Orang Pintar Perlu Belajar Mendengar

thumb-2.jpg

Orang yang pintar sangat susah “mendengar”. Mungkin pernyataan saya ini kurang akurat karena hanya berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya dan beberapa teman. Namun inilah yang sering terjadi, orang-orang yang pintar dan ahli di bidang yang ia tekuni cenderung enggan mendengar orang lain.

Mereka sering terlalu asyik bekerja dengan gayanya. Mereka bekerja sesuai dengan kata hatinya. Mereka merasa orang lainlah yang membutuhkan dirinya. Kalimat yang sering terucap dari mulutnya, “Ini cara dan gaya saya bekerja, kalau tidak cocok silakan ke yang lain saja.” Tanpa disadari, mereka sudah terjangkiti penyakit kesombongan intelektual.

Apabila hal ini terjadi dalam jangka yang panjang, maka akan merusak kebersamaan team kerja dan yang lebih rugi lagi pelanggan akan pergi satu demi satu. Kini saatnya orang pintar dan ahli melakukan outside in: Mendengarkan apa yang dibutuhkan pelanggan, mendengarkan keluhan pelanggan dan mendengarkan para ahli dari bidang yang berbeda.

Produk atau jasa yang menjadi rebutan pelanggan di dunia ini karena memenuhi keinginan dan harapan pelanggan. Ketahuilah wahai orang pintar, derajat Anda akan semakin meningkat bukan hanya fokus dengan keahlian Anda tetapi justeru dengan mengoptimalkan telinga Anda. Orang pintar dan ahli tetapi “bebal” alias tak mau mendengar, perlahan tapi pasti akan tersingkir dari persaingan.

Orang pintar dan ahli tapi tak mau mendengar saat bekerja ia akan menjadi “trouble maker” dan dibenci banyak orang. Mereka merusak kebersamaan dan menguras energi. Karir mereka boleh jadi melesat namun kemudian berhenti di titik tertentu. Sementara bagi mereka yang berbisnis, dalam waktu tertentu bisnisnya akan mati.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam pengembangan usaha kecil sejak tahun 1994, saya banyak menemukan orang-orang yang pintar dan ahli gagal dalam bisnisnya. Mengapa? Salah satu sebab utamanya, karena ia tak mau mendengar suara hati pelangganya. Mereka tak mau mendengar masukan dan saran dari teamnya.

Wahai orang pintar, teruslah meningkatkan kepintaran dan keahlianmu, namun jangan lupakan fungsikan juga telingamu untuk semakin pintar dan ahli mendengar suara-suara dari sekelingmu. Dengarkanlah pesanku ini…

Salam SuksesMulia!

Bagikan:

22 thoughts on “Orang Pintar Perlu Belajar Mendengar”

  1. Herman Hanif says:

    Merasa diri lebih pintar ini yang membuat kita tidak mau mendengar, tetapi merasa diri sedang haus-hausnya ilmu maka kita akan selalu sadar bahwa kita harus mendengar.

    Terimaksih gurunda, semoga Pak Jamil terus diberi kesehatan oleh Alloh,& trus berikan senyum manisnya

    Izin share tulisannya ya kek.

    @HermanHanif

  2. airyz says:

    super sekali om 🙂

  3. Imam says:

    Orang pintar (sepertinya) tidak mau mendengar. Sementara itu, yg belum pintar terlalu banyak bertanya dan kebanyakan ide. Hehehehe… Jadi, ingat cerita Nabi Khidir dengan Nabi Musa.

  4. faruk says:

    What about you kek?

    1. Kalau saya sesang terus berlatih mas, salam SuksesMulia

  5. EventJogja says:

    mungkin orang2 pintar itu terlanjur nyaman merasa lebih pintar 😀

  6. Satria Wibawa says:

    Alhamdulillah, dapet ilmu, pagi ini. Makasih Ust

  7. Sahuri Nur says:

    Manusia tak ada yang sempurna, dan tempat salah dan lupa. Makasih kek #Peeluukk

  8. luar biasa,kemampuan mendengar dan kemauan belajar memang sangat diperlukan, paling susah ngasih masukan sama orang yang sudah merasa pintar, merasa senior, merasa banyak ilmu dan pengalamannya

    1. weningati says:

      bener tuh mas.. apalagi dikalangan birokrat… jangan sampe menerima masukan dari yang lebih muda, orang baru.. apalagi ada yang berani berinisiatif… langsung bakalan dicap lancang.. hiks…

  9. weningati says:

    buka mata, buka telinga, buka hati… semoga terus diberikan kemampuan untuk bisa merendahkan hati sehingga punya kemampuan mendengarkan oranglain.

  10. miftah says:

    orang pintar minum tolak angin
    hee..hee
    kalo dah diatas emang susah dengar suara dari bawah karena banyak anginnya hii…hiii
    masak harus turun ke bawah lagi capeeek deh…
    dulu waktu kecil sekolahnya sama angin bukan guru yang manusia yg selalu cuap2 di depan calon orang pintar itu makanya dah sulit mendengar…wong gurunya bukan manusia hi.hii

  11. syafwan salbi says:

    Memang benar adanya seperti itu : di birokrasi banyak tipe pemimpin yang fix mindset, sehingga tidak mau mendengar dan resisten terhadap perubahan, mereka tinggal dalam comfort zone mereka, untuk itu buat teman2 dan diri saya sendiri jadi orang yang berguna untuk orang lain, dengan growth mindset, terbuka, out of the box dan seperti padi

  12. Irshal Syukra says:

    Assalamu’alaikum kek,

    Masyaallah bener bgt ini, kalo kata guru saya itulah kenapa telinga diciptakan dua sedangkan mulut itu satu. Karena fungsi mendengarkan dua kali lebih penting dibanding berbicara.

    Sebab itulah, begitu lisan keluar >> yg pertama kali mendengar adalah telinga sendiri baru telinga orang lain.

    Salam sukses mulia kek, Jazakallah

    @irshalsyukra

  13. fachri says:

    Orang pintar “minum” tulisannya kek jamil 🙂

  14. Kejernihan Hati dan fikiran memang diperlukan untuk mendengar NASEHAT orang lain.

    Semangat SUksesMulia!

    Yang pengen nikah semoga disegerakan…

  15. Fitriani Robiah says:

    terus belajar, belajar terus.. terima kasih Kek Jamil 🙂

  16. shinta gufriani says:

    Kemampuan mendengar,ditingkatkan dengan terus belajar..krn mendengar saja,tanpa diiringi dgn kecerdasan emosional,bisa menjadikan semakin menyepelekan yg diajak bicara,merasa diri paling hebat.ataupun sebaliknya malah membuat semakin bimbang..filter diri sangat penting,jurus jitu diiringi dengan doa.tunjukilah jalan yg lurus aamiin

  17. Ahmad dahlan says:

    sangat setuju sekali kek,,sangat jarang orang yang mau jadi pendengar yang baik..kebanyakan malahan memotong pembicaraan orang padahal belum selesai berbicara.

    makasih sharingnya kek

  18. dodirustandi says:

    Sy dengar sy laksanakan !!

  19. ahmad says:

    harus pandai pandai mendengarkan

Leave a Reply

Your email address will not be published.