Mudik ke Kampung Akhirat

Kalau Anda mudik, atau mengamati orang yang mudik, mestinya Anda tahu apa yang diperlukan orang mudik. Ya, semua orang mudik pasti perlu bekal. Bagi yang bekalnya berlimpah, mereka bisa mudik dengan banyak pilihan moda transportasi, mulai dari menggunakan mobil pribadi, sewa mobil hingga menggunakan pesawat terbang.

Akan tetapi, bagi mereka yang bekalnya pas-pasan, pilihan penggunaan moda transportasinya terbatas. Biasanya mereka mengunakan bus ekonomi, kereta ekonomi atau sepeda motor sehingga waktu perjalanannya jadi lebih lama. Belum lagi selama perjalanan harus berjibaku dengan kemacetan, panas dan ketidaknyamanan lainnya.

Walhasil, banyak sedikitnya bekal menentukan kenyamanan di perjalanan dan juga kenyamanan setelah sampai kampung halaman.

Nah, untuk mudik yang hanya beberapa hari saja kita memerlukan bekal. Apalagi untuk mudik yang abadi ke kampung akhirat, bekalnya pasti harus lebih banyak dan tidak boleh asal-asalan. Dan, bekal mudik ke kampung akhirat itu hanya iman dan amal soleh.

Sekarang mari coba kita hitung bekal kita, sudah cukupkah untuk menuju kampung akhirat? Modalnya kita hitung dari 3 hal: 1) Bagaimana hubungan kita dengan diri kita. 2) Bagaimana hubungan kita dengan orang lain, dan 3) bagaimana hubungan kita dengan Sang Maha Pencipta.

Pertama hubungan kita dengan diri sendiri berkaitan dengan pola pikir, sikap, makanan dan pakaian. Apakah pola pikir dan sikap kita sudah positif, produktif dan kontributif? Jujurkah kita? Punya integritaskah kita? Apakah makanan yang kita makan semuanya halal, bukan berasal dari uang hasil korupsi, bukan dari uang hasil menipu, bukan dari gaji buta? Apakah pakaian yang kita pakai sudah sempurna menutup aurat?

Kedua, bagaimana ketika kita berhubungan dengan orang lain? Apakah kita menjaga kehormatan saudara kita? Apakah kita bersikap baik dengan orang tua kita? Apakah kita menghormati tetangga kita? Apakah kita peduli dengan orang-orang yang hidupnya tertindas? Apakah kita sudah bisa menjadi suri tauladan buat pasangan hidup dan putra-putri kita?

Ketiga, bagaimana hubungan kita dengan Allah Sang Maha Pencipta. Apakah kita sering bertamu ke rumah ibadahNya? Apakah kita sudah menjalankan semua perintah dan meninggalkan laranganNya? Apakah kita sering mengingatNya? Apakah kita selalu membawa serta Allah kemanapun dan dimanapun kita berada?

Semoga kita memiliki modal dan bekal yang cukup sejak sekarang. Sebab, mudik lebaran itu waktunya bisa kita tentukan namun mudik ke kampung akhirat bukan kita yang menentukan waktunya. Kapanpun dan dimanapun kita harus selalu menyiapkan bekal yang cukup untuk pulang ke kampung akhirat.

Saudaraku, sudah cukupkah bekalmu jika harus mudik ke kampung akhirat hari ini?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

15 thoughts on “Mudik ke Kampung Akhirat”

  1. mustika yanti says:

    Pertanyaan2 yg merefresh diri, apakah bekal ‘pulkam’ akhirat sdh benar2 dipersiapkan dg baik. Menjadi bahan u koreksi diri. Sungguh mencerahkan.

  2. @Edoremifa says:

    Modal yang ketiga merupakan modal wajib… Kalau modal yg ketiga sudah terpenuhi kemungkinan modal 1 & 2 juga selaras…. Pagi ini mbah Jamil menyadarkan saya lagi… Terimakasih…

  3. wildan says:

    belum banyak bekal yang bisa dibawa, tapi harus selalu berbekal dan mempersiapkan diri. terima kasih pak, sudah banyak mengingatkan..

    salam SuksesMulia

  4. Jamil says:

    Mari kita perbanyak amal soleh yg produktif. Salam SuksesMulia. Jamil Azzaini

  5. narsih says:

    really like this article, mr jamilazzaini, very much 🙂

  6. mirwan fath76pontianak says:

    Ya RABB… Akhiri hidup kami dgn khusnul khotimah… ramadhan akan pergi mari tingkatkan lg amal2 kita, kt sambut milyaran malaikat2 yg turun kebumi di malam lailatul qadar dgn i’tikaf.. semoga kita mendapatkan malam kemulian, tolong doa kan saya dalam untaian doa2 anda ust.JA n semuanya..

  7. Anggit Setyaningsih says:

    Subhanallah..
    Aku nangis baca tulisan ini 🙁
    insyaAllah udh ada niat buat iktikaf..smg org tua mengijinkan.amiin

  8. rosna says:

    subhanallah… menjadi bahan introspeksi diri di penghujung Ramadhan.
    thanks pak jamil…

  9. Budi Santoso, BTM Kalibening- Banjarnegara says:

    Ada yg terlewatkan Ustadz JA. Biasanya kalo kita pulang mudik senang sekali karena kita pulang ke kampung kelahiranya. Tetapi kebanyakan kalo kita pulang ke kampung akhirat utk hidup yg sebenarnya dan kekal selamanya kita takut. Sbbnya y karena kita kekurangan bekal. Ustadz JA, betul tidak?

  10. irna says:

    Lagi2 dibuat menangis oleh tulisan Pak Jamil 🙂 terima kasih Pak atas pencerahannya

  11. Untara says:

    Ah, Pak Jamil!

    Beberapa hari lalu sepulang kantor saya mengalami kemacetan lalu lintas yang luar biasa. Setelah perlahan lahan maju saya mengetahui apa penyebab kemacetan itu. Sesosok tubuh terbujur diam di trotoar bertutupkan berlembar lembar koran dan beberapa petugas polisi mengelilinginya.

    Seorang pengendara sepeda motor di sebelah saya berkata kepada teman yang diboncengnya “Kasihan, padahal sebentar lagi buka puasa ..”

    Hati saya serasa remuk mendengar kata kata itu, mungkin saja korban kecelakaan lalu lintas itu adalah sama seperti saya, yang sedang berusaha pulang untuk berbuka puasa bersama keluarga yang menunggu di rumah.

    “Semoga ALLAH menjamunya dengan hidangan buka puasa di surga” dan mata saya mendadak kabur

    Terkadang kita merasa bahwa hidup ini penuh dengan ketidakpastian. Tapi satu hal yang JELAS dan PASTI itu adalah kematian. Kita sering lupa! Sibuk mengejar dunia dan isinya, kita lupa dengan kampung akhirat – sebuah tempat yang PASTI akan menjadi tujuan akhir setiap orang dalam kehidupan ini.

    Terima kasih, Pak Jamil! karena sudah mengingatkan.

  12. Farah says:

    Trims ya Mr.JA udah membuatku tersadar klo mudik keakhirat tidak akan pernah tau kapan. Sy jd menangis belum seberapa bekal yg saya punya.

  13. erickazof says:

    Mungkin pulkam saat lebaran menjadi tradisi di bangsa ini, namun esensi nya lebaran tidak hanya bermaaf-maafan kepada keluarga saja menurutku..

    Sudah patut kita tanyakan kpd diri kita, “Sudahkah dosa kita dimaafkan oleh-Nya? Apakah amal ibadah puasa kita diterima oleh-Nya?” Sesaat itu pula Aku teringat akan mudik ke kampung akhirat yang tiketnya yaitu amal dan ibadah kita di dunia..

    Salam sukses mulia Om Jamil 😉

  14. hasan ridwan says:

    Subhanallah,

    Alhamdulillah,msk pun tdk bs bertatap muka kembali,tulisan2 p jamil senantiasa jd inspirasi yg sgt baik. Smg senantiasa dibrkn kekuatan lahir dan bathin utk terus memberikan inspirasi bg kt semua ya pak? Mhn doanya pak, niat sy utk mengikuti bpk dgn proposal hidupnya sampai skrg blm selesai jg.smg dgn silaturahmi terus di twitter ini sy bs smkn termotivasi utk sgr mentuntaskannya.Amien yra.wass wr wb

  15. Husaema says:

    Alhamdulllah Rabbil Aalamin, sungguh merupakan suatu bahan renungan yang sangat berharga bagi hamba Allah dalam rangka instrospeksi diri dan evaluasi diri sebelum dievaluasi oleh yang Maha pada saatnya yg tidak ada satu manusiapun yang bisa mengelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published.