Resign dari Entrepreneur

resign.jpg

Saya pernah bertemu dengan beberapa orang yang terjangkiti “demam entrepreneur”. Beberapa kali ikut seminar atau training akhirnya memutuskan resign dari pekerjaannya. Mereka terpesona dengan penjelasan dan tawaran sang trainer. Namun, beberapa bulan kemudian, ia menyesali keputusannya. Dunia entrepreneur ternyata tidak seindah yang disampaikan sang trainer.

Sebagai orang yang sering berinteraksi di dua dunia (entrepreneur dan trainer di perusahaan) saya sangat memahami dua dunia tersebut. Masing-masing punya seni, kenikmatan dan ciri khas tersendiri. Mana yang lebih baik? Tidak ada. Semuanya baik, tergantung para pelakunya.

Oleh karena itu, walaupun saya aktif di dunia entrepreneur, mengelola pesantren wirausaha dan juga penasihat komunitas pengusaha, namun saat ada peserta training di perusahaan ingin segera resign dan menjadi pengusaha, saya selalu berkata, “Jangan buru-buru.” Setelah itu saya akan mengajukan beberapa pertanyaan dan “PR” untuk mereka.

Selama mereka tidak bisa menjawab pertanyaan dan mengerjakan “PR” maka saya katakan, “Tetaplah berkarir, dan berusahalah untuk menjadi karyawan terbaik.” Tetapi namanya juga nasihat, ada yang nurut ada juga yang “bandel”. Hehehehe. .. Namun sebagian besar yang “bandel” beberapa bulan kemudian mereka resign dari entrepreneur dan sibuk mencari pekerjaan lagi.

Memang dunia entrepreneur itu lebih “berisik” dibandingkan dunia karir. Hal ini bisa terjadi karena kegiatan-kegiatan atau training entreprenur lebih banyak menghiasi media promosi. Sementara banyak kegiatan dan training di perusahaan tidak terekspose ke media. Padahal, boleh jadi kegiatannya dan trainingnya lebih banyak di perusahaan.

Para self employee dan entrepreneur juga lebih aktif di social media dibandingkan mereka yang berkarir. Sehingga boleh jadi hal ini memimbulkan kesan, dunia entrepreneur lebih eksis dibandingkan dunia karir. Padahal faktanya, banyak mereka yang berkakrir memiliki prestasi yang hebat bahkan telah memiliki beberapa paten di dunia international.

Menjadi entrepreneur atau berkarir adalah pilihan. Pilihlah profesi itu karena kesadaran, minat, bakat, dan passion Anda, bukan karena “emosional”. Waspadalah, di dunia kerja ada karyawan “abal-abal” begitu pula di dunia training dan entrepreneur, ada trainer dan entrepreneur yang “abal-abal” dan tukang gombal.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

21 thoughts on “Resign dari Entrepreneur”

  1. mas shohib khan says:

    HIDUP ITU PILIHAN….
    stiap pilihan ada konsekuensinya.
    stiap pilihan ada akibatnya.
    pilihan sesuai passion hidup jd enjoy..
    pilihan sesuai kreatifitas hidup jd menantang..
    pilihan apa adanya hidup jd ala kadarnya..
    HIDUP ITU PILIHAN…

  2. Ulum says:

    Terima kasih Pak Jamil sudah menginspirasi di pagi hari ..
    Semoga saya tidak menjadi yang abal-abal.. 🙂

    1. Jamil Azzaini says:

      Selama terus berada di komunitas yg pas, bisa terhindar dari abal-abal mas, Persiapan Bandung lancar?

  3. Akmal Faizal Nugroho says:

    Nasihat dan PR seperti apa yang biasa diajukan??

    1. Jamil Azzaini says:

      Intinya ada di buku ON…he…he….

  4. hajar says:

    Mbah minta pertanyaanya dong, Sy mau resign nih, ke email saya boleh? Terima kasih

    1. Jamil Azzaini says:

      Baca dulu buku ON dan A Tribute ya, hehehe

  5. CECEP SAPRUDIN says:

    Benar sekali Pak. Jadi enterpreneur baik, jadi karyawan juga baik. Tidak ada yang lebih baik diantara keduanya. Semuanya baik, tergantung para pelakunya.
    Menjadi entrepreneur atau berkarir memang sebuah pilihan hidup. Semuanya harus disesuaikan dengan kesadaran, minat, bakat, dan passion seperti tulisan di atas.

  6. Danang Noviandi says:

    Alhamdulillah Guruku yg 1 ini selalu memberi motivasi.

  7. MN HAMID says:

    Kita sekarang adalah keputusan kita dahulu, dan masa depan kita ditentukan keputusan hari ini. seorang futurolog pernah berkata “untuk meramal masa depan adalah dengan menciptakannya”. mengambil keputusan untuk berwirausaha memang bukan perkara mudah, tidak semudah membalik telapak tangan. tapi kita tetap harus mengambil keputusan.walaupun akhirnya keputusan itu salah dan harus kembali mencari-cari pekerjaan baru. seperti kata umar bin khotob RA ” apa yang terjadi kemarin adalah takdir terbaik kita yang akan kita bawa untuk menghadap Allah SWT.

  8. Arfani says:

    makasih Kek telah mengingatkan kami yang pernah mengarungi 4 Quadrant, boleh dong PRnya dishare ke kita-kita 🙂

    jangan sampai saya resign dari Trainer 🙂

    1. Jamil Azzaini says:

      Ayo….ketemu dulu…

      1. Arfani says:

        Siap Kek.

  9. Zuhandri says:

    Mirip dengan pilihan hidup & proposal hidup saya… Memilih resign dari perusahaan. Bukan menjadi entrepreneur, tp berkarir sesuai “passion”. In syaa Alloh.

    Terima kasih kek inspirasi nya 😉

    1. Jamil Azzaini says:

      KerON…

  10. enhaka92 says:

    nuhun kek

  11. Rusli RIGHT QUADRANT says:

    Hihiiii….boleh boleh kek isinya..
    Brrti bntar lg ada judul baru “Resign dari Trainer” ya Kek… :v
    Oh iya Kek.. Makasih ya udah jd Guru Terhebat Buat Rusli.
    Salam Sayang Dari Muridmu.. :-*
    Maju terus kek..sebarkan manfaat sampai ujung dunia bahkan akhirat.
    Rusli siap support.. ^_^

    1. Jamil Azzaini says:

      Peluk dari jauh

  12. Aisha Maharani says:

    Utk resign persiapan dulu 3 bulan membangun kekuatan. Setelah ada pijakan lalu fokus disitu mencapai Bintang Terang. Alhamdulillah pekerjaan saya saat ini adalah hasil belajar 13 tahun menjadi karyawan.

    Benar pak Jamil, dimanapu kita berada pastikan bermanfaat bagi umat

  13. Uma says:

    Malam Pak Jamil,
    Saya boleh minta bbrp pertanyaan yang mengarahkan apakah saya harus resign dari status karyawan saya atau menerima tawaran paket dari company untuk stay di rumah. #galaunya lagi on

  14. fazar says:

    Benar sekali kek. Pastikan apa yang kita lakukan sudah memiliki bekal ilmu, passion dan keyakinan. Jangan hanya asal ikut-ikutan karena dikomporin orang untuk jadi entrepreneur, tapi tidak cukup ilmu, bukan menuruti passionnya, dan tidak memiliki keyakinan diri yang cukup 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.