Mungkinkah?

asaSetelah 1,5 tahun di Jerman, kemarin anak kedua saya Ahmad Sholahuddin An-Nabhani (Asa) tiba di Indonesia. Begitu keluar dari pintu bandara, ia langsung berlari dan memeluk saya. Pelukan itu begitu lama, erat dan nikmatnya sangat terasa. Kenikmatan semakin terasa saat saya menyaksikan ia memeluk ibunya dan kemudian adiknya.

Berbicara tentang pelukan, selain nikmat pelukan itu bisa menurunkan stres dan lelah. Sebelum saya menikah, bila saya lelah, jenuh dan punya masalah, pelukan ibu sayalah yang menjadi obatnya. Setelah saya menikah, pelukan istri sayalah yang lebih banyak menjadi penggantinya.

Pelukan benar-benar membuat pelakunya merasakan kebahagiaan dan kenikmatan. Sungguh rugi bila ada orang yang enggan memeluk anak dan istri serta orang tua hanya karena alasan “jaim”, malu, tidak terbiasa dan alasan lainnya. Jadilah orang yang pro-aktif memeluk orang yang memang boleh kita peluk.

Saya selalu rindu dipeluk dan memeluk. Hingga saat ini, hanya ada satu pelukan yang sangat saya impikan namun belum bisa saya lakukan. Apa itu? Saya ingin memeluk kekasih Allah SWT, sang pembawa risalah, Nabi Muhammad SAW.

Setiap hari pikiran saya selalu bercampur antara harapan dan kekhawatiran, saya selalu berharap kelak bisa memeluk erat sang Nabi. Namun di sisi lain ada perasaan khawatir, “Pantaskah saya bisa memeluk orang yang begitu terhormat?”

Saya selalu merindukan moment bisa memeluk Nabi terakhir itu. Namun, pantaskah? Karena faktanya, saya begitu sering lelah dalam mencari nafkah namun sangat jarang lelah dalam beribadah. Berjam-jam saya bisa serius aktif di social media tetapi cepat terkantuk saat membaca kitab suci-Nya.

Ingin memeluk orang terhormat tentu harus diimbangi memantaskan diri untuk juga menjadi orang terhormat. Caranya? Taat kepada orang yang hendak kita peluk. Melakukan hal-hal yang dicintai orang yang hendak kita peluk sekaligus menjauhi apa-apa yang ia benci.

Pelukan rindu kepada anakku telah menyadarkanku, ternyata memeluk itu nikmat. Apalagi memeluk orang yang sangat kita rindu. Untuk mewujudkan impian di dunia saya tak pernah khawatir. Tetapi untuk mewujudkan impian memeluk sang Nabi di kehidupan nanti, saya selalu khawatir. Mungkinkah? Pantaskah?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Keterangan foto:
Asa, menemani saya i’tikaf.


TBnC9


Bagikan:

21 thoughts on “Mungkinkah?”

  1. Cahyani says:

    Semoga Alloh beri kekuatan bermujahadah dalam ibadah dan mudahkan kita berjumpa dengan Rasulnya nanti ya kek. Aamiin..

  2. Faisol says:

    Masya Allah kek, semoga kita dipantaskan untuk memeluk Beliau,

  3. Makananya dalam kek, matur suwun, menyadarkan kembali diri kita mau ke mana tujuan akhirnya nanti…andai ada yg bisa kupeluk dengan hangat pagi ini

    1. Bang Toyib sedang ada dimana? Koq gak ada yg bisa dipeluk? Peluk dari jauh dariku untukmu

      1. toyib says:

        Bang toyib lagi di jogja.. saya jd ingat pelukan dg pak Jamil saat selesai seminar di jogja expo center dulu… saya ingin sekali ikut training pak jamil.. bgmn caranya?

  4. jumadi subur says:

    Wahai sang cinta, aku mendambamu pada titik paling rindu, layakkah aku berada didekatmu, sedangkan kini aku jauh dari sunahmu. Takpernah kulihat wajah keagunganmu, namun kerinduan bertemu denganmu adalah harap tertinggiku, sebagai orang yang mengaku umatmu.

    1. Kata-katamu membuat aku meneteskan airmata. Terima kasih mas

  5. @andihakim31 says:

    Ya Allah..syukrON beh nasehatnya.
    InsyaAllah sy akan memeluk orang tua saya nanti pas pulang, jadi teringat wajah mereka. Kangen mereka..
    Sy ikut mendo’akan insyaAllah babeh bisa memeluk kekasih Allah, Rasulullah Muhammad SAW. Semoga kita bisa memeluk beliau di akhirat nanti, Amiin YRA.

    1. Salamku untuk kedua orang tuamu.

      1. @andihakim31 says:

        Iya beh insyaAllah nanti disampaikan salamnya, kamis mungkin sy pulang ke pulau walaupun hanya satu hari. Sudah kangen dg beliau

  6. @KeizenHasan says:

    Pelukan anak yg masih balita biasanya sangat menenangkan mungkin karena Ia belum berdosa

  7. @KeizenHasan says:

    Tak terbayang betapa bahagianya jika bisa memeluk Rasulullah Muhammad SAW, Aamiin ya Rabb

  8. raifan enhaka says:

    peluk ke jamil

  9. raifan enhaka says:

    peluk kek jamil

  10. Prastyo says:

    Semangat kek, mari sama sama berusaha memantaskan diri.. 🙂

  11. hasan says:

    wah sakit nie hati membaca artikelna.. kangennn 😀

  12. plasa-id says:

    memang kek, pelukan memang memiliki efek yang dahsyat…

  13. Zakiy says:

    Semoga kita menjadi rombongan yang kelak disambut oleh Kekasih Alloh Nabi Muhammad SAW dengan senyuman dan Beliau SAW mengulurkan tangannya yang mulia untuk memeluk kita.. Ya Alloh kabulkan doa para hamba-Mu ini..

  14. damayanti says:

    asa asaan mirip pa jamil 😀

  15. Kamsahmnida MengInspirasi Bangett..

  16. riziq says:

    ingin rasanya dipeluk oleh ortu, tp malu rasanya kalau harus memulai duluan..

Leave a Reply

Your email address will not be published.