Nuraniku Menegurku

Share this
  • 147
  •  
  •  
  •  
  •  
    147
    Shares
Keterangan foto: Di depan White House (atas). Mampir di Islamic Center Boston
Keterangan foto: Di depan White House (atas). Mampir di Islamic Center Boston

Alhamdulillah, acara roadshow saya bersama Yana Julio di Amerika Serikat berjalan lancar. Pada acara terakhir di Washington DC saya diwancarai oleh wartawan radio dan televisiĀ Voice of America (VoA).

Kesuksesan acara di setiap tempat membuat saya bangga dan berbesar hati. Perasaan sombong sempat datang mengetuk hati, dan menggoda saya. Apalagi ada peserta yang berkata, “Anda bukan hanya pembicara level Indonesia tapi sudah kelas dunia. Perbaiki bahasa Inggris Anda dan Anda akan menjadi pembicara terbaik di seluruh dunia.”

Usai sholat Ashar di KBRI Wahington DC, saya merenung dan berdiskusi dengan nurani. Sang nurani berkata, “Jamil, inikah yang kamu cari? Puja puji dari banyak orang? Melakukan sesuatu demi popularitasmu? Hidup bukan tentang itu. Percuma bila hal itu kau dapatkan tetapi kau melupakan esensi perbuatanmu.”

Sang nurani kembali berbisik, “Ingatlah esensi perbuatanmu. Kau melakukan perbuatan pada hakikatnya untuk berbagi dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan yang kekal. Bila kau berbagi ilmu bukan karena ingin berbagi maka ilmu itu tak akan masuk ke dalam hati pendengarmu. Mungkin kau akan mendapat tepuk tangan karena pesonamu, namun ilmu yang kau bagikan akhirnya terserak dan hilang di perjalanan pulang mereka. Maka luruskan niatmu saat berbagi ilmu.”

Sayapun menarik napas panjang dan terdiam. Namun nurasi terus berkata, “Sungguh lelahmu juga menjadi sia-sia bila apa yang kau lakukan ternyata tak bisa kau jadikan bekal menuju kampung akhiratmu. Lelahmu ibarat butiran tanah diatas batu, segera tersapu saat air hujan datang membasahi batu itu. Maka luruskanlah kembali niatmu.”

Sang nurani berkata lebih keras, “Bila kau melupakan esensi dari perbuatanmu maka aku akan pergi darimu. Dan ketahuilah, bila aku pergi darimu maka kau akan menjadi mayat hidup dan sekumpulan daging yang menjadi budak ego nafsumu.”

Baca Juga  Menguatkan Kontribusi

Hati nurani merendahkan suaranya, “Kau sering mengajarkan hidup adalah pilihan. Sekarang aku bertanya kepadamu, masihkah kau memilihku? Dan bila kau memilihku, turutilah nasihatku.” Akhirnya, saya tersenyum pada nurani sebagai tanda bahwa saya ingin nurani tetap ada dalam jiwa.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini


Share this
  • 147
  •  
  •  
  •  
  •  
    147
    Shares

27 comments On Nuraniku Menegurku

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer