Polisi Tidur itu Bikin Masalah

Prihapen

Prihapen

Pantaslah Negeri ini tidak aman sekaligus tidak nyaman. Bagaimana mau aman dan nyaman, ‘Polisi’ yang seharusnya bertugas memberikan keamanan, kenyamanan dan perlindungan pada masyarakat malah bergerombol tiduran di jalan. Kebanyakan di jalan kompleks, jalan arteri tapi banyak juga yang tidur-tiduran di jalan utama. Ya……. Kita sering sebut mereka sebagai ‘Polisi Tidur’, ‘polisi’ yang tidak pernah bekerja atau malah kerjanya tidur terus seumur hidup. Dari pada ‘polisi tidur’ melintang di jalan kan lebih baik gambar ‘polisi main catur’ tapi di pinggir jalan bukan di tengah jalan.

Apa sebab begitu banyak ‘polisi tidur’ yang dibuat masyarakat di jalan-jalan seperti disebutkan diatas?. Bahkan terkadang ‘polisi tidur’ itu begitu mengganggu kenyamanan dan keamanan berkendara. Ada yang cukup tinggi menjulang sehingga membuat kendaraan tersangkut, ada pula yang bersudut tajam, ada yang berbaris 2 atau 3 sekaligus dan ada pula yang dibuat melintang dengan sudut kemiringan tertentu hingga kendaraan yang lewat seperti sedang bergoyang pinggul dan bentuk yang lain. (Ternyata cara tidur juga bisa bermacam-macam ya .. he .. he..). Kenapa begitu ya?. “Itu gunanya agar kendaraan yang lewat tidak ngebut, karena berbahaya bagi yang mau menyeberang”. Kenapa tidak dibuatkan saja garis ‘zebra cross’?. “Pengendara sekarang kan tidak peduli dengan rambu seperti itu?”.

Bagaimana jika ada mobil ambulan yang lewat dan perlu cepat untuk membawa pasien kritis ke rumah sakit dan akhirnya meninggal karena terhambat di jalan?. Bagaimana jika pada malam hari sepi ada yang mengendarai sepeda motor dengan cepat dan terjungkal bergulingan di aspal mengakibatkan luka parah karena tidak tahu ada ‘polisi tidur’ yang menjulang tinggi di sana?

Bagaimana jika ada keluarga kita yang sakit jantung dan terkaget hebat begitu melewati onggokan ‘polisi tidur’ yang mengakibatkan nafasnya berhenti?. Bagaimana jika akibat puluhan bahkan ratusan ‘polisi tidur’ yang harus dilalui menyebabkan kerusakan kendaraan menjadi lebih cepat?. Mengapa pula masyarakat selalu ingin jalan-jalan di aspal mulus tapi kemudian dirusak kembali. Bukankah lebih baik jalan itu dibiarkan rusak saja, toh… kendaraan tidak akan bisa ngebut kan?.

TERNYATA …….

‘Polisi Tidur’ itu dipakai sebagai alat untuk mengkompensasi kelemahan. Baik itu kelemahan pengendara maupun kelemahan masyarakat pengguna jalan disekitarnya. Kelemahan apa ya?. Pengendara belum mampu membedakan kapan harus berjalan cepat dan kapan harus berjalan lebih lambat. Kalaupun mampu membedakan tapi belum mampu mengendalikan diri untuk dapat mengeksekusi kemampuan itu.

Sebagian dari kita masih memiliki kelemahan mental dan moral sehingga di jalan arteri atau jalan kompleks kita tetap ngebut, diperempatan jalan atau di ‘zebra cross’pun kita tetap tidak menginjak rem. Masyarakat memiliki kelemahan mental dan moral yang sama sehingga sering memarkir kendaraan di badan jalan karena tidak ada lahan lain atau sering menyeberang sembarangan bahkan malah menyeberangnya di bawah jembatan penyeberangan bukan di jembatan penyeberangan itu. Bukankah ini masalah kelemahan mental dan moral?.

Bukankah lebih baik fokus pada kekuatan dari pada sibuk mengkompensasi kelemahan?.

Coba bayangkan, tujuan jalan dibuat mulus dan kuat agar dapat mempermudah dan mempercepat perpindahan manusia dan barang dari satu tempat ke tempat lain. Ingat ‘MEMPERMUDAH & MEMPERCEPAT’, bukan ‘MENYUSAHKAN & MEMPERLAMBAT’. Bagaimana dengan ‘Polisi Tidur?’. Jika kita fokus pada kekuatan maka yang akan dilakukan adalah mendidik pengendara dan masyarakat dengan cara persuasif sekaligus tangan besi. Mendidik mental dan moral dengan cara :

Memberikan ‘Reward’ atau penghargaan. Setiap pengendara yang mentaati aturan yang berlaku, di ujung jalan kompleks akan diberi hadiah. Hadiah bisa saja berupa souvenir maupun ucapan terimakasih atau bentuk penghargaan lain yang bisa saja mengeluarkan dana atau tidak. Ingat …. Pada saatnya akan terjadi pembiasaan dan ini menjadi tanda munculnya kekuatan mental dan moral.

Memberikan ‘Punishment’ atau sangsi. Dibuatkan spanduk disetiap ujung jalan dengan kata-kata, misalnya ‘NGEBUT ……. BENJUT ……. !!!!!!!” yang artinya siapa yang ngebut di jalan itu akan dipukuli ramai-ramai. Perlu dilakukan tingkatan sangsi dari mulai teguran sampai perlakuan ‘shock theraphy’ dengan cara menempeleng orang yang ngebut sampai pada akhirnya akan terjadi perubahan mental dan moral sehingga muncul kekuatan mental dan moral yang lebih baik.
Ahhhh… ini kan teori?. Saya juga dengan enteng menjawab : Ahhhh…. Kan belum ada yang coba !!!.

Trust me , it work.
Wallohu’alam.

Amazing Seventh Sense ……. Harmony to the Truth

@Prihapen_Sir : 0811121561 : FP Prihapen the Seventh Sense Optimizer

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.