! Allah pasti memenuhi janjinya!, bahkan lebih kan de!”

“Iya pak!”

“Kalo gitu uang jajan dede mau dede sedekahin sebagian, supaya uang jajan dede nambah”

He… he…. Namanya juga anak-anak.

Sejak saat itu sedekah menjadi kebiasaan Haikal, di nalarnya tercetak Berilah yang terbaik dari yang kita punya.

Beni Badaruzaman

Bagikan:

9 thoughts on “Sedekah Pun Dilogikakan”

  1. Ivan says:

    Bagus ini pak, inspirasi utk mengajarkan anak saya. Thanks for sharing…

    1. Beni Badaruzaman says:

      Memang inpirasi itu bertebaran dimana-mana termasuk anak. Thx mas Ivan

  2. Ora Dadi Opo says:

    Mantap bang analoginya… (y)

  3. mhd husni tarigan says:

    Mantap pak….

  4. Ayah Nafis says:

    inspiring !…trims pak jamil.. inspirasi bagus utk sy & anak sy.

  5. Ayah Nafis says:

    eh maaf P. Beni Badaruzaman maksudnya… 🙂 trims

    1. Beni Badaruzaman says:

      Hehe … salam kenal 🙂 Suda Punya bukunya?

  6. bikarto says:

    sederhana dan masuk nalar anak….siapin tamhan uang jajannya ya Pak 10X lipat….hehehe ….Inspiring

    1. Beni Badaruzaman says:

      Begitulah duni anak, kita tau cara kerja otak anak, maka kita masuk dengan cara bekerja otaknya. Tidak memaksakan cara kerja kita yang belum tentu sama dgn kapasitas dan kecerdasan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published.