Minyak Babi

pig-cartoon-animal.jpg

Dari sejak Rabu malam (27/4/2016) saya berada di Bali untuk memberikan training di Telkomsel. Tema trainingnya, “Spirituality at Work: A Journey From Money to Meaning”.

Usai sholat subuh di Masjid Al Ikhlas tadi pagi, setelah menjemput istri di hotel, saya langsung berjalan kaki menuju pantai Sanur Bali untuk menyaksikan sunrise. Sembari olah raga jogging di pinggir pantai saya menyaksikan keindahan sunrise di pantai Sanur.

Bali memang kaya tempat wisata. Saya sudah berulang kali ke Pulau Dewata ini. Dan, bila berkunjung ke Bali, salah satu yang saya ingat juga adalah cerita minyak babi.

Alkisah, ada seorang kakek yang tidak terlalu paham ilmu agama hendak berlibur ke Bali. Sang anak berpesan berulang-ulang, “Bapak tidak boleh makan makanan yang mengandung minyak babi selama di Bali.”

Kakek itu pun menuruti nasehat anaknya. Setibanya di Bali setiap mau makan ia bertanya, “Ini menggorengnya pakai minyak apa?” Apabila jawabannya menggunakan minyak babi maka ia urungkan niatnya untuk makan.

Suatu ketika ada makanan yang terlihat enak sekali, sang kakek pun ngiler ingin menikmatinya. Ia pun bertanya, “Ini digoreng pakai minyak apa?” Pramusajinya menjawab, “Digoreng pakai minyak babi, kek.”

Betapa kecewanya sang kakek mendengar jawaban itu. Lelaki tua inipun akhirnya pindah ke restoran yang lain. Saat ia sedang berjalan tiba-tiba ia bertemu dengan rumah makan di pinggir jalan dimana masaknya bisa terlihat jelas.

Kakek itu pun bertanya, “Sedang menggoreng apa, mas?” Juru masak menjawab, “Daging babi, kek”. Kakek itu melanjutkan pertanyaan, “Menggorengnya pakai minyak apa, mas?” Sang juru masak menjawab, “Menggorengnya pakai minyak bimoli, kek.” Sang kakek pun kegirangan dan bergumam, “Akhirnya ada daging yang digoreng bukan dengan minyak babi. Pesan satu porsi, mas.”

Kuasailah ilmu secara utuh, jangan hanya mengikuti sesuai nasihat. Setuju?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

One thought on “Minyak Babi”

  1. wiwien says:

    Hhehehe… kocak

    segar2 disore sore lepas jam dinas

Leave a Reply

Your email address will not be published.