Resign yang Benar

isto.jpg
Keterangan foto (dari atas ke bawah): Saya bersama pak Isto. Di kebun klengkeng pak Isto di Muntilan, Jogjakarta. Pak Isto dan klengkengnya,

Keterangan foto (dari atas ke bawah): Saya bersama pak Isto. Pak Isto dan klengkengnya, Di kebun klengkeng pak Isto di Muntilan, Jogjakarta.

Banyak orang yang resign secara emosional. Gara-gara ikut seminar atau pelatihan bisnis langsung nekat mengajukan surat pengunduran diri. Atau gara-gara berbeda pendapat dengan teman-teman dan atasannya, ia merasa tak nyaman dan kemudian resign. Ia emosional, lari dari masalah dan tak punya nyali untuk berbeda pendapat.

Yang lebih parah, passion sering menjadi kambing hitam. Diberi pekerjaan yang menantang untuk naik kelas dan dia harus bersusah payah belajar hal yang baru namun kemudian merasa bukan passion. Sebenarnya, ini namanya pemalas. Atau jenuh karena rutinitas dan tak mampu mengelola waktu dengan baik kemudian ia mengatakan, “Menjadi karyawan/pegawai bukanlah passion saya.”

Resign bukan asal resign. Resign itu perlu strategi dan perencanaan yang benar. Salah satu pelaku resign yang benar menurut saya adalah bapak Isto Suwarno. Sarjana teknik yang pernah bekerja di sebuah BUMN ini, kini menjadi ahli kelengkeng. Sebelum resign, pak Isto sudah punya bisnis ini dengan pasar di seluruh Indonesia.

Ketika itu, ia mengamati banyak pensiunan yang hidupnya merana saat tua. Ia tak mau hal itu menimpa dirinya. Ia memutuskan harus punya bisnis. Dan kemudian ia mempelajari bisnis kelengkeng, termasuk rela berguru ke Thailand. Di sela-sela kesibukannya sebagai pegawai ia terus belajar bisnis ini dan mempraktekkannya. Setelah ia kuasai teknik budidaya dan pasarnya, ia kemudian mengajukan pensiun dini kepada pimpinannya.

Awalnya, pengajuannya ditolak karena sang pimpinan khawatir dengan kehidupan pak Isto yang selama ini sudah nyaman. Namun pak Isto bisa meyakinkan sang pimpinan, bahkan pimpinannya terkejut atas perkembangan bisnis yang dimiliki pak Isto saat sang pimpinannya berkunjung ke lokasi bisnisnya. Ternyata, berbisnis itu hasilnya lebih tinggi dari penghasilan direktur BUMN sekalipun.

Berbekal ketekunan, relasi dan pengalaman pak Isto saat bekerja di BUMN, serta kepasrahannya kepada Sang Maha. Bisnis pak Isto terus berkibar. Bahkan kini ia mengembangkan varietas baru Itoh Super di kebun kelengkengnya di Magelang.

Rumahnya yang berdekatan dengan candi Prambanan di Jogja pun dikelilingi oleh pohon kelengkeng. Ia pun terus mengembangkan produk-produk pendukung yang bisa meningkatkan produktifitas kelengkeng. Tanaman kelengkeng lokal yang semula tak berbuah bisa kemudian berbuah sangat lebat dengan sentuhan tangan pak Isto. Bukan hanya itu, ia pun bisa mengatur panen setiap pohon kelengkeng.

Pak Isto sudah melakukan resign dengan benar. Kini ia menikmati masa pensiun dininya dengan berbisnis kelengkeng. Perasaan bahagia muncul bila kelengkeng berbuah lebat dan sesuai harapan. Begitu pula kebahagiaan membuncah saat ada orang yang pernah membeli bibitnya mengabarkan bahwa kelengkengnya berbuah dengan lebat. Benar-benar menjadi hiburan alami bagi pak Isto. Hiburan yang menghasilkan ratusan juta setiap bulannya. Asyik, bukan?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

14 thoughts on “Resign yang Benar”

  1. aguswb says:

    mantap…!!!

  2. fiu says:

    setuju pak jamil …..

    semoga sy bisa menyusul pak isto, dengan rencana yang sedang sy buat …. 🙂

  3. Tas Etnik says:

    Saat resign juga jangan sampai menggangu hubungan baik dengan perusahaan. Karena siapa tahu perusahaan itu akan menjadi mitra bisnis Anda dikemudian hari. Itu mungkin pelajaran berharga juga yg pernah saya alami.

  4. saiyu says:

    Mantap.
    kek Jamil, Boleh kami tau alamat perkebunan kelengkengnya pak isto yang ada di tulisan ini ??

  5. Mantabb Bisnis Pak Ito,
    Semoga Indonesia nggak perlu lagi impor kelengkeng 🙂

  6. bash says:

    Sangat INSPIRATIF!!!! 😉
    Thanks berat kek udah ngasih kisah inspiratif pak isto..sehat terus kek..ditunggu kisah2 inspiratif lainnya..

  7. Ibundaku says:

    Benar sekali pak jamil, kadang kita menuruti nafsu kita untuk segera resign, dunia setelah resign sangat2 tidak pasti. hanya mereka yg bener2 siap aja yg mampu melewatinya…

  8. Irman says:

    Hihiii… hampir saja saya resign emosional tetapi sekarang sedang merencanakan sesuatu. Doakan ya kawan-kawan, bisnis yg sedang saya bangun berhasil dan menjulang seperti Pak Isto. Terima kasih Kek atas pembelajarannya pagi-pagi begini.

  9. ayii says:

    Kek……mas sampingnya kek Jamil yg baju maroon namanya siapa..?? *salahFokus* 😀

  10. Adi Jepris says:

    ajib mbah….

    numpang berbagi mbah jamil..
    http://www.slideshare.net/adijsitohang/5-rahasia-enterpreneur-sejati
    salam daro medan

  11. Tina says:

    waah..alamat lengkapnya di mana pak? mungkin saya bisa berguru ke beliau…dg candi prambanan sebelah mana?

  12. Nurfitrizaen says:

    Subhanallah inspirasi pagi yang luar biasa. Semoga semakin banyak anak bangsa yang mantap & amanah bekerja sesuai passion untuk memakmurkan ibu pertiwi tercinta. Aamiin..

  13. mhd. sidik says:

    bener-bener inspiratif, planning dulu baru resign…..hampir aja resign karena emosional…..

    ku tunggu tulisanmu berikutnya kek…..

  14. David Mahendra says:

    inspiratif banget sih, tapi banyak info yang kurang tepat menurut saya
    yang pertama muntilan itu bukan di Jogjakarta, tapi masuk bagian jawa tengah, beda lho kek!
    yang kedua muntilan itu lebih dekat dengan candi borobudur ketimbang candi prambanan, karena muntilan itu dekat dengan magelang, kota tempat candi borobudur
    hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.