Saya Tahu

tahu.jpg

Apa yang terjadi saat Anda ingin menjelaskan sesuatu lawan bicara Anda mengatakan, “Saya tahu.” Bila itu terjadi pada saya, maka saya tidak melanjutkan cerita. Saya berganti dengan topik lain. Dan menurut pengamatan saya, pernyataa “saya tahu” merupakan penghalang besar seseorang menjadi lebih tahu.

Saya sekarang berusaha menghindari kata “saya tahu” saat ada orang bercerita atau berbicara. Walau secara umum saya sudah pernah tahu ceritanya, saya akan mengatakan “teruskan” atau “lanjutkan.” Apa yang semula saya anggap “saya tahu” saat diceritakan lengkap ternyata berbeda dengan apa yang saya pahami. Atau bila ternyata sama, saya selalu dapat sesuatu yang baru.

Orang-orang yang sering berkata “saya tahu” pada hakikatnya “tidak tahu” atau “kurang tahu” karena yang ia pahami hanya dari sudut pandang pribadinya saja. Orang Jawa bilang wawasannya “cupet” alias sempit.

Oleh karena itu, penyebab kebodohan yang utama adalah pernyataan “saya tahu”. Karena pernyataan ini hakikatnya membuat Anda tidak pernah belajar apapun yang baru. Anda tidak pernah berkembang, sayangnya Anda merasa berkembang. Anda pun menjadi tidak tahu banyak cara baru yang bisa meningkatkan kualitas hidup Anda.

Pernyataan “saya tahu” menjadikan seseorang sok tahu padahal tidak tahu. Ilmu dan informasinya masa lalu atau tidak up to date, tidak lengkap tetapi ia merasa sudah paham semuanya. Ibarat cerita orang buta memegang gajah. Orang yang memegang belalainya tentu ceritanya berbeda dengan yang memegang badannya. Bila ia sok tahu maka pemahamannya tentang gajah tentu sangat keliru.

Hindari pernyataan “saya tahu” tirulah sikap para sahabat Nabi. Bila mereka ditanya nabi, jawabnya, “Allah dan Rosul-Nya yang lebih tahu.” Dalam konteks saat ini, biarkanlah orang lain menyampaikan informasi, ide atau gagasannya sampai tuntas. Tak perlu kita memotong dan menghentikannya dengan berkata “saya tahu”. Setuju?

SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

11 thoughts on “Saya Tahu”

  1. heri smile says:

    Setujuuu…kek

  2. Tetty Hermawati says:

    setujuuuu..

  3. Ali samsudin says:

    ayo teruskan kek, saya suka membacanya

    1. Jamil Azzaini says:

      Ayo teruskan sendiri….hehehe

  4. Edy Toer says:

    Sangat setuju kek.. Alloh menyatakan bahwa ciri orang yang berakal adalah yang mau mendengarkan perkataan orang lain…..”yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (QS Az Zumar:18) jadi orang yang terbiasa memotong perkataan orang lain dengan mengatakan “saya sudah tahu” pasti ada kesombongan dalam dirinya.

    1. Jamil Azzaini says:

      Terima kasih tambahan ilmunya…

  5. Salman says:

    Setuju. Teruskan, lanjutkan Pak.
    Terima kasih…

  6. Beach Girl says:

    Saya juga seperti pak jamil,saya tetap mendengarkan… Ada juga Yng menceritakan berulang-ulang,tapi tetap saya dengarkan juga…(Jadi pendengar yang baik) 😀

    1. Jamil Azzaini says:

      He3x good…good…

  7. fadil says:

    Masya Allah ternyata itu yang membuat pengetahuan menjadi sempitt,,
    mantep!! Teruskan kek “Semangat”

  8. mahfudz RZ says:

    Tapi kenapa ya kek, kalau ada orang yg di ‘bawah’ kita yg menjelaskan sesuatu pekerjaan, menjelaskan sesuatu ilmu, terkadang risih dan panas kuping, walaupun itu benar pernyataannya apalagi kalau salah, agak risih, gmn kek mengatasinya, kalau yg ngasih tahu bawahan?

Leave a Reply

Your email address will not be published.