Memprioritaskan yang Setara

Semua hal yang kita lakukan sejak bangun tidur hingga tidur kembali bisa bernilai ibadah. Apapun yang kita lakukan, selalu ada hukumnya. Bisa wajib (dilakukan berpahala, ditinggalkan dosa), bisa juga sunah (dilakukan berpahala, ditinggalkan tak apa-apa). Ada pula yang mubah (boleh dilakukan, boleh tidak).

Selain itu, ada juga aktivitas yang seharusnya ditinggalkan. Haram, bila dikerjakan justru berdosa dan bila ditinggalkan berpahala. Makruh, bila dikerjakan tidak berdosa namun bila ditinggalkan berpahala.

Bagi yang ingin terjaga dari cela dimata manusia sekaligus dicintai penduduk langit tak ada pilihan selain menyibukkan diri dari yang wajib dan sunah. Sekali-kali boleh mengerjakan yang mubah, tinggalkanlah yang makruh dan campakkan yang haram. Ini adalah urutan skala prioritas, urutannya jangan dibolak-balik agar hidup Anda selalu terjaga dan terus tumbuh ke arah yang tepat.

Urutan skala prioritas melakukan sesuatu yang baik adalah: wajib-sunah-mubah. Bila aktivitas wajib berbenturan dengan aktivitas sunah, maka wajib yang seharusnya didahulukan. Bila sunah bertemu dengan mubah maka sunah yang diprioritaskan. Sementara urutan meninggalkan yang tidak baik adalah: haram kemudian makruh.

Dengan kerangka ini sangat mudah bila suatu saat Anda menemukan berbagai persoalan dalam kehidupan. Misalnya mana yang seharusnya didahulukan, Anda membayar hutang jatuh tempo atau bersedekah kepada orang lain? Jawabnya, membayar hutang jatuh tempo itu lebih prioritas. Mengapa? Karena membayar hutang jatuh tempo itu wajib sementara sedekah itu sunah.

Sekarang, saya yakin Anda pun sudah bisa menjawab bila saya mengajukan beberapa pertanyaan. “Bila dana Anda terbatas, mana yang seharusnya diprioritaskan, membantu orang tua atau membeli rokok?” Bila adzan sudah berkumandang, mana yang lebih prioritas, shalat berjamaah ke masjid atau tetap menonton pertandingan sepak bola di televisi? Bila Anda sehat dan fresh serta punya waktu, mana yang lebih priotitas, memenuhi undangan saudara atau istirahat di rumah?”

Pertanyaannya, bagaimana bila aktivitas yang wajib bertemu dengan yang wajib, aktivitas sunah bertemu dengan yang sunah? Menentukan mana yang lebih prioritas diantara yang setara (wajib dengan wajib, sunah dengan sunah) memerlukan kecerdasan dan kejernihan hati.

Saat aktivitas yang setara bertemu, segeralah pilih salah satu untuk dilakukan, jangan terlalu lama mempertimbangkan. Sebab, salah memilih diantara aktivitas kebaikan yang setara tidak mengakibatkan dosa. Utamakanlah aktivitas yang lebih mendesak, keuntungannya lebih banyak dan kerugiannya paling sedikit.

Setiap orang mempunyai pengalaman dan pertimbangan yang berbeda saat menentukan yang utama diantara yang setara. Tetap hormatilah pilihan orang lain karena sama-sama berpahala dan sama-sama tidak mendatangkan dosa. Setuju?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini



Bagikan:

17 thoughts on “Memprioritaskan yang Setara”

  1. Keripik Buah @7Chipz says:

    Sarapan Ilmu baru dari kek Jamil…. syukron kek sdh mengingatkan pentingnya skala prioritas dlm kehidupan sehari2 🙂 #SalamSuksesMulia

  2. Wahhhh jadi semakin semangat utk memulai aktivitas hari ini nih…… harus selalu belajar menentukan skala prioritas. GANBATTE!!!

  3. Ano says:

    Setuju.
    Salam sukses mulia untuk semua.

  4. mhd husni tarigan says:

    Alhamdulillaah…. Vitamin segar di pagi hari. Semangaaat pagi kek… Sehat dan sukses selalu

  5. Nutrisi pagi yg sangat bermanfaat

  6. dnur77 says:

    alhamdulillah….skala prioritas…mana yg lebih diutamakan..salam suksesmulia

  7. robet dwiputra says:

    udah lama gak posting, sekali posting manfaatnya gak kalah sama yang sudah-sudah di posting..
    udah di share kek ke akun fb. semoga bisa menebar manfaat ke lebih banyak orang lagi. Ammin.
    salam sukses mulia

  8. Lani Soetomo says:

    Setujuuuuu….. Termasuk menentukan skala prioritas pekerjaan utama dan sambilan ya kek? Kalau bisa menentukan prioritas pasti bisa menghasilkan.

  9. Lani Soetomo says:

    Setujuuuuu….. Termasuk menentukan skala prioritas pekerjaan utama dan sambilan ya kek? Kalau bisa menentukan prioritas pasti dua-duanya bisa menghasilkan.

  10. Andi Baso Panguriseng says:

    mantap… Pa’ jamil.. Fiqh Aulawiyahnya..

  11. CECEP SAPRUDIN says:

    Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dalam hidup ini. Karena begitu banyaknya, kita tak akan mungkin bisa mengerjakan semuanya. Karena itu, mampu menentukan skala prioritas dalam hidup menjadi sebuah keniscayaan.

    Membuat skala prioritas, termasuk satu dari empat syarat menjadi pemimpin efektif. Empat syarat tersebut adalah: memiliki visi dan tujuan hidup (dunia akhirat), terampil membuat prioritas, mampu menggali dan mensinergikan potensi, dan mampu memotivasi orang lain.

  12. amel says:

    terima kasih pencerahannya kek..
    agak susah memang ketika memilih yang setara..misalnya antara pekerjaan dan anak.
    but life is about choices ya.. 🙂

  13. Surya says:

    Kek, saya sudah daftar WBT batch 9 nanti dan sudah mendapatkan cuti untuk hari Jum’at-nya. Namun, mendadak ada undangan rapat kantor pada hari Kamis-Jum’at tersebut dimana saya ditunjuk jadi tuan rumahnya. Sebaiknya saya pilih yang mana ya? Atasan saya belum cancel cuti saya sampai sekarang.
    Terima kasih

    1. Keputusan banyak pertimbangan, yang tahu diri Anda dan lingkungan Anda adalah Anda sendiri, ambilah keputusan yg dampaknya jangka panjang untuk Anda.

  14. hapid says:

    setuju dan mantap materinya kek.. 🙂
    syukron katsiiron..

  15. Afrizal says:

    semangat ustad! 🙂

    dibikin lebih greget lagi tulisannya

  16. hadi says:

    Jadi ingat ceramah kemarin , seorang anak sholat dhuha lebih utama batalin sholatnya utk bersegera kepada orangtuanya yg memanggil,karena sholat dhuha sunnah,sementara patuh pada orangtua hukumnya wajib selama bukan untuk maksiat 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.