Menginstal Anak

BEDAKAN-ANTARA-ANAK-DENGAN-ROBOT-Galuh-Sulistiyo-e1383582521370.jpg

Galuh SulistiyoDalam dunia pendidikan banyak sekali penawaran-penawaran instan yang menjanjikan anak bisa dengan cepat menguasai materi pelajaran sekolah. Misalnya saja les privat, game-game pelatihan bahkan sampai terapi. Sebagai orang tua sudah sepatutnya mengupayakan hal tersebut. Pertanyaannya: apakah semuanya harus di berikan ke anak?  
Sebuah pertanyaan yang sangat membukakan pikiran dan saya yakin banyak kontroversi dengan jawaban kita yang disertai berbagai alasan.
Saat menemani teman untuk mempromosikan sebuah methode teraphy di sebuah sekolah saya mendengar satu kalimat yang keluar dari seorang guru.
 
“Kalo saya mau, ya.. anak saya pasti mau” sambil memilih paket teraphy yang guru itu inginkan.
 
Anak merupakan harta yang sangat berharga dalam sebuah rumah tangga karena salah satu tujuan menikah adalah mendapatkan keturunan. Untuk itulah kita sebagai orang tua sudah seharusnya menjaga dan memberikan bekal pendidikan secukupnya. Dalam pembekalan pendidikan inilah yang harus kita waspadai dan cermati.
 
Setiap orang tua menginginkan anaknya pandai, cerdas berdasarkan IQ yang merupakan tolak ukur kecerdasan anak. Bahkan sampai sehari penuh mereka diberikan pendidikan formal dan non formal agar pemikiran mereka berkembang. Yang diinginkan orang tua adalah agar pandai dengan alasan demi kebaikan masa depan.
 
Harus ada yang kita luruskan disini. Melihat dari perkataan guru diatas saya memeperoleh kesimpulan ternyata anak harus ikut keinginan orang tua, apa yang orang tua inginkan anak harus mau, bahkan sampai paket-paket atau pendidikan apapun yang orang tua sukai anak harus ikut. Sekali lagi dengan alasan “demi masa depan anak…”
 
Ketahuilah anak bukanlah robot yang selalu diinstal program yang sesuai dengan keinginan pembuatnya. Anak adalah anugrah yang diberikan Alloh yang telah diberikan (Given) keunikan, kelebihan dan kekurangan dan sifat-sifat yang genetik melekat dalam dirinya. Dengan given tersebutlah anak akan menentukan sikap, ilmu yang dia sukai, lingkungan, dan keinginan untuk mesa depan mereka.
 
Betul, tugas kita adalah mendidik dan merawatnya hingga dia bisa mandiri. Dalam hal inilah seringkali orang tua lupa dan tidak sadar bahwa setiap anak mempunyai kelebihan, kekuatan dan potensi yang berbeda dengan orang lain.
 
Kebanyakan orang tua hanya berfikir tentang kecerdasan otak saja tanpa mau tahu sebetulnya apa yang menjadi dasar kekuatan yang anak itu miliki. Dasar kekuatan inilah yang akan menjadikan anak survive dalam diri dan lingkungannya bukan diciptakan lingkungan atau atas dasar keinginan orang tua. Sungguh ironis pemikiran yang masih seperti ini.
 
Berikanlah jalan yang terbaik, berikanlah stimulus yang cocok dan desainlah anak kita sesuai dengan kekuatan yang dia punya. Dengan begitu maka mereka akan merasa enjoy, nyaman dan mudah dalam mengembangkan dirinya.
 
Jadi tahap pertama yang harus orang tua lakukan sebelum mendesaih hidup anak adalah menemukan kelebihannya. Karena kelebihan yang dibawa sejak lahir ini tidak akan hilang hingga akhir hayat nanti. Dan inilah kekuatan yang Alloh berikan kepada kita.
 
Tulisan dikirim oleh Galuh Sulistiyo

Bagikan:

6 thoughts on “Menginstal Anak”

  1. Euis Marlina says:

    Betul, saya tetuju dengan tulisan ini. Anak memiliki kelebihan masing-masing, tidak seharusnya orang tua memaksakan kehendaknya, karena anak kita juga hidup pada jaman yang berbeda dengan orang tuanya. Jadi, tugas orang tua hanya mengarahkan.

  2. satria putra says:

    setujuh mas Galuh, saya punya pengalaman pada suatu sesi tes stifin disebuah keluarga. Ada bapak yang memaksa anaknya untuk ikut les tambahan Matematika dengan ancaman lisan + pisik ke anaknya karena dia “merasa” sayang dengan masa depan anaknya. sedangkan anaknya tidak menyukai les tersebut dan benar2 mogok setelah minggu ke-2. Setelah saya tes, ternyata kedua ortunya mesin kecerdasannya Thinking sedangkan anaknya Intuiting. Akhirnya setelah dijelaskan tentang mesin kecerdasan Stifin. Akhirnya kedua ortu tsb “insaf” dan mencarikan les tambahan yang sesuai dengan mesin kecerdasan anaknya…

    1. Dian Dwi A says:

      Sip! Anak bukanlah robot yang dapat di program sesuai kemauan kita.

  3. nursila says:

    manusia bukan robot…:)

  4. Betul mas Galuh, tugas kita sebagai orang tua menggali potensi & kekuatan anak. Asah hingga menjadi expert. Hingga menjadi mutiara bernilai tinggi. Akhirnya menghantarkan orangtua & anak menjadi penghuni Surga Firdaus. Aamiin.

  5. Aina says:

    berarti apapun itu cara dan jenisnya, pastikan kita melibatkan anak untuk memilih setiap langkah dalam hidupnya. kita sebagai orang tua hanya bantu mewujudkannya saja.. tapi dari kita sendiri harus besar hati dari awal bahwa mungkin mereka tidak menjadi seperti yang kita bayangkan

Leave a Reply

Your email address will not be published.