Menghina Bos

menghinabos.jpg

Dunia perpolitikan Indonesia sedang ramai dengan kabar tentang seorang menteri yang dianggap menghina presiden. Saya bahkan menerima kiriman transkrip rekamannya. Kejadian ini makin panas karena yang mengungkapkannya adalah salah satu menteri.

Keriuhan itu menunjukkan kabinet kerja yang dibentuk presiden tidak kompak dan belum ada keterbukaan komunikasi diantara mereka. Saya tidak mau terjebak dalam polemik. Saya hanya ingin menyoroti tentang patut tidaknya anggota tim menghina bosnya.

Orang yang lebih berkuasa dibanding kita saya namakan bos. Hampir setiap kita pasti punya bos. Walau mungkin dalam wujud yang berbeda. Ada yang berwujud orang tua, dosen, pimpinan di kantor, investor, komisaris, pelanggan dan lain sebagainya. Dalam kehidupan, kita tidak layak menghina siapapun apalagi bos.

Dalam perjalanan karir saya, tentu saya juga pernah berseberangan dengan bos saya. Saya pernah berbeda pendapat dengan bapak saya tentang profesi yang saya pilih. Saat menjadi orang kantoran saya sering adu argumen dan berdebat keras dengan bos saya. Saat menjalankan bisnis, saya pernah bersitegang dengan komisaris saya. Tetapi pantang bagi saya menghina atau menjelekkan mereka.

Berbeda pendapat bukanlah kiamat. Tidak sependapat itu hal yang biasa. Saat masih ada ruang diskusi maka diskusikanlah. Saat sudah menjadi keputusan maka jalankanlah keputusan itu walau Anda tidak sependapat dengan bos. Apabila tidak sependapatnya sangat prinsip maka ajaklah bos Anda berdiskusi empat mata. Jika, ia masih ngotot padahal bagi Anda itu hal yang sangat prinsip maka ajukanlah pengunduran diri, cari bos yang lain.

Setelah mundur, tetaplah jaga diri untuk tidak menghina mantan bos Anda. Jadilah manusia “gentle” jangan seolah-seolah berani saat jauh dari bos tetapi diam seribu bahasa saat bertatap muka. Jangan pula menjadi opurtunis, terlihat “yes man” saat di depan bos tetapi menghina dan merendahkan saat jauh dari bos.

Selain Anda punya bos, saya yakin Anda juga menjadi bos bagi yang lain. Apa-apa yang tidak suka dilakukan oleh orang yang dibawah pengaruh Anda maka jangan lakukan kepada bos Anda. Adil bukan?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

16 thoughts on “Menghina Bos”

  1. Muttaqin says:

    Siap Boss!

    1. Jamil Azzaini says:

      Laksanakan bos 🙂

  2. Zahra Rabbiradlia says:

    Sifat oportunis itu yang paling sering terjadi pak :’)

    1. Jamil Azzaini says:

      Jangan ikut-ikutan, itu melatih kita menjadi “muna”

  3. Ora Dadi Opo says:

    Setuju kek, klo sdh resign sepatutnya menjaga sikap unt menggunjingkan bos / tempat kerja lama….

    1. Jamil Azzaini says:

      Untuk tidak ya…. 🙂

      1. Anonymous says:

        Iya kebablas gk diketik kek.. Makasih sdh diingatkan kek

  4. @emthorif says:

    Dan jadilah BOS yang tidak memberikan kesempatan kepada anak buahnya untuk dihina, dengan menghinakan diri berperilaku buruk. begitu BOSS

    1. Jamil Azzaini says:

      Setuju.,l

  5. bang azlan says:

    Gimana kalau bos yang suka sama bos, hehe maksud saya suka nyolongin dana bantuan operasional sekolah (BOS)..

    1. Jamil Azzaini says:

      Itu Bosok (busuk)….

  6. Bang Tono says:

    Oke boss… Selamat menjalankan Ibadah Puasa…

    1. Jamil Azzaini says:

      Apa kabar bos?

  7. badru says:

    Terlalu banyak tekanan dari BOS

  8. jump says:

    Bagaimana dengan bos yang dibelakang suka menghinakan bawahannya di antara bos-bos yang lain?
    *edisi bosnya banyak

  9. syukri says:

    alhamdulillah…
    nambah lagi referensi etika kepemimpinan. semoga bisa kuamalkan dan ku istiqomahkan
    mohon doanya pak bos.. 🙂 hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.