Modal Sosial

modalsosial.jpg
Keterangan foto: Mursida Rambe, Nugraha (makelar online), saya, Karman (pemilik Sidji batik) dan Among Kurnia Ebo (Pengusaha dan Mentor bisnis). Bersama santri dan pendiri Pesantren Yatim dan Dhuafa Ad-Dhuha Jogyakarta.

Keterangan foto (dari atas ke bawah): Mursida Rambe founder BMT Beringharjo. Bertamu ke Sidji Batik Nugraha (makelar online), saya, Karman (pemilik Sidji batik) dan Among Kurnia Ebo (Pengusaha dan Mentor bisnis). Bersama santri dan pendiri Pesantren Yatim dan Dhuafa Ad-Dhuha Jogyakarta.

Memberikan training hampir setiap hari kadang membuat jenuh. Oleh karena itu, saya meminta waktu istirahat sejenak kepada tim saya untuk jeda, memutus rutinitas. Kesempatan ini saya gunakan untuk bertemu dan berguru dengan para pengusaha yang terus bertumbuh. Mereka maju karena rela bekerja keras, bersedia bersusah payah, berjibaku setiap waktu dan jauh dari merengek-rengek meminta fasilitas dari pemerintah.

Saya ngobrol dengan mereka, makan bersama, menyerap ilmu dan energi untuk kemudian saya petik pelajaran sebagai bahan pelengkap untuk pembuatan proposal hidup yang baru. Insya Allah, 14 Januari 2014 saya akan berangkat umroh untuk mengajukan proposal hidup yang baru tersebut kepada Allah, Sang Maha Tahu.

Dari semua pengusaha yang saya temui, saya mengambil kesimpulan bahwa mereka tumbuh karena modal sosial yang mereka bangun. Apa itu modal sosial? Kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan tanpa pamrih kepada masyarakat sekitar. Karena modal sosial inilah, Mursida Rambe mendapat pinjaman mesin ketik, kantor dan lain-lain saat ia mengawali bisnisnya membangun BMT Beringharjo. Bisnis yang bermula dari modal 1 juta rupiah itu kini telah beraset 75 milyar rupiah.

Bukan hanya itu, karena kiprah, sepak terjang dan kepeduliannya kepada masyarakat, saat pembukaan kantor BMT Beringharjo di Jogjakarta Mursida Rambe berhasil menghadirkan Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk meresmikannya. Padahal, tidak ada perjanjian bisnis atau komitmen bisnis apapun dengan orang nomor satu di Jogjakarta ini.

Saat jeda kemarin, saya juga menyempatkan diri mampir ke tempat belajar mas Ali Akbar (@PakarSEO) di Jogjakarta. Ia mendapat rumah yang begitu besar untuk digunakan sebagai tempat pendidikan para optimizer karena modal sosial yang ia miliki. Ia senang membangun relasi, menolong dan membantu orang yang buta internet, juga berkomitmen mengoptimasi berbagai potensi untuk mengembangkan suatu propinsi.

Melengkapi perjalanan saya di Jogyakarta, Senin malam saya makan sate klathak lalu Selasa siangnya saya menyantap sambal belut pak Sabar. Saat itu saya ditemani Among Kurnia Ebo dan Karman (pemilik Sidji Batik). Dari cerita dan kiprah mereka di dunia bisnis saya semakin tahu bahwa mereka terus bertumbuh karena modal sosial yang mereka sebar dan tanamkan.

Hal itu terbukti, saat mereka saya ajak berkunjung ke Pesantren Yatim dan Dhuafa milik Andres Bahari, alumni Akademi Trainer, tanpa dikomando mereka menyelipkan amplop untuk pengembangan pesantren tersebut. Tentu yang saya saksikan itu hanya bagian yang sangat kecil dari modal sosial yang biasa mereka lakukan.

Bagi Anda pembaca yang ingin terus berkembang baik karir dan bisnisnya, perbanyaklah modal sosial Anda. Melakukan kebaikan tanpa mendapat imbalan yang terlihat. Saat transaksi bisnis kita memang harus menghitung untung dan rugi, namun hal tersebut jangan terbawa saat bersahabat dan hidup bermasyarakat. Biarkan itu menjadi modal sosial Anda yang suatu saat akan menghasilkan dari arah yang tidak diduga. Percayalah.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

28 thoughts on “Modal Sosial”

  1. ririn says:

    Sgt menginspirasi

  2. supriyanto says:

    Sepakat.. pak guru.. saya punya pengalaman pribadi. sering melakukan kegiatan sosial juga berumpan balik dlm kehidupan ini, ketika menyelenggarakan kegiatan baitul maal training pemberdayaan, anak saya pas sakit. harus opname “kelas 2, kelas 3, kelas 1, kelas vip kosong adanya kelas vvip” akhirnya “terpaksa” di VVIP. ternyata ada rizki tak disangka karena biayanya ngikut kelas 2 dan gratis di tanggung asuransi. hehe. lagi masyarakat kanan kiri kita juga senang dengan kita. matur suwun.

    1. Nyata dan terbukti, salam SuksesMulia

  3. Setuju banget kek…harus saya contoh mulai sekarang…Mohon doanya 🙂

  4. jussie says:

    Kami mengenal Bapak kami sebagai figur yang keras, disiplin dan pendiam (maklum beliau dari Marinir). Namun pada saat beliau meninggal, kami dikejutkan dengan banyaknya pelayat yang tidak kami kenal. Dari mereka kami mengetahui kebaikan Bapak kami dan contoh tanpa pamrih yang dilakukan beliau.
    Disaat hidup beliau mengajarkan kedisiplinan, keberanian dan ketegasan. Bahkan disaat meninggal, beliau masih meninggalkan keteladanan tentang modal sosial.
    Bapak kami benar-benar bapak yang luar biasa. Doa kami senantiasa bersama beliau.
    Kalo boleh P. Jamil, saya mau titip doa untuk bapak saya ketika P. Jamil berumrah. Matur nuwun.

    1. Kirim doa buat ayahanda, al fatihan

  5. mhd husni tarigan says:

    Saatnya colaboratiON, kita, bukan aku. Mantafff kek

    1. Asyik, masih nancep 🙂

  6. yang nggak bakal jenuh itu kalo kuliah Ngakak di Sate Klatak Kek… adanya nagih, bukan ogah… hehehehe.. Salam SuksesMulia Kek! LanjutGan misi suci Kakek menginspirasi 25 juta anakmuda Indonesia menjadi pribadi yang hebat dna berkarakter!!! Cucumu mendOakanmu dari jauh…

    1. Terus tebarkan ide-ide liarmu dan akan semakin asyik kalau ada pendamping hiudpmu, hehehe

  7. dnur77 says:

    alhamdulillah…memang amalan harus terus kita pupuk terus….suburkan sedekah…salam SuksesMulia

    1. Tidak hanya sedekah mas, tetapi semua amal kebaikan

  8. saddam wira hamdani says:

    benar kakek guru…. saya sudah merasakannya… saya akan semakin semangat membangun komunitas INDONESIA ENTREPRENEUR CLUB

  9. andres bahari says:

    Terima kasih kek jamill dan semua yg datang, sy masih merebes milli Dihati, sangat bersejarah sekali bagi saya dan santrii angkatan perdana ini. Insya Allah tambah sukses mulia dan banyak dapat kesempatan 6 AH sebagaimana doa2. Kami kemarin. Barakallah.. 3x

    1. Peluk dari jauh ustadz

    2. Pak Andres, kalau tidak keberatan, bisa saya tau pin bb atau no hp nya..? via email saja pak ke iwan0608@gmail.com

      mohon maaf ya kek, pinjam jalur nya..he.he.he.he..

      1. Kang Iwan harus support pesantren ini, salam SuksesMulia

  10. Saya sangat yakin itu kek…. karena kaya bukan lah tujuan utama dari membangun bisnis tapi kaya adalah sarana untuk berbuat yang terbaik bagi sesama….

  11. basith says:

    inspirasi yg baik, kyai jamil ini tingkatanya layak jd guru bangsa selevel Gus Dur, slalu menginspirasi

  12. Modal Sosial memang MAHAL Harganya…

  13. Wahyu Blahe says:

    Berjiwa sosial itu penting, belajar social media dengan Pak Ali @PakarSEO dan kek Jamil sangat penting untuk memiliki jiwa yang layak untuk bersosial namun menghasilkan bisnis yang juga sosial, luar biasa kek, rangkulan singkat saat di pesta wirausaha Medan, itu sudah lebih memberi pengaruh positif untuk saya..Wassalam..

    1. Yes. Ayo praktekkan 🙂

  14. kasman says:

    modal sosial epos yg akan menumpuk shg kembali nya tanpa disangka2.

    1. Energi positif (epos) berbuah positif, energi negatif (eneg) kembali negatif. Apa kabar pak ?

  15. Budi says:

    Alhamdulillah, banyak orang telah membuktikan termasuk saya sendiri. Banyak hal tak terduga- kebaikan2- yang datang silih berganti. Mulai dari makanan, kerjaan, hadiah, tempat tinggal sampe kendaraan dan masih banyak nikmat yg datang seolah tanpa henti. Benar janji Alloh. Siapa yg bertawakal, bertaqwa,beriman dan beramal soleh akan mendapat rezeqi dari arah yg tak disangka. Jazakalloh khoiron Pak Jamil Azzaini, saya mendapat kesempatan belajar di PERWIRA ABA.

  16. princess amanda says:

    luv this article so bad….
    tengkyuu grandpa…

  17. andriansyah says:

    Modal Sosial ini membuat hidup makin bermakna…. Thanks Kek…

  18. always inspiring…love you Kek Jamil

Leave a Reply

Your email address will not be published.