Memberlakukan Upah Minimum

Rully BaskaraMenjelang pergantian tahun. Biasanya Upah Minimum Propinsi atau lebih dikenal dengan singkatan UMP, juga mengalami pergeseran naik. Apalagi di beberapa wilayah kota besar seperti di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Masih ada saja buruh yang demo menuntut kenaikan UMP-Upah Minimum Propinsi dengan alasan kenaikan harga kebutuhan. Mereka kenaikan UMP yang diberlakukan pemerintah propinsi belum cukup untuk menghidupi keluarga mereka, kurang dan selalu kurang. Namanya juga manusia tidak pernah merasa puas…hehe πŸ™‚
 
Tapi kali ini saya tidak membahas soal UMP buruh, tapi UMP untuk istri. Iya beneran UMP untuk istri, Anda tidak salah baca…. loh maksudnya upah untuk istri?? Jreeeeng….. Iya beneran, saya akan bahas soal upah yang diberikan kepada istri, simak ya…
 
Sudah lazim suami bekerja mencari nafkah dan istri dirumah mengurus rumah, mendidik anak, melayani suami, right? Dan sudah lazim juga (khususnya orang jawa) untuk memberikan seluruh nafkah yang didapatkannya kepada istri untuk dikelola mencukupi kebutuhan rumah tangga. Oiya dalam kasus ini sang istri statusnya Ibu Rumah Tangga (IRT) atau full time mom ya…
 
Nah hebatnya nih, berapapun nafkah/gaji/pendapatan yang diberikan suami, sang istri seperti memiliki kekuatan super untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarga, padahal kalo diitung secara matematika harusnya defisit, tapi entah kenapa istri selalu memiliki kekuatan luar biasa mengelola keuangan keluarga, salut deh πŸ™‚ sepertinya perlu pembahasan khusus soal ini kapan-kapan….
 
Namun ada yang sering terlewatkan oleh suami, yaitu upah bagi istri. Loh kok gitu sih?? Kok istri dikasih upah?? Begini analoginya…
 
Seorang karyawan yang bekerja biasanya akan menerima gaji dan tunjangan operasional. Gaji untuk kebutuhan pribadi/keluarga, sedangkan tunjangan operasional untuk kebutuhan yang berhubungan dengan pekerjaan. Nah kalo kita mengambil analogi tersebut, maka kebutuhan rutin keluarga adalah biaya operasional keluarga, lalu biaya untuk kebutuhan pribadi istri apa kabarnya??
 
Apa saja sih biaya yang termasuk kebutuhan pribadi istri? Hal ini relatif sih tergantung kebiasaan sang istri, umumnya utk perawatan diri, bersosialisasi dan biaya “me time” lainnya. Istri tentunya perlu untuk bersosialisasi agar tidak jenuh mengurus rutinitas rumah tangga. Istri tentunya perlu untuk sesekali merawat diri ke salon, cream bath, lulur, meni pedi dll. Istri perlu untuk meng-upgrade wawasan dengan membeli buku, kursus kerajinan atau bergabung dengan komunitas yang positif lainnya. Atau sekedar membeli barang-barang pribadi yang diinginkannya. Tentu itu semua perlu biaya bukan? Lalu selama ini istri mendapatkannya dari mana?? Ya dari mana lagi kalo bukan dari gaji suami….
 
Pertanyaannya, perlukan istri mendapatkan “upah” untuk keperluan pribadinya diluar gaji/pendapatan yang diberikan oleh suami? Perlukan suami memberikan “upah” khusus bagi istri sebagai sebuah penghargaan dan apresiasi atas pelayanan dan pengabdiannya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anak?
 
Bayangkan bila seorang suami, setelah memberikan slip gaji bulanan, juga memberikan sebuah amplop khusus sambil berkata, mah/bu/bunda..sayang…ini khusus untuk kamu, untuk keperluan pribadi kamu ya sayang. Di jamin langsung meleleh dan Anda tau apa yang akan terjadi selanjutnya…hehe πŸ™‚
 
Salah satu bentuk penghargaan yg bisa diberikan suami kepada istri, lagi pula kalo istri bahagia, sehat dan terawat suami pula yang akan mendapatkan manfaatnya. Pasti Anda semua setuju πŸ™‚
 
 
Tulisan dikirim oleh Rully Baskara

Bagikan:

12 thoughts on “Memberlakukan Upah Minimum”

  1. Ilmu yang sangat berharga untuk para suami dan yang akan menjadi suami. Makasih Mas atas ilmu di siang ini πŸ™‚

    Salam Sukses Mulia

  2. syarah khaerunnisa says:

    waaahhh ini pasti bakal dishare para istri ke suami2 nya, termasuk saya. hihihi…

  3. lutfi fitriana says:

    hahaaaiii, sukaaaa dehhhh.. πŸ™‚

  4. Mantap tulisan mas Rully, kira-kira gaji istri yang pantas berapa ya ?

    Salam SuksesManfaat

    Syaifur Amuro

  5. mas faiz says:

    Coba para suami tukeran sama tugas istri…

    Biar tahu lelahnya sang permaisuri.

  6. Suami yang baik, akan selalu membahagiakan istrinya. Mungkin dengan menggaji πŸ™‚

  7. Wah keren pak, sang istri ternyata sibuk nikmat juga kejar rezeki tanpa takaran,
    kalau ditakar suami buat materi sisanya tanpa takaran, nah seorang istri lebih mengutamakan kepentingan rumah, anak dan suaminya daripada kepentingannya sendiri.. karenanya selalu memiliki kekuatan luar biasa mengelola keuangan keluarga. just a thought.

  8. Pak Rully…coba “sesuatu yang akan terjadi selanjutnya” di share di sini, biar kita2 juga bisa belajar hehehe…

  9. Dodo says:

    Wah.. Betul jg nih..

  10. Andriansyah says:

    iya nih….salah satu bentuk cinta suami kepada istri…apalagi kalo gaji-nya dalam bentuk dollar….

  11. muhadi says:

    wahh… istri saya langsum senyum2 mas….

  12. kamal says:

    tidak semua hal dalam kita menilai kerja istri dgn upah bernilai uang semata. saya pernah ingat sebuah kisah dlm keluarga Ali Radiullahu anha dan istrinya fatimah. suatu ketika fatimah datang kepada rasulullah dan berkonsultasi ttg kehidupannya yg kekurangan, bahkan bisa digambarkan tangan ahli surga ini yg kasar, karena harus setiap waktu menggiling gandum. dan kemudian sang ayah yg juga Konsultan terbaik ini menyampaikan arahan yg jika ukuran manusia secara umum tidaklah menjadi umum yaitu dgn mensikapinya dgn rasa bersyukur bahwa dia telah disandingi dgn ahli surga pula yaitu suami yg soleh. kemudian sang ayah melanjutkan dgn menyampaikan dgn perbanyak dzikir dgn mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu akbar masing2 sebanyak 33x.
    apa yg terbesit dlm benak kita kalau kata-kata itu disampaikan sang suami ke istri? hmmm bisa agak dibayangkan dgn berbagai ungkapan, salah satunya ” memang belanja bisa dgn dzikir aja” atau yg lebih halus bisa dgn ungkapan “alhamdulillah, gmn belanja bulanannya kan nga bisa cuma dzikir aja?”. lalu apa bedanya saat fatimah mendatangi ayahandanya? bukan sama saja!. bukan uang atau emas yg rasulullah berikan tapi keyakinan kepada Allah dan Rosulnya lah yg menjadi fatimah mendapatkan nilai “upah” yg setimpal utk itu. lalu apakah hal ini telah sejalan dgn kehidupan kita berkeluarga saat ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published.