Menjadi Pelayan

JAFamilySelama ini saya tergolong orang yang “manja”. Semua serba dilayani, baik oleh istri maupun oleh tim. Naik pesawat sudah ada yang mengatur. Turun dari pesawat sudah ada yang menjemput. Menginap di hotel sudah disediakan. Hendak kuliner sudah diberikan banyak alternatif pilihan oleh tim.

Begitu pula saat di kantor, di Jakarta. Berangkat ke tempat training sudah ada yang jemput. Semua laptop dan pendukung kelancaran training sudah disiapkan. Saya datang ke tempat seminar atau training semua sudah beres. Tugas saya hanya ngobrol dengan pimpinan perusahaan, panitia atau peserta dan tampil di atas panggung.

Sesampainya di rumah, saya seperti anak bungsu. Semua dilayani dan disiapkan oleh istri saya dengan sangat baik. Dari urusan makanan, pakaian hingga tukang pijat semua disiapkan sangat sempurna. Bahkan, saat wajah saya terlihat lelah, istri saya akan memijat muka saya sembari facial.

Selama ini saya sudah menikmati semua fasilitas dan kenikmatan itu. Maka, saat liburan lebaran kali ini, saya  mendedikasikan diri menjadi pelayan bagi keluarga saya. Semua hal yang berkaitan dengan urusan mudik, saya yang mengatur dan menyiapkan sendiri. Begitu pula saat sudah berada di kampung, saya berusaha menjadi pelayan bagi mereka.

Ketika istri dan anak tiba di kampung orang tua (Lampung) menginginkan pempek, durian dan bakso, saya pergi ke pusat kota yang berjarak 40-an km. Jarak yang sangat dekat harus saya tempuh kurang lebih 4 jam pergi pulang. Hal ini disebabkan karena jalanan yang sangat rusak, lebih menyerupai lubang dan kolam dibandingkan jalan.

Ketika larut malam anak bungsu saya, Fikar (dulu panggilannya Izul) sakit, saya yang mengantar ke rumah sakit. Saya meminta istri untuk istirahat di rumah. Selain karena istri saya tampak begitu lelah, lokasi rumah sakit jauh di pusat kota dan tentu harus melalui jalanan yang sangat rusak tadi.

Saya sudah berusaha menjadi pelayan terbaik saat mudik, tapi saya merasa itu masih kalah jauh dibandingkan pelayanan yang diberikan istri dan tim saya. Karena itu, saya ingin terus menjadi pelayan bagi mereka dan terus berusaha meningkatkan kualitas pelayanan. Mengapa? Karena ternyata mendedikasikan diri menjadi pelayan itu nikmat. Cobalah…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Keterangan foto:
Saat anak sulung saya Nadhira pulang dari Jerman, sayapun menjemputnya sendiri ke Bandara (atas). Narsis bareng Hanna dan Nadhira (tengah). Bergaya dengan Nadhira (bawah).


TBnC9


Bagikan:

8 thoughts on “Menjadi Pelayan”

  1. triirawan says:

    iya betuuuuuul, apalagi pelayan bagi umat kek, subhanallah kek nikmaaat banget.. 😀

    maaf lahir batin.. #salamtempel 😀

  2. Exel Randy Orlanda says:

    Sama seperti halnya “Terima Kasih” ~ Saya terima dan saya kasih !!! Saya jadi ingat kata kata Pak Jamil tempo hari “jika hidup Anda ingin diperhatikan jadilah seorang Expert!” Iya Pak expert,EXPERT dalam hal TerimaKasih !!! Akan saya terapkan! SyukrON yaa Pak utk tulisan inspiratif nya hari ini !! 🙂 salam SuksesMulia !!! 🙂

  3. @FaisolMunif says:

    Subhanalloh, keren kek,

    oh iya, maaf lahir batin ya kek, salam SuksesMulia…

  4. Motty says:

    Mbah, mau duren dong mbah..

  5. fazar says:

    pekerjaan melayani (jdi pelayan) itu mulia 🙂

  6. karimah says:

    anaknya yg di jerman msh sekolah ya kek?

  7. debudi says:

    kek jamil narsis ya poto2nya, hehe

  8. rendy says:

    saya amat sangat setuju dengan hal ini kek karena saya pribadi selalu berusaha menjadi pelayan yang baik bagi ibu saya kek aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.