Salah Saya

Ade Mulya Berita Satu

Ade Mulya Berita Satu

Dalam bersosialisasi, terkadang ada sejumlah orang yang “tidak dianggap”, atau dalam istilah saya “antara ada dan tiada”. Dialah yg duduk diantara 4 orang lainnya di sebuah acara makan malam, namun entah kenapa tidak ada satupun yang mempedulikan kehadirannya. Mengarahkan pandangan mata pun tidak.

Dialah yg tenggelam dalam keriuhan meeting, dialah yang -tak tau kenapa- tidak pernah dianggap capable meski dia pintar. Dialah yang tampak inferior diantara pembicara lainnya. Dialah si “antara ada dan tiada”.

Atau jangan jangan dia adalah kita??…. yang jelas..saya pernah mengalaminya.

Suatu sore di hari senin. Saya bergegas menuju ruang redaksi, yang dalam istilah kami, kami sebut News Room. Seperti biasa, saya tersenyum dan menyapa teman-teman jurnalis – yang menengok ke arah saya pun tidak – maklum, mereka sedang sibuk karena program nya segera tayang dalam beberapa menit kedepan. Namun suasana santai tiba-tiba berubah ketika sebuah tangan mendarat di pundak saya…lebih mengejutkan lagi ketika saya membalikkan badan. Ya..dia pemimpin redaksi kami, jurnalis senior, Don Bosco Selamun. Dia pun membuka pembicaraan “ade..saya liat dialog politik kamu sabtu sore…kamu keliatan bodoh”. Sontak air muka saya berubah. Saya fikir semua orang suka sama dialog saya. Dengan suara parau saya pun bertanya “iya ya bang? Kasih masukan dong bang…” Dia pun menjawab sambil berlalu…”kamu itu kurang Otoritatif”.

Saya pun termenung, dan segera menuju library untuk mengcopy tayangan program yang dimaksud. Frame demi frame saya perhatikan dalam tayangan berdurasi satu jam itu. Betul, di awal opening saja dua nara sumber yang politikus itu seolah tidak peduli kontak mata dengan saya. Ranah politik memang bukan ranah saya (selama ini saya menjadi wartawan ekonomi), tapi masalahnya saya tidak akan maju jika saya berhenti belajar.

Buat saya, layar adalah cerminan drama kehidupan. Jika di layar saja narasumber tidak tertarik dengan pembicaraan saya, apa kabar dengan pemirsa?. Profesi ini membuat saya bertemu orang yang berbeda setiap harinya. Kemampuan adaptasi yang tinggi bahkan mengendalikan situasi menjadi makanan sehari-hari.

Jika program “ngemeng-ngemeng” ini tidak disukai oleh audience dan bahkan pembicara lain, berarti ini SALAH SAYA. Saya kan memang dibayar untuk ini…

Lalu, apa itu Otoritatif?
Istilah ini bukan merujuk pada istilah otoriter. Istilah ini merujuk pada kemampuan seseorang untuk mengendalikan situasi. Dia duduk dengan penuh wibawa, terkesan penuh dengan pengalaman, punya kredibilitas, penuh pengetahuan. Dia yang tidak diremehkan oleh pembicara lain. Bahkan, ketika panggung telah diberikan kepadanya, maka pembicara punya kekuasaan penuh, termasuk pada seluruh tim produksi yang terkadang malah menjadi distraktor.

Di dunia “ngemeng-ngemeng” Penampilan dan “penampakan” memang penting, tapi yang ditunggu oleh audience dan bahkan pembicara lain ternyata bukanlah semata penampilan fisik. Karena kami bukan pemain sinetron Ganteng Ganteng Srigala..hehe.

Menjadi otoritatif memang butuh proses. Tapi yang biasa kami lakukan adalah datang jauh lebih awal untuk bisa memahami isi pembicaraan, melakukan riset mendalam. Itu sih standar ya. Yang agak rumit adalah diskusi dengan tim produksi dan membuat mereka memberi kepercayaan penuh kepada kita sebagai pembicara alias bintang nya. Tidak banyak yang tahu, ada sekitar 20 orang yang terlibat secara simultan dalam sebuah program LIVE. Salah focus, kita malah mendengar kebisingan tim dalam membisikan pertanyaan tambahan alias pertanyaan titipan. Kalau tidak otoritatif, kita akan kehilangan panggung dan akan jadi pembicara yang tampak bingung alias gagap…kalah aziz gagap,, :). Percayalah..proses ini butuh energy ekstra.

Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari bisa dipraktekan ketika kita memberikan materi di hadapan audience. Ketika kita akan mempresentasikan business plan di hadapan investor, atau bahkan jadi narasumber di sebuah acara.

Jadilah Lively
Istilah ini merujuk pada pembawaan seseorang yang easy going, aktif bicara, body language yang ekspresif, mudah bergaul dan hangat. Beraktinglah, jadilah orang yang LIVELY, keluarkan ekspresi tapi jangan berlebihan alias lebay. Kamera adalah benda yang sangat sensitif menangkap mimik secara detail. Jika ada yang salah dengan kerlingan mata, jemari yang gemetar, bahkan suara yang parau..habislah kita!

kita menjadi menarik ketika kita bisa memainkan peran dalam 4 bidang secara bergantian dalam sekali tampil, untuk memenuhi tujuan komunikasi sebagai berikut:

1. menjadi orang yang menyampaikan informasi.

2. menjadi orang yang menghibur

3. menjadi orang yang mendidik

4. menjadi orang yang mempengaruhi.

Ajukan pernyataan maupun pertanyaan yang FLASH
Ketika Bicara di media massa, atau di depan audience, kesan pertama akan sangat berperan. Jangan sampai kehilangan moment. Bahasa menjadi sangat penting. Ini beberapa pertanyaan yang kemudian sengaja dirubah agar “menghentak”:

“Pak, apa yang terjadi dengan PPP? Kok kisruh sih?” (pembicara menjawab dengan datar)

Coba bedakan dengan pertanyaan ini:
“pak, ini jangan-jangan singkatan PPP jadi Partai Pecat Pecatan nih, gimana pak?”

Satu pertanyaan “nyeleneh” ini direspon dengan penuh gelak tawa oleh sang politikus, pengamat politik, bahkan teman teman di studio. Pertanyaan yang tak hanya kreatif di tataran text, konteks, bahkan interteks. Sebuah pertanyaan singkat yang menyingkap sejarah panjang sang partai dengan kulturnya.

Satu pertanyaan singkat yang hadir setelah riset, dan diskusi dengan para jurnalis senior.

Jadilah pahlawan untuk audience
Pembicara yang mengena di hati adalah dia yang mewakili rasa penasaran banyak orang akan suatu hal. Pembicara yang bisa menyesuaikan bahasa nya dengan bahasa audience. Menyamakan frekuensi nya dengan frekuensi audience. Menjawab kebutuhan mendasar dari audience. Bukan menjadi sok pintar, sok kritis, menyudutkan lawan bicara, bertanya asal-asalan, memotong pembicaraan atau bahkan mengeluarkan kalimat teknis dan asing supaya terkesan keren. Bergeraklah, bicaralah, dan komunikasikanlah pesan yang langsung membangkitkan sekaligus menjawab kegalauan audience.

Dalam suatu kapasitas, menjadi pembicara telah meningkatkan nilai kita sebagai manusia, sebagai wirausaha, sebagai professional. Menjadi pembicara adalah menjadi manusia pada level berikutnya. Bagaimana tidak, industry semacam ini telah “memaksa” kita untuk mensejajarkan diri dengan orang-orang besar. Bersimpuh sama rendah dengan kaum papa. Duduk berhadap-hadapan dengan calon presiden, Direktur utama, Menteri, bahkan sesosok gadis tanpa lengan yang bisa saja membuat kita menangis.

Jika khalayak tak mau menyimak anda, mahasiswa malah suntuk, peserta training merasa tak dapat apa apa, atau bahkan pemirsa mengubah saluran dengan remotenya…salah siapa?

Bisa jadi salah saya, salah kita, salah anda!!!

Ade Mulya

Bagikan:

One thought on “Salah Saya”

  1. EventJogja.Com says:

    keren, langsung berdasarkan pengalaman nyata, semoga banyak calon pembawa berita atau jurnalis tv yg menyimak artikel ini 🙂
    salam…

Leave a Reply

Your email address will not be published.