Penyakit “Yang Penting”

Share this
  • 33
  •  
  •  
  •  
  •  
    33
    Shares

Ada pernyataan sederhana yang menurut saya sudah menjadi penyakit, yaitu pernyataan “yang penting”. Saat memilih perguruan tinggi ada yang menyatakan “yang penting” kuliah. Hasilnya? Setelah kuliah merasa salah jurusan, tidak enjoy bahkan tidak bangga dengan jurusannya. Akhirnya kuliah menjadi beban dan pelengkap penderita.

Penyakit “yang penting” juga bisa menimpa para pencari kerja. Diantara mereka ada yang berprinsip “yang penting” kerja daripada nganggur. Pekerjaan yang dipilih bukan karena pilihan apalagi karena passion. Di awal mula kerja mungkin terasa nikmat. Namun bila berlangsung lama, kerja bisa menjadi penjara baru baginya.

Setelah bekerja, mereka berprinsip “yang penting” ngisi absen, setor muka. Bagi mereka tidak penting berprestasi. Mental mereka menjadi transaksional. Sering menuntut lembur dan bayaran tambahan padahal prestasi pas-pasan.

Di dunia maya, jangan sampai ada berprinsip “yang penting” punya website atau blog tetapi tidak pernah diupdate. Itu sama dengan punya rumah tapi tidak pernah dirawat. Malu ah… apalagi bila ngakunya blogger.

Pernyataan “yang penting” bisa membuat Anda menjadi orang yang tidak penting, tidak punya arah dan sering kehabisan energi di tengah jalan. Lakukanlah sesuatu karena pilihan bukan karena pelarian, bukan karena “yang penting”. Apabila sudah memilih, lakukanlah yang terbaik bukan “yang penting” melakukan.

Kerjakanlah pekerjaan penting, bukan “yang penting” kerja. Carilah makna, hikmah dan nilai dari setiap yang Anda kerjakan dan itu sangat sulit Anda dapatkan apabila Anda berprinsip “yang penting” kerja.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Baca Juga  Generalis atau Spesialis?

Share this
  • 33
  •  
  •  
  •  
  •  
    33
    Shares

7 comments On Penyakit “Yang Penting”

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer