Meramu Sudut Pandang

sudutpandang.jpg

Kita adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, saat kita melakukan sesuatu tidak boleh hanya berdasarkan sudut pandang kita sendiri. Keputusan dan perbuatan yang baik adalah hasil ramuan dari berbagai sudut pandang. Tentu, sudut pandang yang paling utama adalah ajaran agama yang kita anut. Ini adalah dasar atau pondasi setiap kita hendak mengambil keputusan atau melakukan sesuatu.

Apabila agama mengatakan “tidak” maka kita sepatutnya tidak melakukan walau di dalamnya berbalut banyak manfaat. Sementara bila agama mengatakan “kerjakan” maka selayaknya kita melakukannya walau di dalamnya ada kepayahan dan perlu perjuangan. Pada kondisi inilah ujian keimanan sedang terjadi.

Setelah pondasi utama kokoh maka kita perlu mempertimbangkan sudut pandang orang-orang di sekitar kita. Apabila keputusan dan perbuatan ini saya lakukan bagaimana kira-kira pandangan dan reaksi orang-orang di sekitar saya? Sebagai karyawan, Anda perlu melihat dari sudut pandang atasan, mitra kerja dan juga pelanggan.

Sebagai pebisnis, Anda perlu mempertimbangkan sudut pandang pelanggan, karyawan, dan stakeholders lainnya. Keputusan dan perbuatan yang Anda lakukan adalah hasil ramuan dari berbagai sudut pandang. Anda tak boleh egois. Anda tak boleh menggunakan kacamata kuda.

Begitupula dalam kehidupan berkeluarga, sebagai anak kita perlu mempertimbangkan sudut pandang orang tua. Apabila Anda menunda-nunda atau tidak mau saat orang tua Anda meminta tolong suatu kebaikan, kira-kira apa perasaan Anda jika Anda menjadi orang tua? Apa penilaian orang di sekitar Anda apabila mereka melihat dan mendengar Anda enggan memenuhi permintaan tolong orang tua Anda?

Bahkan dalam urusan ibadah ritual kita harus melihat dari sudut pandang orang lain. Saat Anda membayar zakat, cobalah Anda berpikir sebagai penerima. Bersediakah Anda harus antri di bawah terik matahari? Bersediakah Anda berdesak-desakan hanya untuk lembar rupiah yang tidak seberapa?

Begitupula saat Anda datang ke masjid terlambat dan para jamaah sudah menunggu iqomat. Ee…ee…ee…Anda dengan santainya sholat sunnah. Itu namanya ibadah egois. Kalau mau sholat sunnah datang dong lebih awal.

Ramulah keputusan dan perbuatan Anda dari berbagai sudut pandang maka kehidupan Anda akan sangat menyenangkan. Baik untuk diri Anda, maupun menyenangkan bagi orang-orang di sekitar Anda. Praktekkanlah…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

6 thoughts on “Meramu Sudut Pandang”

  1. Maturnuwun, Kek.. d ingatkan ..

  2. setuju banget om, begitu pula besok tgl 22, setelah terpilih semoga pemimpin baru menghasilkan kebijakan2 yg mempertimbangkan banyak sudut pandang 🙂

  3. baihaqi says:

    Ya benar Pak jamil …..istilahnya harus peka lingkungan

  4. Terima kasih pak Jamil. Jangan Egois agar banyak sudut pandang yang bisa kita lakukan.

  5. Inspiring Kek…kebenaran dan kejujuran sesungguhnya ditentukan bukan kita tetapi doramu oleh berbagai sudut pandang di lingkungan kita. Terima kasih.

  6. tebe says:

    Terima kasih Kek, telah mengingatkan untuk tidak menjadi egois….
    Semoga Allah SWT meringankan diriku untuk melakukan yang terbaik bagi siapa saja….

Leave a Reply

Your email address will not be published.