Rasa Itu Tak Ternilai

Share this
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

Sejak jauh-jauh hari, istri saya meminta “mas, tolong tanggal 15-16 Oktober dikosongin, ikut saya reunian dengan teman-teman TPG (Teknologi Pangan dan GIzi) IPB, angkatan 24 (1987)” Saya pun meminta asisten saya untuk mengosongkan jadwal pada tanggal tersebut. Sejak istri saya meminta waktu tanggal tersebut hingga hari H, godaan undangan memberikan seminar datang silih berganti. Total nilainya ratusan juta rupiah.

Sejujurnya, terkadang tergoda untuk mengambil kesempatan memberikan seminar, apalagi dalam hati kecil selalu muncul bisikan “ngapain ikut, kamu khan banyak yang gak kenal dengan teman kuliah istrimu. Nanti jadi kambing congek lho.” Namun bayangan wajah istri saya yang penuh harap agar saya ikut acara itu selalu muncul. Berbagai permintaan seminar pun akhirnya saya tolak.

Sabtu usai sholat Subuh saya berangkat dari rumah menuju titik kumpul pertemuan di Cibubur. Sebelum berangkat, saya sudah menyiapkan diri menjadi “kambing congek” siap mendengarkan cerita-cerita nostalgia mereka. Setelah semua peserta kumpul dalam satu bus, persepsi “kekhawatiran” saya lepas satu per satu. Ternyata, teman kuliah istri saya adalah orang-orang yang asyik, terbuka, friendly, cerdas, hobi diskusi dan senang bercanda.

Mencium ikan Dewa di Kuningan
Mencium ikan Dewa di Kuningan
Apalagi sepanjang perjalanan di dalam bus, saya diberi kesempatan memberikan inspirasi kepada mereka. Tercatat saya memberikan inspirasi di dalam bus sebanyak 4 kali yakni saat keberangkatan, di Cirebon, di Kuningan dan saat perjalanan pulang. Dua hari itu, saya benar-benar tercerahkan. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari teman-teman istri saya yang memiliki beragam profesi.

Saya baru kenal dengan Jusuf yang dipanggil Haji padahal dia bukan orang Islam tetapi fasih mengucapkan alhamdulillah, in sha Allah dan lainnya, tetapi meski baru kenal saya merasa sudah kenal begitu lama. Pengusaha snack dengan karyawannya sekitar 600 orang ini sangat periang dan tampil apa adanya. Melalui relasinya, rombongan kami diterima keluarga Sultan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Baca Juga  Menunggu Giliran Kematian

Saya lebih mengenal Sesil yang sangat yakin dengan impian-impian hidupnya. Ngobrol panjang dengan Sofyan, yang hobinya baca buku bisnis tapi masih berat melepas pekerjaannya di perusahaan minyak ternama. Ngobrol dengan Pepi (Rinaldi) yang family man dan bisnis sambilannya sering ditipu. Mendengarkan Cecep yang bercerita tentang support anak sesuai potensinya. Menyaksikan konsistensi Leo dan istrinya dalam hal olah makan, sehingga badannya tetap ramping dan proporsional.

Saya bersama teman laki-laki istri saya
Saya bersama teman laki-laki istri saya
Terus mendengarkan paparan Endang tentang Kuningan dan begitu bangga dengan Kabupaten yang berada di dekat gunung Ciremai ini. Bersenda gurau dengan Yuna (suaminya Rini Zul) yang hobinya golf, sepeda dan kuliner adalah moment-moment yang terpatri dalam hati. Saat kuliah di IPB, saya tidak satu jurusan dengan mereka tetapi mereka begitu dekat di hati. Rindu ingin bercengkerama dengan mereka.

Dan tentu yang lebih membahagiakan, sepulang dari perjalanan dua hari itu, wajah istri saya semakin cerah, matanya berbinar, ia begitu berkesan dengan moment itu. Saya memang kehilangan peluang ratusan juta rupiah, tetapi saya mendapat balasan puluhan kali lipat meski bukan dalam bentuk mata uang yang terkadang melenakan. Rasa itu nilainya begitu tinggi bagi saya dan istri saya, saya yakin itu pun dirasakan oleh teman-teman istri saya. Wallahu’alam.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership
Founder Akademi Trainer
Inspirator SuksesMulia

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook


Share this
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer