Peliharalah Keinginanmu

LelitasariSepanjang perjalanan waktu menjadi trainer di bidang K3 saya mendapat kesempatan menjelajah berbagai kota besar ,kota kecil ,pulau-pulau kecil bahkan tempat terpencil di Indonesia. Pulau kecil dan tempat terpencil selalu meninggalkan kesan yang lebih mendalam bagi saya.

Saya pernah ke Pulau Kundur di Kepulauan Riau yang untuk mencapainya saya harus terbang ke Batam, dari Batam menyeberang dengan kapal cepat ke Tanjung Balai Karimun kemudian menyeberang lagi menggunakan kapal ke pulau tersebut. Di Pulau Kundur yang besarnya sekota kecamatan ini anehnya banyak terdapat hotel yang rupanya setiap akhir pekan penuh pengunjung dari Singapore dan Malaysia untuk membuang “hajat”.

Dan sedihnya banyak anak-anak perempuan dibawah umur yang terlibat disana. Seandainya mereka bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi tentu tidak akan terlibat dalam dunia prostitusi.

Saya pernah ke Pulau Wetar di Kepulauan Maluku yang untuk mencapainya harus menyeberang laut dari Dili sekitar 9-10 jam perjalanan. Saya sudah ke pedalaman Kalimantan Barat dan terakhir ke pedalaman Kalimantan Timur untuk memberikan training K3 di perusahaan penebangan kayu. Dalam perjalanan-perjalanan tersebut selalu yang saya ingin tahu adalah bagaimana masyarakat terutama anak-anak mendapatkan akses layanan kesehatan dan pendidikan.

Bagi kita yang orang kota mungkin agak sulit membayangkan bagaimana kondisi pelayanan tersebut didaerah-daerah terpencil di Indonesia. Di pedalaman Kalimantan Barat (perjalanan darat 1 hari, menginap 1 malam, lanjut jalan sungai 1 hari) saya menemukan Puskesmas Pembantu yang untuk memeriksa pasiennya dilakukan di lantai kayu karena tidak terdapat sarana tempat tidur.

Di pedalaman Kalimantan Timur (Sei Boh, perjalanan 20 jam dari Balikpapan , 12 jam jalan darat yang buruk dan 8 jam jalan sungai) saat perjalanan pulang menggunakan Long boat saya bersama sepasang orangtua membawa anaknya yang demam untuk berobat sejauh 5 jam perjalanan dengan perahu terbuka, keanginan,kepanasan,kehujanan ke Puskesmas terdekat.

Untuk SD mereka ada sekolah di kampung terdekat dengan jalan kaki kira-kira 1 jam yang gurunya kadang ada kadang tidak. Untuk SMP dan SMA mereka harus keluar kampung ke kota kecamatan terdekat melalui sungai sekitar 5-6 jam yang tentu saja tidak mungkin dilakukan setiap hari. Terbayang oleh saya bagaimana kondisi pendidikan di tempat-tempat terpencil lainnya.

Karena pengalaman-pengalaman tersebut diatas maka saat @AniesBaswedan meluncurkan program Indonesia Mengajar melalui @PengajarMuda dimana Sarjana-sarjana terbaik diberi kesempatan 1 tahun penuh untuk mengajar di tempat-tempat terpencil saya sangat ingin bisa terlibat didalamnya.

Paling tidak saya ingin membagi pengetahuan saya mengenai Emergency Respon Plan,Kesehatan Perjalanan dan First Aid untuk anak-anak muda yang akan ditempatkan didaerah-daerah sangat terpencil di Indonesia mengingat risiko yang dihadapi saat menuju lokasi mereka bertugas cukup lumayan. Saya kirim email ke salah satu team Indonesia Mengajar saat memasuki batch ke 2 dan menyampaikan keinginan tersebut.

Tanggapannya dikatakan sudah ada team yang menanganinya. Tentu saja saya kecewa. Tapi keinginan itu tetap ada dan saya yakin pasti bisa terlibat disana. Saat @PengajarMuda batch 1 selesai dan mereka menerbitkan buku berisi pengalaman-pengalaman mereka mengajar di daerah saya membelinya dan membacanya sampai tamat dalam setengah malam. Saya selalu mengikuti perkembangan @PengajarMuda melalui twitter.

Sampailah batch ke 4. Nggak ada hujan nggak ada angin tiba-tiba salah satu klien saya di perusahaan multinasional sms “Mbak Lelita, FYI kami ada acara voluntary utk ngajarin guru-guru First Aid di Purwakarta tgl 2-3 Juni, berminat nggak untuk gabung?” Spontan saja saya jawab,”Mauu mbak,bagaimana prosedurnya?”.

Saat itu saya di mobil perjalanan dari Pandaan ke Bandara Juanda Surabaya, dalam pikiran saya bakal ngajar guru-guru SD atau SMP di wilayah Purwakarta. Dijawab, “Alhamdulillah, besok aku info in by email ya Mbak”. Saya tunggu email keesokan harinya, tidak ada. Jam 1 siang ada telpon masuk ke Hp saya,’Mbak Lelita, saya temannya Mbak H dari PT.U mau memastikan kesediaannya untuk bergabung dalam team yang akan memberikan materi HSE untuk adik-adik di Indonesia Mengajar”, degg…asli saya merinding saat mendengarnya.

Subhanallah…rupanya Allah menjawab keinginan saya melalui jalan yang tidak saya sangka-sangka. Setelah itu email susul menyusul mengenai teknis pelaksanaan, jadwal training, denah lokasi training masuk. Dan insyaallah tanggal 2-3 Juni saya akan terlibat dalam pembekalan materi HSE (Health,Safety and Environment) untuk adik-adik di Indonesia Mengajar, persis seperti apa yang saya inginkan. Seperti pesan gurunda @JamilAzzaini untuk terus menginspirasi Indonesia.

Jadi,sangat penting untuk terus memelihara keinginan. Jangan patah semangat. Semua akan indah pada waktunya. Percayalah…. 🙂

Lelitasari

Bagikan:

6 thoughts on “Peliharalah Keinginanmu”

  1. Andri says:

    Inspiratif sekali…

    Saya seorang quality controller. Kerja di Tarakan. Ada yg mau sy diskusikan ke ibu. Caranya bgmn?

  2. Abdul Haris says:

    Subhanallah… Terimakasih inspirasinya bu Lelita. 🙂

  3. semangat tanpa henti utk berbagi dalam training/pelatihan ya bu…salam 🙂

  4. Rahmat E. Siregar says:

    Luar biasa. Semoga tetap dapat membuncahkan niat inspirasinya dan menjadi pemicu generasi muda untuk mencerdaskan Indonesia.

  5. jamzz syarif says:

    terima kasih tulisannya…kereen @jamzz_arief

  6. Andri says:

    Inspiratif sekali!

    Ibu, jika berkenan ada yang ingin saya diskusikan ttg HSE. Kemana saya bisa kontak?
    Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published.