Mengapa Harus Saling Mem-bully?

bully.jpg

Pekan lalu muncul dua peristiwa yang ramai di social media. Peristiwa pertama, perseteruan antara Bapak Shamsi Ali dan Fadli Zon. Bapak Shamsi mengkritisi kehadiran politisi Gerindra ini di acara press conference Donald Trump yang kemungkinan akan maju sebagai salah satu kandidat presiden Amerika Serikat.

Setelah saya membaca dan mengamati berbagai diskusi yang berkembang, apabila diminta untuk berpihak tentu saya berpihak kepada lelaki asal Makasar yang kini menetap di New York ini, Bapak Shamsi Ali. Apalagi saya pernah dijamu selama sepekan oleh beliau saat kunjungan saya ke New York dan Washington DC. Saya tahu sepak terjangnya, saya tahu reputasinya. Saya tahu kelembutannya sekaligus ketegasannya.

Peristiwa kedua, perihal pernyataan Teuku Wisnu di salah satu acara televisi bahwa membaca Al Fatihah untuk orang yang sudah meninggal itu bid’ah. Sebagai orang yang jarang nonton televisi, saya termasuk yang telat tahu peristiwa ini. Setelah saya membaca banyak hujatan tentang pernyataan itu di social media, baru kemudian saya sempatkan kontak artis asal Banda Aceh ini.

Atas kekhilafan dan keterbatasan ilmunya, Teuku Wisnu kemudian meminta maaf secara terbuka. Namun ibarat melempar bola panas, bolanya sudah ada di lapangan, penonton dan komentatornya sudah ada dalam suasana pertandingan yang semakin seru dan memanas.

Kejadian setelah itu adalah saling bully antara yang berpihak kepada Bapak Shamsi Ali dan yang berpihak kepada Fadli Zon. Begitu pula bully kepada Teuku Wisnu terus berlanjut, walau ia sudah secara terbuka meminta maaf. Dunia maya semakin gaduh, seolah tidak ada masalah penting lain yang perlu juga segera kita tuntaskan.

Saling bully kelihatannya menjadi trend baru setelah maraknya social media. Masing-masing punya pendukung dan hatters, dan tampaknya mereka senang bila saling bully. Mari kita kembali ke jatidiri negeri ini, ramah dan senang bermusyawarah tanpa harus mencela, tanpa harus menghina dan tanpa harus mem-bully.

Berpeda pendapat adalah hal yang biasa. Berbeda pendapat bisa menjadi rahmat apabila kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran. Jauhi saling bully bila kita berbeda. Karena saling bully menambah penyakit hati, juga menjauhkan kita dari saling mencintai dan menghargai.

Mem-bully memang terkadang mengasyikkan, tetapi bila itu dibiasakan akan merusak hati dan nurani. Mari kita tinggalkan kebiasaan saling mem-bully untuk menjaga kesucian hati. Kini, saya pun sedang berlatih untuk meninggalkannya.

SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

6 thoughts on “Mengapa Harus Saling Mem-bully?”

  1. dokter vivi says:

    Setuju kek,bagaimana sekarang fokus berkarya, karena waktu berkarya akan semakin berkurang dan bekal yang akan dibawa kekampung akherat belum tentu telah lengkap,terima kasih kek atas nasehat supernya

    1. Jamil Azzaini says:

      Akur…setuju….

  2. Selamet Hariadi says:

    Sebaiknya tidak diungkapkan meski berpihak pada salah satunya.

    1. Jamil Azzaini says:

      Gpp mas, untuk yang ini saya ungkapkan 🙂

  3. mahfudz says:

    Saya jg termasuk capek kalau ada yg bully-bully an, ga suka aja melihatnya, diri sendiri aj masih kualitas rendah, gimana mau ngerendahin yg kualitasnya lebih dari diri sendiri

    1. Jamil Azzaini says:

      Akur…tosssss

Leave a Reply

Your email address will not be published.