Saat Dirinya Tak Lagi Ada

Surya KresnandaKehilangan seseorang?
Hal ini seringkali menjadi kesedihan yang sangat mendalam. Tidak terkecuali saat seorang pemimpin kehilangan anggota tim andalannya. Tim menjadi timpang, seperti burung yang kehilangan satu sayap. Apalagi saat pemimpin yang tak ada, menjadi seekor burung tanpa kepala yang tak mampu lagi hidup. Kondisi ini seakan menunjukkan bahwa tim tersebut solid karena saling tak tergantikan. Apakah benar begitu?

Pertama-tama, perlu kita pahami mengapa sebuah tim diperlukan. Adanya tim adalah sebuah kebutuhan yang timbul karena ketidakmampuan individu untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan besar secara sendiri. Di dalam tim, terjadi proses saling bantu. Namun ada satu lagi fungsi tim yang sering terlupa, yaitu saling mengisi.

Sebuah tim membutuhkan sinergi. Sinergi terjadi saat ada saling memberi dan menerima, menciptakan saling ketergantungan yang menimbulkan rasa saling membutuhkan. Kondisi ini menimbulkan arus energi saling mengisi kelebihan dan kekurangan, termasuk mengisi kekosongan posisi. Inilah tim.

Maka, sebuah tim betul-betul berjalan sebagai tim, justru kala tetap jalan saat ada bagian yang hilang. Ketiadaan sebagian fungsi dalam tim akan di-backup oleh bagian fungsi yang lainnya, meski dengan resiko beban kerja dua kali lipat atau lebih. Itulah tim. Bahkan saat pemimpin gugur di medan perang, sudah ada yang siap menggantikan seperti mudahnya mengganti imam shalat saat imam sebelumnya batal.

Kunci agar tim dapat saling mengisi adalah, senantiasa mencetak pemimpin-pemimpin baru. Pemimpin-pemimpin yang siap menggantikan, dan pemimpin yang siap menghadapi perubahan. Berikut langkah pemimpin bisa membangun tim solid:
1. Dimulai dari mindset pemimpin bahwa setiap anggota tim adalah pemimpin, dan sudah seharusnya dibentuk menjadi pemimpin.
2. Memberikan contoh bagaimana menjadi seorang pemimpin bagi diri mereka, melalui panutan sehari-hari.
3. Mulai mendelegasikan tugas yang semakin ditingkatkan, dan percayakan tim untuk mengemban amanah besar.
4. Selalu menjadi guru dan pendamping tim dalam mengemban amanah-amanah besar. Beri kesempatan untuk salah dan belajar dari kesalahan sambil bantu memperbaiki.
5. Akui kepemimpinan mereka melalui perayaan-perayaan kecil atas keberhasilan mereka mencapai level kepemimpinan yang lebih tinggi.

Selamat mencetak pemimpin baru, karena pemimpin sukses adalah pemimpin yang mampu melahirkan pemimpin baru dengan kualitas minimal sama dengan dirinya.

Salam Perubahan wahai para Pemimpin.

Surya Kresnanda
Leadership Coach

Bagikan:

3 thoughts on “Saat Dirinya Tak Lagi Ada”

  1. Tulisan kang Surya makin keren euy..

  2. 5 points nya saya catet kang Surya. Cakep…secakep topinya hehehe.

  3. surya says:

    Baru dibaca. Alhamdulillah. Makasih mas andy. Makasih bu sofie. Makasih mas jamil. Bimbinglah aku utk terus berkembang

Leave a Reply

Your email address will not be published.