Nasihat Sang Kakak

Andi BadrenSaya mengawali artikel ini dengan sebuah pertanyaan. Jawab dengan jujur dari hati yang tulus. Jika anda seorang motivator hebat, karena apa orang lain memuji anda? Jika anda seorang trainer yang jam terbangnya padat, karyanya banyak, tarifnya besar, peserta seminarnya ribuan, apa yang membuat mereka memuji anda?

Bagi anda yang pengusaha dengan omzet miliaran bahkan triliunan rupiah, assetnya berlimpah, lah pokoknya sudah peringkat sejahtera dan makmur finansial, lalu ribuan orang bekerja di perusahaan anda sehingga dengannya mereka menafkahi keluarganya, apa yang membuat mereka takjub kepada anda?

Mungkin anda akan menjawab, karena saya mampu memberikan pekerjaan kepada banyak orang. Atau karena saya mampu menginspirasi ribuan orang sehingga dengan prestasi itu saya layak dipuji.

Senang dipuji adalah fitrah karena bagian dari penampakan naluri manusia, namun manakala menisbatkan pujian itu sebagai akibat dari sebab prestasi kita, usaha kita, karya kita, maka inilah pujian yang harus kita waspadai.

Dalam kajian tasawuf, Ibnu Attoillah as-Sakandari menuturkan dalam Alhikamnya bahwa saking kasih dan sayangnya Allah kepada kita, Allah pun memberikan dua bentuk perlindungan yang sering kita lupakan.

Pertama, Allah melindungi kita dengan menutupi aib kita, sementara perlindungan kedua yaitu Allah melindungi kita dari sebab-sebab tertentu yang akan menjerumuskan kita pada perbuatan buruk.

Allahlah yang mengasihani kita meskipun beribu kemaksiatan kita lakukan. Allahlah yang setia kepada kita padahal sering kali kita menyekutukan-Nya. Salah satu contoh menyekutukan Allah dalam kajian tasawuf adalah manakala kita menisbatkan pujian orang lain kepada usaha atau prestasi kita.

Sementara perlindungan Allah yang menutupi sebab-sebab tertentu agar kita tidak jadi melakukan perbuatan buruk, biasanya terjadi pada orang-orang yang memiliki banyak amal kebaikan. Seperti banyak berdzikir, mengerjakan amalan wajib dan sunah, memberi manfaat kepada orang lain, positif thingking, memperbanyak energi positif dan amal kebaikan lainnya.

Nah, sekarang pertanyaannya bagaimana jika Allah mencabut perlindungan pertama. Artinya, Allah tidak lagi menutupi aib kita, Allah memperlihatkan kepada manusia tentang apa yang kita sendiri malu jika diketahui mereka. Apakah manusia akan memuji kita? Hei, apakah manusia akan memuji kita? Sungguh terlalu sombong jika kita merasa pujian mereka sebagai akibat dari prestasi kita, padahal mereka memuji karena Allah menutupi aib kita semata, karena Allah menutupi aib kita semata.

Mungkin inilah maksud Kakak saya yang sekian tahun menulis nasihat singkat di binder saya “Andi, ulah bangga tina pujian jeung ulah benci tisagala hinaan”. Saya baru memahaminya, Terimakasih ya Allah atas titah-Mu melalui kakak saya.

Andi Badren

Bagikan:

3 thoughts on “Nasihat Sang Kakak”

  1. Astaghfirullah… Terima kasih nasehatnya.

    Ohya, bila perlu diterjemahkan ke Bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami.

    Semangat SuksesMulia!

  2. EventJogja says:

    trimakasih juga atas nasihat paginya, mengingatkan kita utk selalu meminta perlindunganNya dan memohon ampun atas salah & khilaf…:)

  3. syifa says:

    terima kasih mengingatkan

Leave a Reply

Your email address will not be published.