Mental Kelas Ekonomi

Muhammad Alif Nashruddin

Muhammad Alif Nashruddin

Akhir Akhir ini saya lebih suka melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta. Perbaikan System pelayanan perkeretaapian membuat saya nyaman meskipun kelas ekonomi.

Setiap ada kegiatan di jakarta saat pulang saya lebih memilih naik kereta tawang jaya ekonomi ac dari pasar senen menuju stasiun Poncol Semarang. Kenapa saya memilih tawang jaya?

Pertama, Jadwal keberangkatan Tawang Jaya lebih bersahabat, yaitu pukul 22.10 WIB. Sehingga saya tidak harus buru buru ke stasiun ketika jadwal kegiatan saya selesai pukul 18.00. masih cukup waktu untuk ngobrol sambil makan malam bersama teman teman. Kedua, Meski kelas ekonomi, kereta ini sudah ber ac, dan semua bisa pasti dapat duduk, karna penumpang harus bawa tiket sesuai nama dan menunjukkan KTP saat Masuk. Ketiga, Setiap bangku tersedia stop kontak untuk ngecas HP, jadi sepanjang jalan HP tetep dan ga mati gaya hehehe…

Fasilitas yang baik dan sistem yang sudah tertata bagus ini ternyata belum mampu merubah perilaku penumpag secara keseluruhan. Saat saya melakukan perjalanan dari jakarta ke semarang, saya melihat kursi tidak semua terisi penuh, dan tidak ada yang berdiri, semua duduk pada kursi sesuai nomor kursinya masing masing.

Tetapi selang beberapa menit kemudian suasana sudah berubah, banyak penumpang yang lebih memilih tidur di lantai kereta, baik di tengah jalan, dicepitan antara kursi, bahkan di depan toilet sekalipun. Sehingga ketika penumpang lain hendak ke toilet, harus melewati halang rintang berupaorang orang yang tidur di tengah jalan.

Saya lantas berfikir, apa yang membuat mereka memilih tidur d bawah, padahal kursi kosongpun ada. Dan bila tidur dibawah resiko masuk anginpun lebih besar. Setelah coba saya angan angan saya menemukan satu kesimpulan, bahwa perilaku mereka ini disebabkan karena mental mereka. Ya Tepatnya Mental Kelas Ekonomi.

Dulu, sebelum ada perbaikan sistem perkereta apian, penumpang kereta ekonomi tidak dibatasi dengan jumlah kursi, sehingga banyak penumpang yang berdiri bahkan duduk memenuhi lorong lorong kereta. Nampaknya kebiasaan seperti ini masih terbawa terus meskipun pelayanan sudah diperbaiki dan kursi sudah tersedia.

Dan yang membuat prilaku ini terjadi sekali lagi Mental mereka, Mentalnya masih kelas ekonomi, meski layanan di tingatkan melebihi kelas Bisnis tempo dulu (catatan: kelas bisnis tempo dulu: Hanya menggunakan kipas angin, kursi lebih luas dan di tarik lokomotif eksekutif ).

Maka Mengikatkan Mental dan Pola berfikir menjadi sangat penting. Mental Anda akan menunjukkan siapa diri anda dan seberapa berkelasnya anda. Apakah Mental anda Kelas Ekonomi, Kelas Bisnis atau Kelas Eksekutif Anda sendiri yang menentukan.

Salam Profesi Mulia

@alifnashruddin

Motivator ProfesiMulia

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.