Satria Becak Putih

Tanggal 18 sampai dengan 20 April yang lalu saya mengikuti kegiatan TBnC yang sangat luar biasa. Ilmu yang saya dapatkan betul-betul segar dan sangat dahsyat melejitkan kemampuan untuk menyampaikan pesan pada audience, terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Gurunda Kek Jamil dan kakak-kakak seperguruan Fasilitator yang gak kalah kerennya.

Belum lagi temen-temen pesertanya dahsyat-dahsyat, kebanyakan sudah punya jam terbang sebagai trainer dan hebatnya lagi  mau mengosongkan wadah nya untuk menerima ilmu-ilmu dahsyat dan juga berbagi ilmu serta pengalaman selama TBnC.

Saya sendiri merasa mendapatkan energi baru sepulang dari TBnC karena mendapat masukan-masukan yang sangat berharga khususnya di hari terakhir ada mas Indrawan Nugraha yang komentarnya dahsyat mak jleb. Saya baru tahu kalo jadi trainer bukan sekedar pintar ngomong dan punya sedikit materi saja, tapi juga harus berkarakter, punya pesan yang bisa menginspirasi audience dan yang terpenting orisinal.

Selama berkumpul tiga hari selain ilmu tingkat dewa yang diberikan juga banyak canda dan tawa yang membuat suasana makin akrab, mulai dari guyonan cabe rawit, cabe keriting, ditambah satu-satunya group wanita yang selalu bertiak “aku kan jadi juaranya” dengan gaya yang khas, sampai-sampai semua peserta ikut gerakan itu saat mereka meneriakan yel-yelnya belum lagi ada yang pake istilah ceng, ceng, ceng. Maksudnya kuenceng men temen.

Tapi yang paling tidak bisa saya lupakan kisah becak putih from Cirebon, walaupun dah dicoret dari daftar calon mantu kek Jamil tetap sobat yang satu ini yakin, kalo satria becak putih jauh lebih keren dari satria kuda putih.

Saya jadi teringat pengalaman waktu SMP, pertama kali naksir seorang gadis rasanya ser-ser gimana gitu, sebenernya wanita idaman saya waktu itu “hampir” menerima cinta saya, Cuma karena satu hal akhirnya cinta pertama saya pun kandas.

Begini ceritanya, jaman kami sekolah dulu salah satu kebanggaan anak-anak abege yang baru jadian adalah naik becak bareng pulang dari sekolah, hal itupun saya lakukan, waktu saya menyetop becak. Tentunya sebagai sorang laki-laki yang “gentlemen” mempersilahkan pujaan hati untuk naik duluan, persoalan terjadi, setelah si dia naik saya pun ikut naik, dan ternyata tidak muat, saya coba dorong badan kebelakang malah gebetan saya makin kejepit, apa daya akhirnya gadis pujaan saya pulang sendirian naik becak dan saya jalan kaki pulang ke rumah sambil menyesali diri kenapa gak minta ke abang becak biar saya yang gowes becak itu kerumah nya cuma sayang gak kenal sama abangnya

Seandainya saat itu saya sudah sempat bertemu dengan satria becak putih from Cirebon bisa jadi masalah saya teratasi atau malah kita bisa giliran jadi satria becak putih.

Selamat mempraktekan ilmu dahsyat hasil godokan TBnC buat sahabatku semua, dan memberikan epos bagi sebanyak mungkin masyarakat di Indonesia maupun mancanegara. Amin…

Salam Wisata Cerdas
Mukhlis Abdillah

Bagikan:

3 thoughts on “Satria Becak Putih”

  1. ORA DADI OPO says:

    Aamiin Aamiin Aamiin 🙂

  2. Haha.. pengalamannya mengharukan sekali, Mas..
    Mudah2n saya bisa nyusul menyambung ilmu WBT ke TnBC.. biar makin berpengaruh..

  3. lucuuuu abiizz…kerON mas bro….tmbh kreatif aja tulisannya mas bro….

    salam SuksesMulia

Leave a Reply

Your email address will not be published.