Menempa Anak

Menempa-Anak.jpg

Pekan lalu, saya berbagi ilmu parenting untuk orang tua siswa SD Muhammadiyah Sidoarjo. Delapan ratus kursi yang disediakan panitia hampir terisi penuh. Usai acara, beberapa peserta menghampiri saya, salah satunya mengatakan “wah kalau inspirator mendidik anaknya lebih mudah ya dibandingkan kita, pasti semua anaknya semangat.”

Mendengar pernyataan itu saya tersenyum dan selanjutnya berkata “tidak juga bu, saya juga memerlukan energi besar untuk mendidik anak, bahkan terkadang saya merasa lelah menghadapi tingkah polah anak saya. Setiap saya merasa berat mendidik anak, saya selalu teringat ucapan istri saya “mendidik anak itu memang berat karena hadiahnya adalah surga. Apabila mendidik anak sangat mudah tentu hadiahnya hanyalah kipas angin atau kulkas.”

Bagi saya, mendidik 5 anak dengan karakter dan bakat yang berbeda memang tantangan tersendiri. Selain sibuk mengelola bisnis, saya juga hampir setiap hari ada seminar atau training di berbagai perusahaan, padahal saya tidak ingin kehilangan kesempatan turut serta mendidik anak-anak saya. Untuk itulah, selain meminta bantuan istri, saya juga melibatkan dua anak saya yang sudah berusia di atas 20 tahun untuk mendidik tiga adiknya.

Tadi malam, saya berdiskusi dengan anak saya yang nomor dua (Asa, 23 tahun). Salah satu temanya adalah “tempaan.” Untuk keberhasilan anak-anak di masa yang akan datang sangat tergantung kepada kualitas tempaan saat ini. Tempaan itu bahasa negatifnya siksaan, pernah merasakan ketidaknyamanan. Sebab apabila anak tidak terbiasa ditempa dikemudian hari akan mudah menyerah, mudah exit dari berbagai kegiatan yang menantang.

Tempaan yang terbaik adalah tempaan yang terprogram dan berhubungan dengan keahlian yang hendak dikuasai sang anak. Jenis tempaannya tergantung dari apa yang hendak diraih anak kelak. Apabila anak disiapkan menjadi presiden tentu tempaannya berbeda dengan anak yang hanya sekedar ingin menjadi hebat di tingkat desa.

Tugas orang tua adalah menempa anak sesuai dengan yang ingin diraihnya, hasilnya serahkanlah kepada Allah swt. Dialah yang Maha Tahu tentang anak kita. Namun suatu kesalahan besar apabila kita tidak menempa anak dan membiarkannya dibentuk oleh lingkungannya. Dan tentu kita malu, apabila tidak pernah menempa tapi sibuk memanjatkan doa untuk anak kita.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership
Founder Akademi Trainer
Inspirator SuksesMulia

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.