Mengalirkan Kecerdasan Emosi

Selamet HariadiEmosi tak selalu identik dengan suatu hal yang terkesan spontanitas dengan gaya gedor yang tinggi. Emosi dalam artian perspektif keilmuan adalah hal membawa kecenderungan diri melalui sikap dan perilaku seseorang.

Oleh karenanya beberapa waktu yang lalu dunia seakan dikejutkan akan ilmu baru dalam pendistribusian komunikasi, yakni Emotional Quotient atau biasa disingkat EQ. Dalam sebuah penelitian yang memasukkan berbagai data dari berbagai data orang sukses ditemukan bahwa kecerdasan Itelegensi atau IQ hanyalah sekitar 6 % atau maksimal 20 %. Serta yang sangat-sangat berpengaruh dalam kebesaran seseorang adalah EQ-nya yang baik.

Kemampuan mengolah emosi yang baik memang tak dapat dipungkiri sebagai hal yang dapat membuat kita semakin lebih baik.

Sebagai contoh dari Pak Ary Ginanjar, Founder ESQ, ada cerita sebuah perusahaan besar di Indonesia ingin menawarkan kerja sama pada salah satu perusahaan minyak terbesar di Malaysia, untuk itu pengusaha tersebut mengajak seorang pakar yang memiliki IQ tinggi yakni sekitar 120.

Lalu setibanya di Malaysia sebelum esoknya melakukan kontrak kerjasama, malamnya petinggi perusahaan minyak dari Malaysia mengajak makan malam untuk menjamu tamunya dari Indonesia tersebut. Hal ini sebuah kewajaran sebelum melakukan kontrak proposal kerjasama ada sebuah jamuan untuk mempererat komunikasi.

Selesai makan sang petinggi perusahaan minyak ingin menunjukkan koleksi barang antik yang beliau miliki kepada tamunya dari Indonesia tersebut. Ketika ditanya kepada perwakilan dari Indonesia tersebut tentang pendapatnya pada beberapa koleksi sang perwakilan tersebut menjawab dengan baik dan memuji sang Petinggi.

Namun saat sang petinggi menanyakan hal tersebut pada pakar ber-IQ tinggi yang mendampingi perwakilan Indonesia tersebut. Beliau menjawab , “hal ini bagus, namun di Jakarta ada banyak dan murah-murah”.

Sang petinggi menahan marahnya akan ucapan orang tersebut. Hingga tahukah Anda apa yang terjadi? Proposal yang diajukan perusahaan dari Indonesia tersebut batal.

Dari contoh in ilah membuktikan bahwa pengelolaan emosi yang baik sebagai bentuk Kecerdasan Emosi sangatlah diperlukan dalam melakukan komunikasi antar partner komunikasi anda. Sensitivitas yang baik merupakan sesuatu yang digunakan untuk memberikan pengacaan (mirroring) yang baik. Jika Anda telah merasakan apa yang dirasakan partner komunikasi anda, maka anda akan dengan mudah mendapatkan apa yang anda maksud.

Namun demikian kecerdasan emosi sendiri memerlukan kecerdasan dalam hal spiritual agar apa yang mengalir dalam perilaku kita tak berbanding terbalik dengan tujuan kita hidup dan beragama.

Semangat SuksesMulia!

Selamet Hariadi

Bagikan:

6 thoughts on “Mengalirkan Kecerdasan Emosi”

  1. vina says:

    Emosi atau nafsu, jika emosi terkelola dengan baik menuju hal-hal positif tentunya akan meningkatkan kinerja, cinta, damai dan kebahagiaan. Namun jika tidak cerdas mengontrolnya akan menyebabkan keterpurukan, seperti marah atau hal negatif lainnya dan hanya jadikan eneg. E=MC emosi harus di manage and control #Salam ON, olah nafsu 🙂

    1. Semoga Kita selalu Mampu mengontrol Emosi pada Jalan Yang Baik, Benar dan Bijak hingga BERMANFAAT bagi kita semua.

      Semangat SuksesMulia!

  2. Melihat kisah diatas, IQ yg mumpuni memang perlu tp sangat baik jg ditunjang dgn EQ dan pengertian selera konsumen…

    1. Terima Atas Komentarnya Nando Pindha Pamungkas, semoga kita selalu mampu bersikap yg TERBAIK…

  3. Nura says:

    IQ begitu penting dalam pendidikan tetapi EQ sangat penting ketika terjun bersentuhan dengan masyarakat dengan berbagai karakter dan kepribadian.. Ini menentukan apakah seorang adaptif atau responsif. Jalan menuju sukses mulia

    1. Selamet HARIADI Online Strategist says:

      Ya Terima Kasih Mbak Nura… Kemampuan mengelola Emosi dengan Benar disertai Intelegensia serta yang penting pula SPIRITUAL memang PENTING dalam kehidupan sehari-hari baik Bekerja, maupun lainnya.

      Semangat SuksesMulia!

Leave a Reply

Your email address will not be published.