Myelin Emosi

Alguskha Nalendra Pradana SApa yang membedakan seorang pemain tenis amatir dengan pemain tenis profesional? Mungkin kebanyakan dari kita akan menjawab ‘jam terbang’.

Betul, salah satu elemen mendasar dari keberhasilan para tokoh yang sukses di bidangnya masing – masing adalah lamanya mereka berlatih dan mengasah diri.

Namun perlu kita cermati, bahkan di antara pemain profesional itu pun terdapat sosok –sosok yang lebih menonjol daripada yang lainnya, meski mereka berlatih dengan metode yang sama dan bahkan dari pelatih yang sama. Lantas apa yang membuat perbedaan itu mencuat?

Bagi Anda para pembaca buku ON hasil karya guru saya kakek Jamil Azzaini tentu tidak asing dengan istilah ‘Kerja Keras: Perkuat Myelin’. Ya, dalam buku setebal 280 halaman itu, pada halaman 91 kakek Jamil menuangkan tulisannya tentang ‘Kerja Keras: Perkuat Myelin’. Saya tidak akan membahas telalu detail tentang myelin ini, melainkan lebih mengupas inti pemahamannya.

Kembali ke analogi pemain tenis pada paragraf pembuka di atas, tentu kita masih sepakati bahwa yang membedakan para pemain tenis pemula dan profesional adalah jam terbang, baik itu berlatih atapun jam terbang untuk tampil, tapi mari kita telusuri lebih dalam pengaruh dari jam terbang tersebut. Saya ingin mengajak Anda untuk merenungi lebih dalam pengaruh jam terbang tersebut, yaitu apa yang terbentuk olehnya. Siapa menabur maka dia menuai, para pemain tenis profesional yang mengasah dirinya dengan berbagai jam terbang latihan tentu memetik hasil berupa pertumbuhan otot yang lebih baik, gerak reflek yang semakin tajam dan intuisi yang meningkat.

Secara sederhana, inilah yang diartikan sebagai myelin. Ya, myelin adalah muscle memory, atau memori otot, sumber dari segala talenta yang dibentuk melalui latihan yang terprogram. Myelin tersebar dlam bentuk system saraf pada otot manusia yang memberi perintah dan menyimpan informasi.

Saya teringat ketika pertama kali melihat kek Jamil tampil di panggung, betapa beliau bisa bergerak dan tampil dengan begitu luwer dan mengalir, ternyata di balik penampilannya itu tersimpan ribuan jam terbang berlatih dan tampil, apa yang beliau tampilkan bukanlah sekedar aksi spontan melainkan buah dari myelin yang sudah sedemikian terlatih. Begitupun yang terjadi pada saya, ketika pertama kali mengikuti Trainers Bootcamp and Contest pada bulan April silam, banyak sekali hal baru yang saya dapatkan untuk memperkaya metode penyampaian training, tebak apa yang terjadi ketika pertama kali saya mencoba menerapkannya? Berantakan! Wajar, karena myelin untuk kebiasaan baru itu belum terbentuk, sehingga canggung sekali rasanya.

Namun sekarang, seiring dengan berjalannya waktu dibarengi dengan jam terbang berlatih dan tampil myelin itu sudah mulai terbentuk.

Mari kita kembali pada paragraf pertama tadi, bahwa ada faktor yang membedakan para pemain tenis profesional satu dengan yang lainnya, yaitu meski mereka berlatih dari guru yang sama dengan porsi yang sama dan metode yang sama, ada beberapa sosok yang akhirnya menonjol lebih daripada pemain lainnya. Apa rahasia di balik kehebatan mereka? Inilah yang saya sebut myelin emosi.

Kebanyakan orang menjadikan proses berlatih sebagai bagian dari rutinitas, dan bukan bagian dari proses bertumbuh. Paradigma atas proses berlatih inilah yang membuat proses berlatih satu orang dengan yang lainnya berbeda.

Mereka yang terlanjur menjadikan latihan sebagai bagian dari rutinitasnya biasanya terjebak dengan meletakan fokusnya pada hasil akhir saja, yaitu bagaimana di akhir jangka waktu tertentu mereka mendapatkan peningkatan atas performanya, dan fokus hanya pada rutinitas latihannya dengan berpatokan pada prinsip myelin konvensional, bahwa myelin yang dilatih rutin akan mengalami peningkatan bertahap (meski mungkin lama dan bervariasi dari satu orang ke yang lainnya).

Lain dengan mereka yang menjadikan berlatih sebagai proses betumbuh, mereka akan meletakkan fokusnya pada proses. Sambil mereka berlatih mereka fokus pada apa yang SEDANG mereka lakukan, mereka menganalisa dan mengevalusi hal apa saja yang sedang berlangsung dalam tubuhnya, sehingga di jeda waktu istirahatnya, mereka mendapatkan ‘pencerahan’ tentang aksi – strategi berikutnya.

Pertanyaannya, yang mana yang lebih melelahkan dari kedua proses ini? Tentu saja yang fokus pada proses. Karena mereka yang hanya fokus pada rutinitas dan hasil akhir cenderung mengabaikan banyak umpan balik yang sedianya berguna untuk meningkatkan performa mereka dengan lebih efektif.

Mereka yang fokus pada proses bertumbuh menghabiskan lebih banyak waktu dan energi dalam pikirannya untuk bisa fokus pada proses yang sedang berlangsung, waktu dan energi itulah yang menyedot emosi dalam jumlah besar. Mereka yang memiliki ketahanan emosi rendah tidak akan kuat meletakkan fokusnya dengan metode ini, bisa dibayangkan betapa setiap berapa detik atau menit tertentu mereka menemukan fakta baru bahwa ada bagian dari gerakan mereka yang tidak efektif dan harus mereka perbaiki.

Salah satu elemen penting dari myelin emosi ini adalah elemen kecerdasan emosi yang disebut ketangguhan emosi (emotional adversity), atau oleh Paul Stoltz disebut dengan Adversity Quotient (AQ). Stoltz sendiri mengartikan AQ sebagai “…mampu bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan untuk mengatasinya…”.

Jelas, bahwa para pemain tenis atau atlit lainnya yang menglami peningkatan performa lebih cepat dibanding yang lainnya memiliki myelin emosi yang berbeda, terutama dari ketiga faktor ini:
(1) Mereka memfokuskan kesadaran emosi (emotional awareness)-nya pada proses yang berlangsung dalam tubuh dan pikiran mereka selama berlatih.
(2) Mereka memiliki ketahanan emosi yang tangguh untuk menyikapi beban fisik – mental – emosional yang muncul selama berlatih dan bertanding. (3) Mereka memiliki ketahanan emosi yang baik untuk memacu dirinya dalam meningkatkan kemampun dirinya.

Oleh karenanya, selain fokus pada myelin fisik, nampaknya sudah saatnya kita pun mulai fokus pada myelin emosi kita. Karena seperti salah satu karakter myelin yang belum sempat saya bahas tadi: ‘myelin yang sudah terbentuk tidak akan terbongkar kembali, kecuali diganti dengan kebiasaan baru’.

Bukankah menyenangkan rasanya jika kita memiliki ketahanan emosi yang tangguh yang menjadi bagian permanen dari diri kita? Dan jika kita saat ini memiliki beberapa hambatan mental yang terlanjur sulit diubah karena telah menjadi myelin emosi, tentu saatnya kita menggantinya dengan kebiasaan baru. Selamat berlatih.

Semoga bermanfaat.
Alguskha Nalendra Pradana S

Bagikan:

3 thoughts on “Myelin Emosi”

  1. tony jusran sahiboel says:

    kereeen ini.. i like this.. thanks..

  2. dnur77 says:

    alhamdulillah….Salam Pak

Leave a Reply

Your email address will not be published.