Salah Siapa?

Dini SumaryantiDr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi, menceritakan pada saat Gandhi berusia 16 tahun, ia tinggal di tengah perkebunan tebu yang terpencil, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan.

Suatu saat, ayahnya meminta ia untuk mengantarkan ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Ia diminta memperbaiki mobil di bengkel. “Ayah tunggu kamu di sini jam 5 sore.” Segera saja ia menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan kemudian pergi ke bioskop. Ternyata ia lupa waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung ia berlari menuju bengkel mobil. Saat itu sudah hampir pukul 18.00!

“Kenapa kau terlambat?”, tanya ayahnya. Ia menjawab, “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.” Tanpa sepengetahuannya, sang ayah telah menelepon bengkel mobil itu dan tahu kalau ia berbohong.

Lalu ayahnya berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkauberbohong, tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

Ia tidak bisa meninggalkan sang ayah, maka selama lima setengah jam, ia mengendarai mobil pelan-pelan di belakangnya, melihat penderitaan yang dialaminya hanya karena kebohongan bodoh yang ia lakukan. Sejak itu ia tidak pernah berbohong lagi.

Bagaimana dengan kita? Apa yang kita lakukan jika ananda melakukan kesalahan?

Dini Sumaryanti

Bagikan:

2 thoughts on “Salah Siapa?”

  1. Terharu saya bacanya,, saya pernah juga pernah membohongi orang tua, dan nggak bisa bayangkan jika mereka berjalan sebegitu jauhnya,,

  2. EventJogja says:

    terenyuh baca ceritanya, bahkan utk sebuah hal yg jaman sekarang bisa dibilang sbg “kesalahan kecil” sampai harus melakukan hal itu demi mendidik

Leave a Reply

Your email address will not be published.