Perjalanan Dinas Ngajak Keluarga

Perjalanan-Dinas-Ngajak-Keluarga.jpg

Ada yang pernah bertanya kepada saya “pak, pernahkah saat perjalanan dinas mengajak keluarga?” Saya jawab “sering”. Orang itu melanjutkan pertanyaan “apa itu bukan penyalahgunaan wewenang pak?” Saya jawab, “bagi saya tidak, karena beberapa alasan. Pertama, aktifitas dengan keluarga saya di tempat tujuan tidak mengganggu tugas saya.

Kedua, peraturan perusahaan membolehkan. Ketiga, ini perusahaan saya pribadi (saya salah satu pemegang saham) dan alasan keempat, saya selalu berpesan kepada asiten dan bagian keuangan saya bahwa semua biaya yang timbul dari kegiatan anggota keluarga, wajib dibebankan kepada saya tidak menjadi tanggungjawab kantor. Masuk akal khan?

Untuk urusan penggunaan fasilitas perusahaan saya selalu teringat kisah Umar bin Abdul Azis dan putranya. Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja istananya. Ketika itu, putranya masuk ruangan dan hendak membericarakan sesuatu. ”Untuk urusan apa putraku datang ke sini: urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar. ”Urusan keluarga, ayahanda,” jawab si anak.

Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap. “Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran. ”Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar.

Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam. “Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah.”

Dengan kejelasan dan ketegasan sikap inilah wajar bila dimasa kepemimpinan Umar bin Abdul Azis, sangat sulit mencari orang miskin. Padahal, ia memimpin negaranya hanya 2 tahun 5 bulan dan 5 hari. Dalam kurun yang singkat ini, ia sudah mampu menciptakan banyak kemakmuran dimasa kepemimpinannya (kekhalifahan).

Sebagai orang yang merasakan sulitnya mengatur waktu bersama keluarga, saya berusaha berbaik sangka apabila ada pejabat negara yang mengajak keluarganya ikut dalam perjalanan dinasnya. Prasangka baik saya “mereka menggunakan uang pribadi bukan menggunakan uang rakyat, karena saya yakin para pejabat itu tahu bahwa banyak rakyat negerinya yang hidupnya masih sangat melarat. Dan sungguh sangat tidak terhormat bila uang rakyat digunakan untuk kesenangan keluarga sang pejabat.” Wallahu’alam.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.