Rumah Masa Depan

rumah.jpg

Anak kedua saya, Asa (20 tahun), kini menekuni bisnis. Salah satu yang ditekuninya adalah bisnis properti di bawah bendera Ankara Development. Ketika ia menunjukkan kepada saya disain rumah yang hendak dibangun di daerah Bogor, saya terkesima. Begitu indah, begitu apik, begitu menarik. Model rumah yang selama ini saya impikan ternyata dibangun oleh anak saya, walau rumah itu dijual untuk orang lain bukan untuk saya, tetapi saya bahagia.

Entah mengapa akhirnya saya berkirim WhatsApp kepada teman saya yang punya puluhan rumah di berbagai kota. Setelah ngobrol ke sana kemari akhirnya saya menulis, “Enak ya punya banyak rumah?” Jawabannya mengejutkan saya, “Tidak mas. Rumah-rumah itu sumber perpecahan keluarga kami. Rumah kita yang sejati adalah rumah berukuran 2 x 1 meter alias kuburan, rumah masa depan.”

Di rumah tersebut tak ada listrik, tak ada AC, tak ada jendela, kita seorang diri. Teman kita hanyalah amal sholeh dan kebaikan. Apabila selama hidup di dunia kita merawat amal sholeh dengan baik, semangat dan kesungguhan maka ia akan menemani kita dengan suka cita. Sebaliknya, apabila selama hidup kita mengabaikannya maka ia pun akan membiarkan kita dalam derita dan kesendirian. Sungguh nelangsa.

Sekaya apapun kita, sehebat apapun kita, seluas apapun rumah kita di dunia pada ujungnya rumah masa depan kita sama 2 x 1. Ternyata sedekat apapun sahabat kita, seloyal apapun karyawan kita, setinggi apapun orang-orang yang mencintai kita, mereka tak bisa masuk ke rumah itu. Ia hanya bisa mengantar ke “pintu rumah” tapi tak bisa ikut bercengkerama di dalam rumah itu. Sahabat kita ketika itu hanya amal sholeh. Apabila kita banyak beramal sholeh maka sahabat kita banyak. Ukuran rumah hanya 2 x 1 tapi bisa terasa seluas dunia dan isinya.

Oleh karena itu, tak baik kita menyibukkan memperbesar dan memperindah rumah kita di dunia dan melupakan menyiapkan teman untuk dibawa ke rumah masa depan. Untuk itulah pesan saya kepada anak saya, “Bangunlah rumah-rumah di bisnismu dengan kualitas terbaik dan disain terindah tapi jangan lupakan agar para penghuninya selalu menyiapkan teman untuk kelak dibawa ke rumah masa depan.”

Dan saya senang karena anak saya menerjemahkan pesan saya dengan selalu membangun rumah tahfidz yang bisa melahirkan orang hafal Al Qur’an dalam 8 bulan di setiap perumahan yang hendak dibangunnya. Siapkanlah rumah yang nyaman di dunia dan teruslah menyibukkan diri mencari banyak teman untuk dibawa ke rumah masa depan.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

9 thoughts on “Rumah Masa Depan”

  1. Senyum Syukur says:

    subhanallah.. sukses terus buat Mas Asa.. Keren dengan rumah tahfidznya 🙂

    1. Jamil Azzaini says:

      Doakan ya mas

  2. Ora Dadi Opo says:

    Porsi bekal unt rmh saat ini & rmh masa depan harus sama² seimbang & optimal ya kek pastinya_!?

    1. Jamil Azzaini says:

      Yes… Akur

  3. Mira Marselina says:

    MasyaAllah keren rumah tahfidznya, SuksesMulia buat Asa 🙂

    1. Jamil Azzaini says:

      Doakan ya mbak Mira

  4. Arrum W says:

    Muda, kreatif, cerdas, sholeh. Orang tua manapun pasti akan bangga. Sukses mulia ya Mas Asa. Terima kasih Pak Jamil, sudah mengingatkan kembali pada rumah ‘masa depan’.

    1. Jamil Azzaini says:

      Sama-sama, doakan kami ya

  5. Syaifur Amuro says:

    Moga Allah mudah kan langkah mas Asa menjadi developer. Dan bisnisnya bebas dari RiBA. Insya Allah rumah di dunia & rumah masa depan menjadi LAPANG. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.