Mengapa Saya?

Dalam dunia jurnalistik ada istilah yang populer: Bad news is good news, good news is no news. Sesuatu yang buruk adalah berita yang bagus, dan sesuatu yang bagus tidak perlu dikabarkan. Tampaknya, jargon ini tidak hanya berlaku di dunia jurnalistik. Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering menemukan orang yang “menggunakan” jargon ini.

Ketika seseorang menderita musibah, ia akan bercerita kemana-mana baik langsung, melalui SMS atau menulis lewat blog, seolah-olah ia adalah orang yang paling menderita di dunia. Namun ketika hidup berjalan dengan baik, ia merasa memang begitulah seharusnya.

Ketika ia mengalami masalah-masalah berat. Ia akan berteriak, “Mengapa saya!?” “Mengapa saya yang mengalami ini? Mengapa saya yang harus menanggung derita ini? Mengapa Tuhan menguji saya dengan cara seperti ini?”

Namun anehnya, pertanyaan “mengapa saya” tidak akan ia teriakkan ketika ia memperoleh kebaikan…  Insan SuksesMulia, agar Anda menikmati seluruh karunia yang telah Tuhan berikan kepada Anda, mulai hari ini, katakanlah “mengapa saya” ketika Anda memperoleh kebaikan dan kenikmatan hidup

Ketika Anda mencapai target dan mendapat bonus dari perusahaan Anda, tanyakan kepada diri Anda sendiri, “Mengapa saya?” Mengapa saya yang mendapatkan bonus ini? Mengapa bukan karyawan yang lain? Mengapa saya yang selalu mendapat dukungan dari bos dan teman-teman kerja saya? Mengapa saya yang dipilih Tuhan untuk mendapatkan bonus ini? Kau begitu baik kepadaku ya Tuhan, terima kasih… Terima kasih.. Terima kasih.

Insan SuksesMulia, mulai hari ini tinggalkan menyebarkan dan mengeluh tentang berbagai keburukan yang menimpa Anda. Fokuskanlah kepada kabar baik tentang diri Anda dan kemudian tanyakan “mengapa saya” yang menerima kebaikan ini? Dengan cara ini, hidup Anda akan semakin bersyukur, rasakanlah…

Salam SuksesMulia!

Bila manfaat silahkan tulisan ini dishare ke teman-teman Anda.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @jamilazzaini

Bagikan:

11 thoughts on “Mengapa Saya?”

  1. Terima kasih Pak Jamil atas inspirasinya, untuk bisa menjadi ahli bersyukur. Insyaallah.

  2. piprim b yanuarso says:

    Sangat sepakat mas Jamil… Sesuai dg ayat: Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan (ad Dhuha 11)

  3. Sama-sama mas Sugeng, semoga kita selalu menjadi orang yang pandai bersyukur

  4. arrazi anshar says:

    wah seperti kata bapak juga ya bukan bahagia yg membuat kita bersyukur melainkan bersyukur yg membuat kita bahagia . .

  5. Betul mas Arrazi Anshar, maka banyak-banyaklah bersyukur, salam SuksesMulia

  6. dian eka says:

    Sangat dalam sekali Oom 🙂 Pertanyaan mengapa saya disaat kita mendapat kebaikan hrsnya mnjadi introspeksi diri utk bersyukur, bukan utk berkata dg angkuh atau bahkan tak tahu diri : “Lha emang saya pantes dapat yg enak2 kok…”

    Hehe..

  7. cindran says:

    semoga saya tetap menjadi manusia yg terus mampu bersyukur…

  8. Semakin kita bersyukur akan semakin bahagialah kita. Bukan hanya itu karena bahagia maka berbagai kemudahan hidup akan datang kepada kita. Salam SuksesMulia, Jamil Azzaini

  9. Nova adi says:

    Menghantam batin, Mas. Jadi ingat pesannya Bang Arvan. Lanjutkan, Mas!

  10. Nia rohaniyah says:

    Belajar istiqomah untuk bersyukur,

Leave a Reply

Your email address will not be published.