Relawan Berbuah Passion

Share this
  • 61
  •  
  • 1
  •  
  •  
    62
    Shares

Sembilan tahun yang lalu, 26 Desember 2004, tsunami melanda Aceh. Sebelum tahun baru 2005 saya sudah berada di Meulaboh menjadi relawan membantu para korban. Jeritan dan tangisan para korban yang menangis dalam pelukan saya masih bisa saya rasakan hingga saat ini.

Ketika itu, banyak orang di Meulaboh yang tiba-tiba memeluk saya ketika bertemu di lokasi kejadian. Mereka hilir mudik mencari sanak famili yang hilang sembari menangis tiada henti.

Ada seorang ibu yang kehilangan semua anggota keluarganya. Ia selamat karena tersangkut di pucuk pohon kelapa. Merinding dan meneteskan air mata jika saya mengingat kembali masa itu.

Sepekan kemudian saya sudah berada di Banda Aceh. Saya masih berkesempatan membantu mengangkat mayat-mayat yang jumlahnya begitu banyak. Namun, saya akui, fisik saya tidak sekuat ratusan pasukan FPI (Front Pembela Islam) yang dikomando Habib Rizieq yang begitu cekatan mengangkat dan menguburkan mayat.

Saya kemudian mencari alternatif program lain yang tidak mengandalkan kekuatan otot. Bersama tim relawan Dompet Dhuafa kami merancang berbagai aktivitas untuk meringankan beban para korban. Salah satunya adalah program Sekolah Ceria. Di sekolah itu tak ada pelajaran sekolah. Tugas para guru adalah membuat anak-anak ceria dan riang gembira, melupakan sejenak duka lara yang menimpa mereka.

Program ini mendapat respon luar biasa. Karena jumlah muridnya terus bertambah, kami merekrut relawan guru. Dari ratusan yang mendaftar terpilih 43 orang. Sebelum diterjunkan para guru ini kami training. Saya menjadi salah satu trainer yang ikut memberikan pembekalan.

Nah, saat aktif memberikan training inilah saya berkenalan dengan pimpinan bank BNI Syariah, bapak Rizqullah. Setelah melihat penampilan saya dan materi training yang saya berikan, beliau menawari saya mengisi program training untuk para pimpinan BNI Syariah. Beberapa bulan kemudian saya benar-benar memberikan training untuk para pimpinan BNI Syariah di Hotel Sahid, Jakarta. Inilah kontrak pribadi pertama kali saya sebagai trainer profesional.

Baca Juga  Terdisain dan Mengalir

Dari hasil training tersebut akhirnya saya dikontrak untuk memberikan training kepada seluruh karyawan BNI Syariah di seluruh Indonesia. Setiap Sabtu dan Ahad saya berkeliling memberikan training di lembaga keuangan syariah tersebut. Saya merasa telah menemsukan dunia baru yang lebih menantang, enjoy, asyik dan lebih “gue banget”.

Dan, satu tahun setelah tsunami Aceh, 26 Desember 2005, saya bertekad untuk menjadi trainer profesional. Maka, pada Januari 2006 saya serahkan jabatan Direktur Dompet Dhuafa Republika kepada para pendiri. Saya memutuskan untuk bergabung full time di perusahaan training PT Kubik Kreasi Sisilain.

Menjadi relawan memang tidak dibayar dengan uang. Namun, saya mendapatkan bayaran yang nilainya jauh lebih besar dan amat sulit dirupiahkan. Apa itu? Saya menemukan passion saya, menemukan hidup saya sehingga setiap hari saya tidak pernah merasa bekerja tapi sibuk menjalankan hobi. Kegiatan training telah menjadikan hidup saya menjadi benar-benar “gue banget, gitu loh!”.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini


Share this
  • 61
  •  
  • 1
  •  
  •  
    62
    Shares

44 comments On Relawan Berbuah Passion

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer