Parents as Coach

Saya mungkin termasuk produk anak-anak yang memiliki orang tua yang cukup keras dalam mengasuh anak-anaknya. Cukup keras dalam artian banyaknya adegan marah-memarahi dan sering berkonflik antara saya dengan orang tua ketika saya anak-anak hingga remaja. Untunglah saya masih tetap bias menghormati dan menghargai mereka sebagai orangtua, karena tidak jarang juga kasus anak-anak yang pada akhirnya tidak menghormati dan menghargai orangtuanya lagi.

Di zaman sekarang saya dapatkan banyak sekali informasi dan pengetahuan mengenai berbagai macam pola asuh terhadap anak dan bagaimana dampak-dampaknya bagianak-anak tersebut di masa depan mereka. Selain itu juga saya dan kita semua para calon orang tua maupun para orangtua sudah bias memilih untuk menggunakan model pola asuh mana yang terbaik untuk perkembangan anak.

Salah satu model gaya pengasuhan yang efektif menurut saya, saya dapatkan sedikit ilmunya hari ini, Sabtu, 26 April 2014 di event seminar parenting yang diadakan Klub SuksesMulia. Coach Ferlita Sari, seorang Psikolog dan juga seorang Career & Family Coach memberikan ilmunya selama kurang lebih dua jam di salah satu ruang di Gedung Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan, Jakarta Selatan.

Apa yang diajarkan? Coach Ferli mengajarkan tentang Parents as Coach. Hmm. Seperti apa itu parents as coach?

Karena yang saya ketahui coach atau coaching itu sering dipakai di dunia pekerjaan atau untuk orang-orang yang bermasalah atau di bidang olahraga.

Ternyata dengan teknik coaching yang lebih banyak menggali dan seperti mengarahkan dengan pertanyaan demi pertanyaan. Namun yang perlu diperhatikan adalah tahapan usia dari anak-anak yang dihadapi. Tentu saja karena anak usia balita tidak mungkin bias ditanya-tanya secara serius. Dan batasan usia itu pula yang menentukan bagaimana porsi peran orang tua terhadap anaknya.

Menurut Diana Sterling seorang Parents Coach, pada anak usia 0-6 tahun, orang tua berperan sebagai teacher yang menanamkan norma dengan banyak memberitahu mana yang baik atau benar dan mana yang tidak serta membentuk aturan-aturan baku dalam berperilaku. Lalu pada anak usia 7-12 tahun, orangtua berperan sebagai administrator dengan lebih banyak bersikap mengingatkan saja dari aturan-aturan yang sudah dibiasakan.

Terakhir orang tua berperan sebagai coach untuk anak usia 12 tahun ke atas dimana orang tua akan lebih banyak melakukan diskusi dan banyak bertanya kepada anak karena pada dasarnya anaks udah dapat berpikir secara konseptual dan sudah dapat menilai sendiri apa yang benar dan baik dan mana yang tidak.
Idealnya, jika orangtua melakukan perannya sesuai dengan tahapan usia anak seperti yang dijelaskan di atas, maka tak perlu lagi ada banyak adegan marah-marah di rumah.

Wah, kelihatannya mudah ya. Tapi sesungguhnya calon orang tua atau orang tua masih perlu memiliki keahlian tertentu, terutama keahlian bertanya. Kenapa? Karena sebagai coach kemampuan bertanya dibutuhkan dan pertanyaan yang diajukan pun tidaksembarangan. Lalubagaimana caranya?

Sayang waktu seminar hari ini terbatas, sehingga pembahasan Parents as Coach belum tuntas di dapatkan termasuk cara-cara bertanya yang benar sebagai coach pada anak. Tapi saya tak perl ukhawatir, karena di Klub SuksesMulia akan ada mentoring parenting lanjutan yang diadakan 1 bulansekali. Mentoring selajutnya pun sudah terjadwal di tanggal 10 Mei 2014. Wah, Kosongkan jadwal deh dari sekarang, hehehe.

Salam SuksesMulia

Anggi Anggraeni
Production & Member Relation Klub SuksesMulia

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.