Mengapa Mereka Menjadi Star?

semangat.jpg

Di sepuluh hari awal Mei 2015, saya bertemu dengan banyak orang hebat dari berbagai latar belakang profesi. Pertemuan pertama di bulan Mei adalah dengan para leader pilihan dari bisnis jaringan, MLM, Tiens (Tianshi) saat saya membekali mereka tentang Public Speaking di Bali.

Setelah itu, saya berbagi ilmu di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pama Persada, Uniflex (anak perusahaan Kompas-Gramedia), Toyota Astra Motor dan Bank BRI. Saya juga bertemu dengan orang-orang pilihan di Banjarmasin dan Medan saat saya roadshow “A Tribute” (buku terbaru saya).

Walau profesi mereka berbeda tetapi orang-orang hebat dan pilihan itu punya beberapa persamaan yang membuat mereka menjadi “star” di lingkungan mereka masing-masing. Persamaan yang pertama, mereka memperjuangkan kehidupan terbaik yang ingin diraihnya. Ternyata, semua star memiliki kehidupan terbaik yang ingin mereka capai. Sebagian dari mereka menunjukkan kepada saya apa impian hidupnya.

Dan, hebatnya, mereka memperjuangkannya dengan penuh kesungguhan dan penuh suka cita. Mereka nampak semakin berbinar ketika saya memberi sedikit polesan agar kehidupan terbaik yang mereka impikan tidak hanya fokus pada dirinya (sukses) tetapi sejauh mana mereka memberikan manfaat kepada sekitarnya (mulia). Kehidupan terbaik yang mereka impikan sekarang menjadi SuksesMulia.

Persamaan kedua, mereka punya alasan dan value yang kuat ketika bekerja. Mereka tahu mengapa harus bekerja sebaik-baiknya. Mereka sengaja mencari alasan positif mengapa mereka harus bekerja. Mereka juga memahami bahwa bekerja bukan hanya demi penghasilan. Mereka mencari value (nilai) dari setiap pekerjaannya.

Saat orang tahu alasannya mengapa ia harus bekerja maka ia akan punya semangat dan energi yang semakin membesar. Mereka terhindar dari rasa malas, loyo dan berleha-leha. Begitu pula saat mereka tahu bahwa pekerjaan yang dilakukan itu punya nilai maka mereka semakin tenggelam dalam pekerjaannya. Mereka terhindar dari kerja yang transaksional karena mereka merasa sedang memperjuangkan sesuatu bukan sedang bekerja.

Persamaan ketiga, mereka pembelajar. Ternyata para star itu punya kebiasaan selalu belajar. Ada yang rajin membaca, menonton video tentang personal development dari youtube, sering ikut seminar atau training. Mereka juga secara sengaja sering bertamu, bertemu dan berguru kepada orang-orang yang lebih senior atau ahli di bidangnya.

Tiga persamaan ini yang membuat mereka menjadi star di pekerjaannya masing-masing. Mereka semakin percaya diri, terus berkembang dan dikejar-kejar rezeki. Apakah Anda juga ingin menjadi star? Bila jawabannya “Ya”, segera praktekkan tiga persamaan tersebut di atas. Mau?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

2 thoughts on “Mengapa Mereka Menjadi Star?”

  1. Lili Hamdiah says:

    Kpn ke kemdikbud pak? koq sy miss info ya, nyessekk bingits, barakallhufik pak

    1. Jamil Azzaini says:

      Saat Hari Pendidikan Nasional…ketemu juga koq sama pak Anies Baswedan

Leave a Reply

Your email address will not be published.