Merawat Orang Tua

Mengajak orang tua tinggal di rumah kita bukanlah hal yang mudah. Saya termasuk yang tidak berhasil dalam urusan ini. Walau sudah menyediakan rumah, orang tua dan juga mertua menolak tinggal menetap bersama keluarga saya. Berbagai rayuan sudah dilakukan namun tak jua membuahkan hasil. Oleh karena itulah saya termasuk orang yang sangat iri apabila ada seorang anak yang bisa merawat orang tuanya setiap hari.

Saya sering bertemu dengan orang yang dengan tulus merawat orang tuanya, salah satunya adalah adik saya. Ciri-cirinya mereka sangat care, helpful, cepat tanggap dan jarang mengeluh. Tutur kata yang keluar dari mulut mereka sangat lembut dan tertata. Tampaknya mereka khawatir kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa menyakiti orang tuanya.

Sejauh pengamatan saya, orang-orang yang dengan tulus merawat orang tuanya kehidupannya selalu bahagia. Bila ia pengusaha, bisnisnya lancar. Jika ia bekerja karirnya cepat melejit. Bukan hanya itu, anak-anak mereka juga menjadi anak yang baik, cerdas dan sholeh.

Hebatnya lagi, anggota keluarganya sangat jarang sakit dan jarang bermasalah. Apabila suatu saat mengalami problem, masalahnya bisa segera terselesaikan. Kehidupannya benar-benar dipermudah oleh Sang Maha. Itu balasan di dunia. Dan saya yakin, balasan di kehidupan nanti jauh lebih besar.

Apakah setiap orang yang hidup bersama orang tuanya selalu bahagia? Jawabannya, tidak. Saya bertemu dengan banyak orang yang seperti ini. Mereka hidup bersama orang tuanya tetapi kehidupan pribadinya justru berantakan.

Setelah saya dalami, ternyata walaupun mereka hidup bersama tetapi mereka tidak merawat orang tuanya. Kata-kata dan sikapnya sering menyakiti orang tuanya. Mereka sering meminta orang tuanya melakukan sesuatu yang sebenarnya lebih tepat dilakukan pembantu atau baby sitter.

Ternyata, hidup bersama orang tua belum tentu menjadikan kita merawatnya. Bahkan boleh jadi kita justru “menyiksa” orang tua tanpa kita sadari. Jadi, pastikan kita benar-benar merawat orang tua bukan hanya sekedar tinggal bersama. Setuju?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini


TBnC9


Bagikan:

37 thoughts on “Merawat Orang Tua”

  1. Setuju kek!! πŸ˜€

    merugilah kita yang tinggal bersama kedua orang tua, namun tidak kita manfaatkan sebagai kesempatan untuk selalu berbakti kepada mereka

  2. adi says:

    Birrul walidain…tdk hanya materi

  3. hendri says:

    setuju banget kek..salam hangat

  4. purwanti says:

    Alhamdulilah, saya dan kemudian dilanjutkan adik merawat kedua ortu kami sampai kembali ke pangkuanNya. Benar adanya, semua dipermudah olehNya

  5. dewi says:

    Kek…bagaimana menghadapi ortu yg maaf mindsetnya uang & harta melulu. Bukan maksud ingin menyebar aib, hanya kasian dg suami saya yang sudah bekerja sepenuh tenaga & pikiran utk menghidupi anak, istri & ibunya, tapi ibunya tidak pernah merasa cukup. Kami ingin sekali ibu tinggal bersama kami & merubah mindsetnya, tapi belum berhasil juga.

    1. Itulah tantangan keikhlasan. Boleh jadi ibunya memang belum cukup. Bila kita sulit mengharap orang lain berubah maka ubahlah cara pandang kita, sikap dan juga perillaku kita. Salam SuksesMulia

  6. Afif says:

    Saya belum berkesempatan merawat karena Ortu jauh di luar negeri dan sudah tidak lengkap alias tinggal ibu. Bagaimana merawatnya jadi bingung juga.

    1. Didoakan selalu, pastikan ada orang yg menjaganya di dalam negeri, dan perbanyak amal sholeh karena insya Allah pahalanya mengalir hingga ortu

  7. @andihakim31 says:

    Setuju babeh!
    Meskipun saya jauh dg orang tua, tp sy berusaha utk selalu mengunjungi beliau meskipun harus mengarungi lautan. Sy hanya bisa berusaha untuk bisa membahagiakan mereka, walaupun hanya membelikan buah kesukaannya. Semoga bisa segera mewujudkan keinginan orang tua untuk menunaikan ibadah haji. Aamiin YRA
    Makasih babeh, tulisan babeh selalu memberikan semanga dan energi positif

  8. TPsugiharto says:

    SUNGGUH tidak ada kecerdasan yang lebih tinggi, amal yang sangat mulia, dan pahala paling agung dari diri seorang Muslim setelah ia beriman dan berjihad kecuali senantiasa memuliakan orangtuanya dan merawatnya hingga akhir hayat…

    Siapapun dari umat Islam yang tidak memuliakan orangtuanya berarti dia tidak berhak atas kemuliaan. Sebaliknya, kehinaan demi kehinaan akan selalu menghampiri perjalan hidupnya di dunia maupun akhirat…Na’udzubillahi Min Dzaalik…

    Jadi, memuliakan orangtua dan merawatnya adalah perkara utama. Bahkan setara dengan jihad (perang) di jalan Allah Ta’ala…

    Terimakasih buat Bp. Jamil..yang selalu mengingatkan kita semua…yang seringkali lalai dan tergelincir dalam kesombongan diri…semoga kita bisa meneladani kisah2 lainnya, termasuk Keteladanan Uwais Al-Qarni…

    Wallohu A’lamu Bish-showab….

  9. rachma esty utami says:

    subhanalloh…makasih kek udah diingatkan lwt tulisannya ini…

  10. Farah says:

    Thanks for remaind me Kek, we are leaving with our parents and everithing that you’ve wrote its 100% right.

  11. yuni says:

    Setuju BGT kek,sukron ^^

  12. sssintaa says:

    Kek, gmn dengan orang tua yg menjadikan anaknya budak?? Orang tua yang hanya mengigat dunia namun enggan mengigat Allah??

    1. Tugasmu mengingatkan. Punya orang tua Atheispun harus tetap dihormati, jangan lupa sambil didakwahi.

  13. suwandagni says:

    Bersyukurlah bagi yang masih memiliki Ibu, jaga dan rawatlah Ibu dengan baik karena ada kemuliaan dan Ridho Allah SWT disana.

  14. Sri Lestari says:

    Kena deeh ! sy akan berusaha lebih baik lagi merawat Ibu yg sudah lebih dari 18 tahun tinggal bersama saya. Terima kasih Pak, sudah mengingatkan saya.

  15. khusnul fatonah says:

    Setuju, Kek. Tulisan yang sangat menginspirasi. Trims πŸ™‚

  16. ANDI says:

    Semoga kami dapat membahagiakan dan memuliakan orang tua di rumah sendiri.. dan terhindar dari sikap yang menyakiti dan membuat tersinggung mereka.. aamiin

  17. irfan z says:

    Setuju mas,karena ridho kedua orangtua adalah sebagian ridho Allah SWT.
    saya ada masukan sedikit mas kalo bisa artikel2nya ditambahkan fitur untuk share lewat email atau facebook begitu mas supaya gampang sharenya

  18. khotim says:

    mbrebes mili.. refleksi kek.. nuwun

  19. Puspa says:

    Kalo ortunya jahat? Gimana pak? Contoh: suka mengadu domba antar anak, ghibah, gamau sholat, hobby ngutang,suka Bohong, pura2, palsu, matre, duluu saat sy remaja pernah memberikan sy ke om om penjudi hidung belang, (ini yg mmbuat sy enggan membahagiakannya skarang) kok tega ya? Dan perlakuan jahat lainnya, dll. Skarang lg sakit krn ulahnya. Punya penyakit dm, asam urat, ginjal. Skarang lg di rawat krn gula darah tinggi krn makan yg tak terkendali. Piye toh? Sy kok males Jenguk ya? Boro2 pengen merawatnya. …(krn sjk sy lahir jg dia ga pernah merawat & membahagiakan sy) nenek yg mengasuh & menyekolahkan sy. dosakah saya trdp ibu sy? Tp sy masih suka kasih uang walaupun ga banyak….dan apakah krn itu…hidup sy jg jd susah ya…

    1. Sejahat apapun orang tua kita harus hormat selama tidak mengajak untuk maksiat. Jasa terbesar orang tua kita adalah melahirkan kita.

  20. plasa-id says:

    terima kasih pak, jadi pengin pulang merawat orang tua di kampung

  21. diani azizy says:

    Kek, sy anak pertama dr 2 bersaudara, dan sy baru sj menikah, lalu sy dn suami tinggal terpisah dg orang tua saya, hidup terpisah dr ortu dan mandiri sangat menyenangkan dan nyaman, tapi di sisi lain ibu saya kesepian karena hanya tinggal b2 sj dengan adik d rumah, ayah bekerja dan pulang 2minggu sekali..dan ibu sy jadi sering sakit2an.

    Saya menikmati saat2 mandiri sy menjadi seorang ibu rumah tangga membangun sebuah keluarga dan sy juga mengajar anak Tk, tp di sisi lain sy sangat sedih melihat keadaan ibu sy, ingin sekali tinggal bersama dan merawatnya, bagaimana solusi yg baik ya? Sy berfikir utk berhenti mngajar dan fokus merawat ibu, apa itu solusi yg baik?

    1. Mintalah izin dan pndapat dari suamimu, hasil diskusi dengan suami jadikan keputusan

  22. Aryanti says:

    Setuju kek, salam hangat dari aku

  23. Sukatno Wonogiri/ Maskatno Giri says:

    Aku anak bungsu. Bersama istri dan 4 anak, kami diamanati merawat ibu yang terlalu baik. Dia memang dikenal terlalu baik dgn tetangga juga peduli dgn anak2. Usia beliau sktr 85 thn. Saking terlalu baiknya kami sering dinasihati spy baik pd smua org, tak henti-henti dia bicara dan kalimatnya diulang-ulang. Kami sebenarnya sering risih.Pokoknya pembicaranya cenderung membosankan, dan sering mengganggu anak kecil yg sering tidur, krn suaranya terlalu keras. Ibu org desa yg sjk kecil terbiasa di sawah n tak kenal pendidikan formal. Kalau pemicaraanya ditanggapi dia bs marah n sering salah paham. Dia agak terganngu pendengarannya. Aduuuuh tlg kami dimotivasi agar sabar n enjoy dg perilaku ibu yg terlalu bnyk bicara. Aku tahu niatnya mulia.

  24. eko says:

    cakep birul walidain bisa g supaya dapet jodh

  25. rendy says:

    wah tulisan ini amat sangat menginspirasi kek semoga ibunda saya selalu bahagia walaupun saya belum bisa memberikan yang terbaik untuk beliau dalam hal merawat beliau dan membahagiakan beliau. do’akan saja saya selalu mampu menyenangkan beliau kek

  26. winda says:

    orang tua memang ng serumah dengan kami, setiap hari saya tetap ketempat orang tua (karena msih dlm satu komplek juga kami tinggal)karena saya harus merawat papa yg harus disuntik insulin setiap hari dikarenakan diabed yg diderita papa, alhamdulillah mama dlm keadaan sehat dan selalu sekat pada Allah. cuman repotnya si papa suka berbuat yg buat kami harus selalu dijaga dan di ingatkan. papa sdh berusia 63 th. Alhamdulillah saya bisa bersikan lembut dan sopan berbicara dlm menjaga papa walau terkadang saya harus sedikit tegas dlm menghadapi sikap papa. beliau suka bersikap genis pd orang lain dan suka beritual yg aneh buat saya… mohon doanya pak jamil… semoga saya selalu bisa menjaga sikap dan hati saya dlm menjaga kedua orang tua saya terutama pada papa..

  27. Wawan says:

    Mertua kami sudah lama bercerai. Rumah kami dekat dengan rumah ibu mertua. Sedangkan bapak mertua rumahnya agak jauh meskipun masih dalam satu kota. Akhir2 ini mertua kami yg laki2 sakit keras (stroke,sakit paru2 dan ada tumor di otaknya) dan kondisinya kritis. Sejak pertama sakit, istriku sering berkunjung ke rumah mertuaku yg laki2 untuk menjenguk dan mengantarkan ke rumah sakit untuk berobat. Setiap kali istriku datang merawat bapaknya, ibu mertua selalu bersikap acuh dan benci kepada istriku, padahal selama ini istriku selalu hormat kepada ibu bapaknya (mertua saya). Agar tidak berdosa(dalam arti melawan ibu)jadi saya sebagai suami yg menyuruh istriku merawat dan hormat kepada keduanya meskipun ibunya sering marah2 ketika istri saya datang merawat bapaknya.

  28. Wawan says:

    Lanjutan yg pertama pak. Apakah sikap istri saya berdosa kepada ibunya karena istriku ingin merawat/memperhatikan bapaknya yg sudah sakit2an. Gimana caranya menyadarkan ibu mertua agar istriku boleh merawat bapaknya (mertua sudah lama bercerai).

  29. fitriastuti says:

    Pas banget deh Kek. πŸ™‚
    Saya belum bisa merawat mereka karena saya masih bekerja di HK.. tapi akhir akhir ini mereka menginginkan saya pulang setelah kontrak finish. tapi saya juga masih bingung karena masih ada keinginan bekerja disini.
    Mohon sarannya kek.mksh.

  30. terimakasih, pencerahannya, saya sedang di rundung masalah mengenai perawatan orang tua. bgmn caranya?

  31. may says:

    Saya mau berbagi cerita dan meminta masukannya. Alhandulilah saya masih di beri kesempatan untuk membuktikan apa anak solehah pantas di berikan pada saya atau hanya slogan semata. Ibu saya menderita struk dari saya kls 2 smp sampe skrng kira2 sdh 13 th…dan itu benar2 menguji keiklasan , kesabaran dan keridhoan. Beliau kembali seperti anak kecil…semua aktifitasnya di lakukan di atas tempat tidur.KetIka sy masih smp,sma saya kadng merasa jengkel karena saya tidk bebas bermain dngn teman2…tapi lama2 saya sadar saya ada dan begini karena perjuangannya…jd saya harus berbakti. Tapi problem kmbli muncul…ketika ada seseorang yg mau meminang saya…saya di hadapkan pd pilihan tetap mengurus ibu atau ikut suami kelak…dan itu menjadi perang batin yg sangat pelik buat saya.. dan akhirnya sy memutuskn untuk merwat ibu karena jika dia sayang sama saya dia jg hrs sayang keluarga saya. Jd prioritas dr kerja dan nikah saya harus sesuaikan dengan waktu dan keadaan keluarga karena dr anak yg lain tidak begitu care dngn keadaan klga…jd saya harus kuat. Karena saya percaya setiap perbuatan pasti ada balasannya.. semoga saya selalu sabar dab ikhlas..doakan kami sllalu sodaraku..

  32. Lutfi says:

    Alhamdulillah, saya diberi kesempatan 2 tahun untuk mengajak tinggal bersama Ibu dan kakak perempuan saya, kebetulan waktu itu saya masih bujangan, akhirnya setelah saya menikah ibu saya memilih untuk tinggal bersama kakak perempuan saya yang single di pulau jawa sedangkan saya tinggal di sumatera, saya merasa sangat berat melepas beliau, apalagi 2 tahun itu waktu yg singkat untuk berbakti sama Ibu saya , tp saya sadar mungkin ibu saya merasa ” kurang nyaman ” tinggal bersama menantu, akhirnya kakak saya yg merawat beliau dari sakit sampai kembali ke pangkuan-NYA. bagi saudara2 yg orang tuan-nya masih ada, jangan sia2kan kesempatan untuk berbakti kepada oarang tua, karena penyesalan2 itu akan muncul ketika orang tua kita sudah tidak ada lagi.

    Terima kasih.,

Leave a Reply

Your email address will not be published.