Menikmati Lelah

lelah.jpg

Banyak orang mengira bahwa saya tidak pernah lelah. Padahal, sebagaimana manusia biasa saya pernah pula merasakan lelah. Pagi ini pun saya merasakan sedikit lelah. Kemarin, dari pukul 08.30 hingga 17.00, saya memberikan training untuk karyawan Telkomsel di Puncak, Cianjur. Malam harinya, pukul 19.30 hingga 21.15, saya memberikan seminar untuk para pimpinan Damri di Ancol, Jakarta.

Menurut saya, lelah itu wajib. Tidak boleh kita bermalas-malasan dengan alasan nanti lelah atau takut lelah. Justru lelah itu pertanda kita hidup. Lantas lelah yang wajib itu seperti apa? Menurut saya ada tiga cirinya.

Pertama, lelahnya menghasilkan. Kata “hasil” tidak harus merujuk kepada uang. Hasil juga bisa bermakna meningkatkan persahabatan, kedekatan, kebahagiaan, kekompakkan, kenikmatan dan lain sebagainya.

Kedua, tidak disertai keluhan. Keluhan akan membuat lelah semakin lelah dan merusak pikiran serta hati. Segera lakukan, kalibrasi jika merasa lelah. Banyak cara untuk melakukan kalibrasi, misalnya ngobrol dengan orang yang dicintai, olah raga ringan, jalan-jalan ke tempat yang baru, tidur, silaturahmi, “bercengkerama” dengan Allah SWT.

Ketiga, tidak menjauhkan kita kepada-Nya. Saat kita lelah dan kemudian kita kehilangan moment-moment beribadah yang penting itu adalah “alarm” atau sinyal bahwa lelah kita itu salah. Ada hal yang perlu diperbaiki. Misalnya, bila lelah kita membuat kita bangun tidur kesiangan sehingga membuat kita tidak sholat subuh berjamaah di masjid boleh jadi kita perlu mengevaluasi aktivitas yang telah membuat kita lelah.

Lelah yang baik itu bernilai ibadah. Lelah yang baik itu menghasilkan. Lelah yang baik itu tidak menghasilkan keluhan. Lelah yang baik itu memberi manfaat kepada banyak orang. Lelah yang baik itu membuat kita bertumbuh. Lelah yang baik itu tidak bertahan lama, ia hanya mampir sejenak dan tidak membebani kita.

Mari kita berlelah-lelah…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

5 thoughts on “Menikmati Lelah”

  1. taufik says:

    Assalamu’alaikum,

    Pak Jamil, terima kasih sharing paginya. Sungguh mengingatkan. Semoga lelah kita berkah. Salam

    1. Jamil Azzaini says:

      Aamiin yra. Doakan saya ya

  2. purwanto says:

    Semoga sya bs meng upgrade Lelah menjadi Lillah. Matur nuwun Pak Jamil.

    1. Jamil Azzaini says:

      Aamiin yra, mati berlelah untuk Lillah..

  3. Dian sosianti says:

    Saya selalu kalah oleh lelah
    Saya selalu kehilangan mood kalau lelah
    Saya selalu emosional karena lelah
    Saya benci lelah
    Saya akan menghukum mu…lelah

Leave a Reply

Your email address will not be published.