Potret Buram Sistem Pendidikan Kita

Ujian nasional kemarin baru saja usai. Sebagai Konsultan Parenting dan Pemerhati Pendidikan saya sempat terlibat langsung, dan ternyata menyisihkan berbagai cerita miring. Sistem pendidikan yang sejatinya menjadi mesin pencetak kualitas generasi bangsa, namun faktanya hanyalah mampu melahirkan output dengan kualitas yang rendah bahkan dibawah standar. Tak percaya? Renungkan sejenak pertanyaan saya. Kalau orang asing masuk dan bekerja di negara kita, kira-kira pada umumnya, jabatan seperti apa yang mereka tempati.

Sebaliknya jika generasi Indonesia keluar negeri mencari kerja, kira-kira pekerjaan seperti apa pada umumnya yang mereka bisa lakukan? Ya, saya pikir anda sudah tahu jawabnya bukan?

Perbedaan keduanya begitu terjal, bagaikan timur dan barat. Itulah realitas output produksi, dari sistem pendidikan kita. Lalu apa masalah sebenarnya? Simak dulu kutipan tulisan dari Wapres RI, Budiono, pada koran kompas tertanggal 12 Agustus 2012, berikut ini.

“Saya harus mengatakan bahwa, sampai saat ini kita belum punya konsepsi yang jelas mengenai substansi pendidikan ini. Karena tak ada konsepsi yang jelas, timbullah kecenderungan untuk memasukkan apa yang dianggap penting pada kurikulum. Akibatnya terjadilah beban berlebihan pada anak didik. Bahan yang diajarkan terasa “berat” tetapi tak jelas apakah anak sudah mendapatkan apa yang seharusnya di peroleh dari pendidikannya…”
Parahnya, sistem sekolah, maupun orang tua masih saja meyakini bahwa jika anak tahu banyak hal, akan lebih mudah sukses. Sehingga di bombardirlah mereka dengan segudang mata pelajaran. Ironisnya orang tua bukannya ngebelain, malah balik meluncurkan “Perang Dunia II” pada anak, sepulang sekolah hingga kerap over loading. Jadi lengkaplah sudah penderitaannya. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Misalnya, jika ada nilai rapor anak merah, orang tua malah buru-buru memberondongnya dengan berbagai les, agar anak bisa hebat di semua mata pelajaran. Inilah pendekatan keliru yang dilakukan oleh orang tua rata-rata. Padahal sejatinya, focus of consent dari pemberian les tambahan harus bertengger pada wilayah keunggulan anak, agar bisa memiliki peningkatan kualifikasi, hingga bisa menembus level world class.

Apakah tak boleh memperbaiki wilayah kelemahan? Tentu Boleh saja. Tapi harus mengacu pada komposisi 80:20. (80% keunggulan, 20% kelemahan). Maksudnya, jika kelemahan anak saja kita berani kursuskan, maka pada saat yang sama, anda juga harus memiliki nyali hingga 5 kali lipat untuk bisa menemukan lalu mengkursuskan wilayah keunggulannya. Sebab jika tidak, saya khawatir kita telah membonsai sekaligus menggiring anak pada kelas mediocre. Bagaimana menurut Anda? Mari kita renungkan…!

Salam Metamorfosa
Rahman Patiwi
Pakar Parenting dan Pemerhati Pendidikan.

Bagikan:

4 thoughts on “Potret Buram Sistem Pendidikan Kita”

  1. Aji says:

    Setuju mas, kalau kata pepatah cina ” asahla pisau di sisi yang tajam”

  2. Sekarang PR ada pada kita sbg orangtua..
    Mengarahkan anak2 pada “pendidikan” yang tepat.
    Agar mereka tdk terjebak dlm kesalaham sistem.
    Terimakasih.

    1. Yap.. Mas Robby. Selalu Ada solusi yang bisa di maksimalkn oleh para ortu sepanjang terus mau berbenah..

Leave a Reply

Your email address will not be published.