Pengusaha Bangkrut

bangkrut.jpg

Sejak tahun 1994, saya banyak berhubungan dengan UKM (Usaha Kecil Menengah). Ada yang terus tumbuh, ada yang layu sebelum berkembang. Saya amati, sebagian besar yang tumbang bukan karena pilihan bisnisnya yang keliru, tetapi karena mental, sikap dan perilaku sang pelaku. Mengapa mereka tumbang? Ada banyak sebab, saya ingin berbagi tiga yang utama.

Pertama, mereka nyalinya tinggi tapi enggan belajar. Memang, modal utama bagi seorang yang hendak menjadi pengusaha adalah nyali. Namun setelah usaha berjalan, ilmu dan seni berbisnis yang lebih banyak diperlukan. Orang yang nyalinya tinggi tapi enggan belajar, hobinya bangkrut. Berani membuka usaha baru dan beberapa bulan kemudian, usahanya tutup.

Saat saya mengajarkan beberapa ilmu, mereka menjawab, “Bisnis kok rumit amat, sudah jalani saja, selama kita bisnisnya halal pasti maju.” Berbagai jurus dan penjelasan saya lakukan namun tidak mempan. Sebagai pembina tentu kecewa, tetapi saya selalu memegang aturan, “Yang menentukan hidup mereka adalah mereka sendiri bukan saya. Tugas saya menyampaikan dan melakukan proses sebaik-baiknya.

Kedua, gaya hidup. Saat usaha mulai berkembang dan hasilnya sudah mulai terlihat, mereka buru-buru ingin terlihat kaya. Gaya hidup mulai berubah, ia ingin selalu terlihat “wah”. Keuntungan usaha yang seharusnya digunakan untuk menguatkan usaha digunakan untuk membiayai gaya hidupnya. Seolah mereka ingin membuat pengumuman, “Ini aku orang kaya baru, lihatlah aku.”

Terlalu banyak gaya ternyata membuat mereka tidak berdaya. Mengedepankan gengsi telah membuat usaha mereka mati. Banyak gaya dan meninggikan gengsi memang harus dijauhi para pengusaha, khususnya bagi yang fundamental bisnis dan financialnya belum terlalu kuat.

Ketiga, terlalu berani berhutang. Apakah tidak boleh berhutang? Tentu boleh selama wajar dan halal. Tetapi banyak pengusaha yang memperbaiki performance rekeningnya agar bisa mendapat pembiayaan dari bank. Akhirnya, mereka terlilit hutang. Kerja keras siang dan malam, hasilnya hanya habis untuk membayar hutang. Lebih parah lagi, bila semua aset usahanya dijual belum cukup melunasi hutangnya.

Mungkin orang mengira ia pengusaha kaya tetapi sesungguhnya ia miskin papa, aset usahanya lebih kecil dari hutangnya. Bahkan baju yang menempel pun sebenarnya sudah bukan miliknya.

Berbisnis bangkrut itu biasa. Tetapi saran saya jangan karena tiga hal tersebut di atas. Itu sangat menyiksa. Bangkrut yang boleh adalah karena memang risiko bisnis yang harus dihadapai bukan karena mental, sikap dan perilaku yang keliru.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

24 thoughts on “Pengusaha Bangkrut”

  1. mas manoe says:

    mantap
    saya pengen ikut WBT berikutnya kapan kek,kemarin dah coba telepon dan sms mbak Weni,tp gak diangkat atopun ditelepon balik,mohon infonya terima kasih
    salam sukses mulia

    1. Jamil Azzaini says:

      Segera saya sampaikan ke mbak Weni ya…

    2. Movy says:

      Halo pak! Yap mohon maaf ya pak:) sudah kami respon, mohon dicek emailnya pak, makasih

  2. Denny Dachlan - Sales Activator says:

    Terima Kasih telah di ingatkan, Kek.. Smoga bisnis Sy dpt terus berkembang n terhindar dr 3 hal diatas. Aamiin..

    1. Jamil Azzaini says:

      Aamiin yra

  3. arif indra wanta says:

    Matur nuwun kek wejangan.ny.. Baru mulai merintis bisnis.. Bismillah..

    1. Jamil Azzaini says:

      Terus Asah nyali dan belajar tiada henti

  4. Dewa says:

    Asik kek, ketiga2nya dibahas di buku hitam ku. hihi… yes!

    1. Jamil Azzaini says:

      Berarti chemistrinya nyambung mas, hehehehe

  5. CECEP SAPRUDIN says:

    Tulisan pagi yang Inspiratif. Memang benar, gaya hidup yang ingin terlihat “wah” dan berani berhutang merupakan penyebab paling sering pengusaha menjadi bangkrut. Mereka ingin terlihat bisnisnya sukses, padahal fundamental bisnis dan financialnya belum terlalu kuat.
    Terima kasih atas tulisannya Kek….. Ini jadi pengingat untuk saya….

    1. Jamil Azzaini says:

      Silakan dishare 🙂

  6. Rudi hermawan says:

    Udah lama ga dengar istilah ” miskin papa “.. hehehe kerON.

    1. Jamil Azzaini says:

      Kalau miskin mama? Hehehehe

  7. iji jaelani says:

    sangat menampar ambisiku. pantesan selama ini saya susah berkembang. pesoalan gaya hidup yang memang terlalu mengutamakan gengsi.. makasih mas informasinya, sangat mencerahkan.

    1. Jamil Azzaini says:

      Saya kirim doa untukmu, semoga semakin SuksesMulia

  8. Zaza Hendro says:

    Inpiratif kek artikelnya …..

  9. Rian says:

    Makasih Kek…. simple dan ngejleb…

  10. Selamet HARIADI Online Strategist says:

    sebaiknya jauhi hutang dan gaya yang keterlaluan…

  11. Aris ikhwanto says:

    Boleh mnta alamat email kakek? Butuh pencerahan

    1. Jamil Azzaini says:

      Ada di website ini…auo cari, he3x

  12. Denny Arivian says:

    Terima kasih kek, jadi pengingat hati yang masih labil ini

  13. mahfudz RZ says:

    Trimakasih kek

  14. Rudy says:

    Oalahhh ,

    Pantesan saya bingung dan terheran2 , kenapa belakangan ini banyak orang yang tiba2 naik mobil mewah dan makan di restoran mahal , shopping barang2 mahal , nginap di hotel mahal .

    Awalnya saya sempat mengira mereka adalah kalangan pejabat yang dapat duit gampang hasil korupsi , tetapi kemudian saya mengenal banyak yang bukan pejabat tetapi wirausahawan baru .

    Yang mengherankan saya adalah , bagaimana mungkin mereka yang baru ber wirausaha beberapa tahun sudah bisa membayar semua gaya hidup mewah itu , padahal saya yang sudah punya usaha sendiri sejak 25 tahun lamanya , dan punya pabrik yang jauh lebih besar dari mereka , namun saya belum bisa hidup mewah seperti itu .

    Ternyata kemudian saya mulai sadar , mereka cuma mementingkan gaya hidup mewah , tanpa mikir panjang kelangsungan dan lebih pentingnya ekspansi usaha ketimbang beli mobil dan makan mewah .

    Semoga jangan lah Indonesia dihantam krisis lagi , sebab mereka rentan , dan jika mereka jatuh / bangkrut , nanti pengusaja lama yang disalahkan lagi , padahal pengusaha lama cuma berhati2 dalam mempergunakan uangnya karena lebih mementingkan kelangsungan usahanya ketimbang dirinya sendiri .

  15. Rudy says:

    Dan anak2 saya , untungnya juga mengerti dan bangga dengan gaya hidup sederhana yang saya ajarkan kepada mereka .
    Sering mereka bilang , bahwa kami tidaklah miskin , bahkan mereka ngerti bahwa kami sebetulnya kaya , tetapi kami cuma mempertahankan gaya hidup sesederhana mungkin aja , dan adalah sebuah kebanggaan jika seorang yang sudah kaya tetapi mampu mempertahankan gaya hidup yang sederhana .
    Anak2 saya bangga dengan keadaan kami , sederhana , tapi sesungguhnya memiliki financial yg amat kuat .

Leave a Reply

Your email address will not be published.