Penyakit “Yang Penting”

terbang.jpg

Ada pernyataan sederhana yang menurut saya sudah menjadi penyakit, yaitu pernyataan “yang penting”. Saat memilih perguruan tinggi ada yang menyatakan “yang penting” kuliah. Hasilnya? Setelah kuliah merasa salah jurusan, tidak enjoy bahkan tidak bangga dengan jurusannya. Akhirnya kuliah menjadi beban dan pelengkap penderita.

Penyakit “yang penting” juga bisa menimpa para pencari kerja. Diantara mereka ada yang berprinsip “yang penting” kerja daripada nganggur. Pekerjaan yang dipilih bukan karena pilihan apalagi karena passion. Di awal mula kerja mungkin terasa nikmat. Namun bila berlangsung lama, kerja bisa menjadi penjara baru baginya.

Setelah bekerja, mereka berprinsip “yang penting” ngisi absen, setor muka. Bagi mereka tidak penting berprestasi. Mental mereka menjadi transaksional. Sering menuntut lembur dan bayaran tambahan padahal prestasi pas-pasan.

Di dunia maya, jangan sampai ada berprinsip “yang penting” punya website atau blog tetapi tidak pernah diupdate. Itu sama dengan punya rumah tapi tidak pernah dirawat. Malu ah… apalagi bila ngakunya blogger.

Pernyataan “yang penting” bisa membuat Anda menjadi orang yang tidak penting, tidak punya arah dan sering kehabisan energi di tengah jalan. Lakukanlah sesuatu karena pilihan bukan karena pelarian, bukan karena “yang penting”. Apabila sudah memilih, lakukanlah yang terbaik bukan “yang penting” melakukan.

Kerjakanlah pekerjaan penting, bukan “yang penting” kerja. Carilah makna, hikmah dan nilai dari setiap yang Anda kerjakan dan itu sangat sulit Anda dapatkan apabila Anda berprinsip “yang penting” kerja.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

7 thoughts on “Penyakit “Yang Penting””

  1. ali samsudin` says:

    alhamdulillah saya memilih baca, tidak “yang penting” baca artikel di sini,

    1. Jamil Azzaini says:

      Hehehe…sehat pak?

  2. sugiarto says:

    Astaghfirulloh,,,mudah2an saya tidak termasuk “yang penting” yang dimaksud..terima kasih kek

    1. Jamil Azzaini says:

      Doakan saya juga ya…

  3. Arfani says:

    bahaya juga ya kek, apalagi “yg penting nikah” bisa-bisa pasangannya asal, nikahnya asal, jalaninya asal, hasilnya asal, dan ujung2nya asal. ngeri kek.

    1. Jamil Azzaini says:

      Berbahaya….

  4. Surya Andika says:

    paragraf yang pertama udah aku alami kek… benar terasa berat banget rasa nya… gak mau lagi pake “yang penting” deh -,-

Leave a Reply

Your email address will not be published.