Pemimpin Melahirkan Pemimpin

leader.jpg

Pagi tadi sebelum subuh saya mendapat kiriman kutipan pernyataan Sudjiwotedjo, “Pemimpin tangan besi mematikan nyali. Pemimpin yang dinabikan mematikan nalar.” Membaca itu, saya terdiam sejenak. Membayangkan wajah beberapa orang yang menjadi pemimpin.

Pikiran sayapun kemudian mengembara, teringat ucapan Tom Peters. “Pemimpin tidak sekadar menciptakan pengikut. Pemimpin lebih banyak menciptakan pemimpin,” ujarnya.

Pemimpin yang hebat itu melahirkan pengikut yang siap menjadi pemimpin. Bukan melahirkan pengikut yang membabi buta, keras kepala dan tanpa nalar.

Setiap kita adalah pemimpin. Kasta kepemimpinan yang paling rendah adalah mampu memimpin dirinya sendiri. Dan, sebagai makhluk hidup tentu kita perlu naik kelas, mampu memimpin orang lain. Untuk itu, kita perlu menyiapkan diri sejak mula agar kita terbiasa melahirkan pemimpin. Mulailah dari tiga hal sederhana berikut.

Pertama, jadilah sumber energi untuk orang lain. Setiap orang yang berjumpa dengan Anda senang karena selalu mendapatkan “sesuatu”. Bukan hanya merasa senang, mereka menjadi lebih semangat untuk berkarya dan bertumbuh. Kehadiran Anda dinanti. Kehadiran Anda menjadi sumber inspirasi.

Kedua, kurangi memberi instruksi. Pemimpin sering identik dengan pemberi perintah. Boleh jadi pernyataan ini benar. Namun pemimpin yang ingin melahirkan pemimpin justru harus belajar mengurangi memberi instruksi. Ia tak patut “ngebosi”.

Ia harus lebih banyak memberi tantangan kepada orang-orang yang dipimpin. Anggota team akan diberi banyak kesempatan untuk berkreasi, mencari solusi sehingga mereka merasa keberadaanya sangatlah berarti. Sang pemimpin akan lebih sabar mendengarkan dan menyiapkan pertanyaan yang cerdas.

Ketiga, ubahlah dari pemberi solusi menjadi penggali solusi. Karena pengalaman dan jam terbang yang dimiliki, seorang pemimpin biasanya sudah tahu banyak jawaban atas berbagai hal. Namun pemimpin yang ingin melahirkan pemimpin perlu menahan diri untuk memberikan jawaban atau solusi.

Pemimpin harus menggali berbagai solusi atas berbagai persoalan yang terjadi. Memang perlu waktu dan kesabaran, tetapi begitulah bila kita ingin orang-orang yang kita pimpin lebih berdaya dan kelak siap menjadi pemimpin yang lebih hebat dari kita.

Jangan bangga dengan banyaknya jumlah pengikut. Apalagi pengikut yang dungu, membela tanpa nalar, mengikuti tanpa ilmu, berbakti hanya demi kepentingan dirinya sendiri. Jadilah pemimpin yang melahirkan pemimpin. Pemimpin yang benar-benar memimpin.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

10 thoughts on “Pemimpin Melahirkan Pemimpin”

  1. enhaka92 says:

    Nuhun pisan kek

  2. ali samsudin says:

    kerON

    1. Jamil Azzaini says:

      SyukrON 🙂

  3. afik says:

    Moga2, ana bisa nerapin kek…

    1. Jamil Azzaini says:

      Aamiin YRA

  4. habibullah al amin says:

    Ternyata tak mudah menjadi pemimpin meski keturunan pemimpin, semoga bisa menjadi amal baik bagi semua,

    1. Jamil Azzaini says:

      Sesuatu yg pahalnya besar biasanya perlu kerja keras 🙂

  5. Zi says:

    Sy adalah pemimpin yg. Siapp melahirkan pemimpin, insya اَللّهُ

    1. Jamil Azzaini says:

      Aamiin yra, didoakan

  6. Ari Wijaya says:

    Tulisan ini menguatkan saya dalam menjalani peran yang diamanahkan saat ini. Kueereen, Pak Guru Jamil.

    Semoga terus bisa berbenah.

    Jazakallaah khoirON katsirON…

Leave a Reply

Your email address will not be published.