Mengapa Rencana Hidup Tidak Tereksekusi

Mengapa-Rencana-Hidup-Tidak-Tereksekusi.jpg

Pada awal tahun 2018, saya memposting foto-foto kegiatan keluarga saya yang sedang mempresentasikan rencana hidup masing-masing pada tahun 2018 yang didahului dengan presentasi pencapaian-pencapaian yang sudah diperoleh pada tahun 2017. Saat salah satu anggota keluarga mempresentasikan apa yang mereka sudah siapkan, anggota keluarga yang lain mendengarkan dan kemudian memberi apresiasi dan komentar.

Membaca dan menyimak postingan tersebut, ada orang yang kemudian kontak saya “pak, apa untungnya membuat rencana hidup sebab saya sudah sering melakukan dan tidak ada yang terealisasi, hasilnya nihil.” Kejadian itu, bukan hanya satu atau dua orang saja. Kejadian itu menimpa banyak orang. Alhamdulillah, saya tidak termasuk di dalamnya. Sebagian besar rencana hidup saya terealisasi dan memberi dampak yang sangat positif bagi hidup saya.

Untuk itu, pada kesempatan ini saya ingin berbagi “mengapa rencana hidup tidak tereksekusi?” Dari pengamatan, diskusi dan pengalaman saya. Setidaknya ada beberapa sebab mengapa hal itu terjadi.

Pertama, Rencana yang dibuat tanpa “ruh”. Agar rencana kita punya kekuatan berilah ia sentuhan “ruh” di dalam rencana terrsebut. Libatkan pikiran, hati dan emosi saat membuatnya. Temukan juga alaasan yang kuat mengapa rencana itu perlu terealisasi. Temukan hal-hal positif yang Anda peroleh apabila rencana hidup itu terealisasi. Anda juga perlu menemukan kerugian-kerugian apa yang akan Anda terima apabila rencana tersebut tidak terwujud.

Kedua, Terlalu banyak yang Anda inginkan. Saat membuat rencana terkadang kita begitu semangat dan akhirnya menuliskan semua keinginan yang ingin kita raih. Sayangnya, banyak orang yang lupa untuk “memeras” keinginan tersebut. Cara “memeras” berbagai keinginan bisa dengan berbagai cara.

Misalnya, dari banyak keinginan yang Anda tulis pilih mana yang benar-benar sangat penting bagi Anda dan mana yang hanya sebagai “pemanis”. Pilih yang benar-benar penting saja yang Anda masukkan ke dalam rencana hidup Anda kemudian berkomitmenlah untuk mewujudkannya. Ajaibnya, saat Anda mampu mewujudkan yang prioritas tersebut, yang semula sebagai “pemanis” ternyata ikut terwujud. Setidaknya ini pengalaman saya.

Ketiga, Tidak punya alarm pengingat. Mengapa kami di awal tahun punya kebiasaan untuk mempresentasikan semua rencana hidup? Agar anggota keluarga yang lain menjadi “alrm pengingat” bagi kita. Mereka akan mengingatkan apa yang terlupa. Mereka akan membantu apa yang hendak kita realisasikan. Alrm pengingat ini bisa sahabat, keluarga, mentor atau siapapun orang yang Anda percaya.

Cobalah duduk sejenak, buat rencana hidup Anda kemudian setelah itu berilah “ruh” rencana tersebut, fokus kepada yang sangat prioritas dalam hidup Anda dan presentasikan rencana hidup Anda dihadapan orang yang bisa menjadi alrm pengingat bagi Anda. Cobalah dan lihatlah hasilnya di akhir tahun 2018.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.