Menangislah

Istri dan anak saya tahu bahwa saya sangat gampang menangis. Namun dua pekan terakhir saya sangat sulit menangis saat teringat dosa yang pernah saya lakukan. Waktu favorit menjelang Subuh pun tak sanggup membuat saya menangis lagi. Penyesalan mendalam atas dosa-dosa yang pernah saya lakukan tak juga kuasa membuat air mata tertumpah.

Dalam kondisi seperti ini, saya teringat pesan guru saya. “Jamil, jika kamu sulit menangis saat ingat maksiat yang kamu perbuat, itu pertanda hatimu mulai sombong.”

Saya terus mencari kira-kira bentuk kesombongan apa yang sudah hadir di hati saya sehingga membuat saya sulit menangis. Karena sulit menemukannya, Senin hingga Selasa kemarin saya putuskan pulang ke Lampung menemui orang tua, kakak dan adik saya.

Seperti biasa, setiap saya “pulang kampung” adik atau ibu memasak makanan kesukaan saya plus empek-empek Palembang. Penganan itu kami santap bersama sembari ngobrol kesana kemari di dapur.

Tanpa terasa malam pun tiba. Setelah lewat pukul 22, saya ngobrol berdua saja dengan ibu. Kami bertukar cerita mulai dari gosip eyang Subur, ujian nasional hingga aktivitas profesi yang saya lakukan.

Di sela-sela obrolan itu saya menangkap satu pesan penting dari ibu. “Jika kita merasa hebat maka ketergantungan kita kepada Allah berkurang dan hal itu menjadikan benih kesombongan akan tumbuh subur di dalam hati.”

Jleb! Jleb! Pesan itu tepat menusuk ke dalam hati saya. Akhirnya, saya merenung. “Hal apa yang membuat saya merasa hebat dalam dua pekan terakhir?” Jawabannya: Kaderisasi trainer dan buku terbaru “ON”.

Begitu banyak trainer yang saya kader kebanjiran order, buku-buku karya mereka banyak yang best seler. Saya pun membanggakan diri, “Siapa dulu dong yang mengkader?”

Begitu pula tentang Buku ON, dalam dua pekan terakhir saya mendapat banyak sekali kiriman testimoni dari para pembaca. Ada yang membuat saya haru, tersenyum tetapi ada juga membuat saya tinggi hati. Akhirnya hatipun berbisik, “Hebat ya saya.”

Ketika semuanya sudah tertidur, Senin malam itu saya menangis. Saya memohon ampun kepada Allah atas kesombongan dan ketinggian hati ini. Sebelum Subuh saya bangun dan menangis lagi.

“Ya Allah, saya sangatlah lemah. Saya masih sangat membutuhkan pertolongan-Mu, perlindungan-Mu, kasih sayang dan ridho-Mu.”

“Ya Allah, saya juga masih sangat membutuhkan dukungan dan perhatian istri, bidadari hamba di dunia. Saya masih sangat berharap senyuman, pelukan dan sapaan putra-putri hamba. Saya masih memerlukan arahan dan teguran guru kehidupan hamba. Dukungan dari tim kerja dan sahabat juga sangat hamba butuhkan. Tanpa mereka semua, hamba bukanlah siapa-siapa.”

“Ya Allah, saya mengaku bahwa saya masih sangat lemah, oleh karena itu tinggikan kepekaan hamba agar mudah mendeteksi saat kesombongan mulai bertamu ke hati hamba. Namun rendahkanlah hati hamba agar berbagai ilmu yang bermutu sudi bertamu ke dalam pikiran, hati dan jiwa hamba.”

“Terima kasih ya Allah, hari ini saya sudah bisa menangis lagi. Semoga ini bukan air mata buaya tetapi pertanda bahwa kepekaan di dalam hati hamba kembali bekerja…”

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini


TBnCbatch8


Bagikan:

47 thoughts on “Menangislah”

  1. Firdaus says:

    Subhanallah… Pengakuan seorang hamba yg tulus..
    *nyetel lagu al’itirof haddad alwi biar makin sedih..

  2. mhd husni tarigan says:

    🙁

    1. harizky says:

      subhanallah, semoga kita selalu di jauhkan dari sifat yang satu itu (sombong).

  3. riza says:

    ini yang saya cari kek, udah 3 hari saya tidak menangis padahal itu yg selalu saya nanti tiap malam, suatu kenikmatan yg tiada tara, semoga tulisan kakek bisa mengoreksi diri saya supaya bisa menangis lagi.
    Ya ALLAH buat saya menangis karena-MU, jangan buat hamba menangis karena dunia

  4. Syarmidah says:

    Terima kasih mas….mas tlah memberi jawab atas tanya yg selama ini menancap d dada saya

    1. Siip. Salam SuksesMulia

  5. Membaca ini membuat air mata tak terasa membasahi pipiku.. Owh begitu mudah sombong merasuki hati tanpa kita sadari

  6. CECEP SAPRUDIN says:

    Subhanallah…..
    Kesadaran yang menggugah hati….
    Saya terkesan sekali dengan apa yang Bapak sampaikan. Berkah dari ketemu sama Orang Tua ya Pak.

  7. fahmi firmansyah says:

    Saya juga pernah sulit menangis kek,berarti selama ini kesombongan yg merasuk…Astaghfirulloh..
    Semoga kita selalu terhindar dari tinggi hati dan terjaga dalam rendah hati 🙂

  8. Sisi Lembut memang SANGAT PERLU bagi setiap Insan, Menangis adalah sebuah Rutinitas dalam bentuk untuk selalu bisa memperbaiki Diri…

    Terima Kasih Pak, Nasehat Indah agar kita selalu bisa Menangis atau Beristighfar karena meski kita anggap Perfect terkadang mungkin ada yg msh kurang.

    😀

    Salam SuksesMulia!
    Selamet Hariadi

  9. aden jalaludin says:

    Subhanallah…
    Terima kasih kek, tulisan singkat namun sangat bermakna, semoga Allah menegur kita ketika kita hilaf..

  10. Prapti says:

    Subhanallah Pak,
    Bener banget “Jika kita merasa hebat maka ketergantungan kita kepada Allah berkurang dan hal itu menjadikan benih kesombongan akan tumbuh subur di dalam hati”.Jadi hari ini masih di Lampung ya Pak jamil ? kapan kapan ke Lampung lagi mungkin bisa mampir ke Lampung Post. Salam Sukses Mulia.

    1. Sekarang sudah di Jakarta, sedang siap2 memberikan seminar di Pertamina. Salam buat pak Bambang dan kang Djajat. Salam SuksesMulia

      1. Stay says:

        Bapak jamil,apa sampai setelah tangisan itu bapak bisa mudah menangis lagi…

        Saya sedang mengalaminya nih pak,saya orangnya sombong bgt,banyak dosa,dll…
        Tapi ketika dzikir dan coba ingat dosa saya sulit sekali menangis,dan ketika itu pula kadang bisa menangis tapi saya ragu apa itu tangisan karena ingat dosa attau karena ketakutan akan keadaan yang sulit menangis ini…

        Terima kasih tolong jawabannya ya pak jamil mirdad hehehe…

  11. Donny says:

    Pak Jamil Tawadhu banget ya orangnya.

  12. Nurasiah Jamil says:

    “Jika kita merasa hebat maka ketergantungan kita kepada Allah berkurang dan hal itu menjadikan benih kesombongan akan tumbuh subur di dalam hati.” maknanya sangat dalam buat saya Pak…terimakasih telah banyak mengingatkan<wasallam…

  13. Akbar Fauzan (@AkbarFauzan14) says:

    Itu blm sbrp,..saya lbh sombong dr Bpk,..tp sy gak nangis,..krn sy kaya,..kaya skali,…tp kaya akan dosa, maksiat, kufur nikmat, pokoknya ” mungkin Alloh sdh gak mau lihat sy ” shg sy gak bisa nangis,..dibiarin aja,..terserah dah lo mau apa,..(mungkin..)

  14. Ratna Putrii Anwar says:

    kalo baca ini mah nangis beneran. *tissue mana tissue (╥﹏╥)

  15. andirofiek says:

    jika orang berkata laki2 yang menangis itu cemen tetapi sebenarnya yang tidak menangis karena kesalahan dan dosa DIA lah yg cemen..

    Salam Sukses Mulia

  16. Anggit Setyaningsih says:

    Inilah yg aku cari.. 🙁

  17. Sylvie Ramadhan says:

    kok sama sih tadz, saya juga bisa nangis pas shubuh.. betul tadz, kalau ada saja sebesar pasir kesombongan hati susah banget nangis uhuhu.. love ur article tadz!

  18. Lukman says:

    Akhir-akhir ini juga saya sangat susah untuk menangis ketika berdoa, dalam shalat malam sekalipun sepertinya hati ini tidak pernah fokus untuk benar-benar memohon dan menangis.
    Ternyata mungkin dalam hati saya juga ada kerikil sombong itu, terimakasih ustadz untuk mengingatkan dan mengarahkan.
    Kalau boleh tahu, bagaimana dan apa yang dibicarakan dengan ibunda sehingga kakek bs berkesimpulan pesan penting ini? “Jika kita merasa hebat maka ketergantungan kita kepada Allah berkurang dan hal itu menjadikan benih kesombongan akan tumbuh subur di dalam hati.”
    Weekend ini saya berencana mengunjungi orang tua, jadi mungkin saya bisa dapat inspirasi dari kakek bagaimana bisa menggali informasi dan petuah2 bijak dari orang tua kita :).
    Syukron

  19. Mhd Dolly says:

    Terkadang kita sulit mendiagnosa penyakit hati yg sedang menyerang.

    top bgt ni pak jamil diagnosanya…

    “jika kamu sulit menangis saat ingat maksiat yang kamu perbuat, itu pertanda hatimu mulai sombong.”

    karena manusia tidak ada yg sempurna…
    #salam sukses mulia

  20. fido says:

    Saya juga esring seperti itu Kek..berdoa rasanya hambar..terutama ketika sedang mendapat nikmat.

  21. Didie GT says:

    terima kasih tulisannya pak Jamil, saya pun pernah merasakannya..ketika sedang menghadap Allah,ingin menangis tapi tidak bisa. saya sadar waktu itu hati saya sedang mengeras, sadar sudah melakukan dosa sedemikian banyak dan jauh dari Allah. menangis itu memang nikmat, Allah jadi terasa dekat..

  22. Mayang says:

    Mak Jleb!

  23. vega aminkusumo says:

    JLeb! Kek..berarti salah juga ya Pak.. kalau mengajarkan anak sedari kecil jangan cengeng.
    jadi gengsi menangis pas gedenya..

  24. Ikutan nangis kek :'(

  25. Linamaria says:

    *Oh Alloh, ketika menangis mulai sulit bagi kami, segera tegur kami, jangan biarkan hati kami keras terlalu lama.
    Ya Lathiiif, ulthuf bina …*

    Terima Kasih banyak Pak Jamil, tulisan yg sangat menonjok bagiku.

  26. rizky alife says:

    Ya Allah, sering kli pilihan kata terucap kalau kita ini hebat.

    Padahal cuma butiran debu…
    Terima kasih inspirasinya sir.
    Salam sukses mulia..

  27. Terima kasih Pak, artikel ini membantu untuk me-release beban yang berat dan dengan menangis di hadapan-NYA, segala sesuatu menjadi lebih ringan.

    Terima kasih 🙂

  28. Feby Damayanti says:

    Subhanallah..
    Senangnya kakek pny org tua yg luar biasa.. Org tua kakek jg pasti bangga pnya anak spt kakek :’)
    Barokalloh kek

  29. yunimahmuro says:

    Kenaaaa bgd kek. ;(
    Kek kalo boleh , ijin ngumpulin tulisan utk blog aku ya..

  30. vivi says:

    Subhanalah makjlebbbb jlebbbb

  31. Terimakasih, mbah

  32. dnur77 says:

    subhanallah alhamdulillah…
    dan menangis lagi…ampuni aku ya ALLAH….

  33. eksa says:

    Subhanalloh mksh pak….sdh lama saya tidak menangis seperti ini..indah sekali pak…semoga Allah senantiasa memberikan rahmat yang luar biasa ini untuk semua hambanya…aamiin.

  34. cak mamad says:

    Saya yakin, nanti insya Allah kita pasti berjodoh untuk berjumpa.

  35. syam says:

    Sangat menyentuh kek, tak terasa diri ikut menangis ketika sadar betapa sombongnya diri ini…
    Apakah hati yg mengeras/membatu msh bisa kembali lagi kek?

  36. Haqiqi Silmaduri says:

    Sy rsnya ga prnh merasa diri hebat lo… Tp hrga dirinya tinggi mubazir.. Ap gr2 ini jd susah nangis?? Gmn sy bs tau??

  37. MMT says:

    aahhh kakeekk 🙁

  38. princess amanda @holistic_center says:

    speechless….
    yaa Allah betapa hati ini seringkali beku karena kesombongan…ampuni kami yaa Robb…
    bimbing kami terus dalam menjalani hari2 yg penuh debu2 penyakit hati yg membuat kami terkadang melupakan kebesaranMu…

    tulisan ini begitu menghujam smp ke lubuk hati terdalam grandpa…very touchy n very inspiring me…luv it…

    salam SuksesMulia

  39. Mayasari says:

    Astagfirullah.. Kdg ga sadar kita berlaku sombong dan dosa2 kecil menumpuk sedikit demi sedikit.. Astagfirullah 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published.