Membangun Tim Dengan Collaborative Leadership

Share this
  • 9
  •  
  •  
  •  
  •  
    9
    Shares

Beberapa perusahaan menghabiskan ribuan dolar dan waktu dalam membuat tim building, hal ini disampaikan oleh pemilik Mars Inc, sebuah perusahaan keluarga yang telah berdiri lebih dari 25 tahun dan memiliki kekayaan dari berbagai bisnisnya di seluruh dunia senilai 35 juta dolar. Kegiatan tim building yang dilakukan beraneka ragam. Ada yang mengajak seluruh karyawan berlibur ke sebuah tempat yang mewah.

Di sana mereka dimanjakan dengan berbagai hiburan mahal dan kekinian. Ada juga yang mengundang orkestra ternama di hotel mewah dan bergengsi. Setelah itu pimpinan mengajak karyawan mengambil insight bahwa harmoni nada yang dikeluarkan adalah hasil dari kolaborasi yang indah. Di akhir penutup, pimpinan Mars Inc mengharapkan karyawannya bisa melakukan kolaborasi.

Perusahaan lain memiliki cara berbeda untuk menumbuhkan kolaborasi. Mereka mengundang seluruh karyawan dalam sebuah kesempatan untuk saling bersama sama melakukan kegiatan yang dikemas menarik. Dalam waktu 1-2 hari mereka menghabiskan waktu bersama penuh kedekatan dan keakraban.

Melalui kegiatan yang telah direncanakan tim dengan divisi berbeda diminta menyelesaikan tugas. Peserta pun terlihat antusias, apalagi ada hadiah menarik yang telah menunggu bagi tim yang paling cepat dan paling baik menyelesaikan misi. Meski suasana yang terbangun gembira dan akrab, peserta tampak bersungguh sungguh menjalaninya. Akhirnya seluruh peserta dapat menyelesaikan tantangan tersebut, namun ternyata hal itu tidak menjamin pada keseharian para karyawan akan saling bekerjasama dan berkolaborasi mencapai misi perusahaan.

Pada 2011, senior HR leader di Mars membuat sebuah formula bagaimana memaksimalkan kolaborasi. Ternyata sebuah kolaborasi tidak dimulai dari sebuah hubungan yang baik dan adanya kepercayaan antara satu dengan lainnya , melainkan berawal dari motivasi setiap individu. Senior HR leader kemudian mengajukan questioner kepada 125 karyawan yang berisi sejauh mana mereka menetapkan prioritas, apa objective dari masing masing tim dan seberapa yakin mereka terhadap objective tersebut dan apakah mereka mengetahui value dari masing masing individu dalam tim.

Baca Juga  Jadwal JA Desember 2011

Jawabannya, mereka sangat mengetahui objective pekerjaan, sangat yakin dapat mencapai objective tersebut dan tau pasti potensi rekan rekannya dalam mencapai objective yang ditetapkan.

Namun, saat di tanya dua level di atas mereka, ternyata para pimpinan menyampaikan bahwa sebenarnya tim mereka tidak benar benar melakukan kolaborasi, melainkan hanya berorientasi pada aksi dan fokus pada hasil. Hal ini semakin masuk akal karena atensi setiap individu adalah bagaimana memenuhi sistem rating performanya.

Temuan ini sangat menarik. Akhirnya dilakukanlah wawancara mendalam kepada karyawan menanyakan apa makna dari kolaborasi dan apakah mereka mau menjalankan kolaborasi. Ternyata sebagian besar merasa kolaborasi adalah sebuah kata yang bagus maknanya namun sangat idealis, sulit untuk diwujudkan. Karena bekerja sama dengan orang lain maupun bagian lain bukan perkara mudah. Alih alih pekerjaan tuntas, malah jadi lebih complicated, dan bisa mengacaukan apa yang direncanakan.

Senior leader pun membuat kerangka frame work mengenai kolaborasi, menyangkut hal
1. Mengapa kolaborasi penting dan berpengaruh besar pada bisnis dan
2. Secara spesifik kolaborasi seperti apa yang diinginkan

Karyawan kemudian berkumpul mendiskusikan secara mendalam hal ini dipandu para leader. Dari diskusi tersebut jelas terlihat bahwa bekerjasama dan berkolaborasi hasilnya melebihi gabungan pekerjaan tiap individu. Agar lebih menyakinkan maka dibuatlah semacam tugas yang harus dilakukan oleh tiap tim yang terdiri dari berbagai individu dan dibuat simulasi jika salah satu bagian tidak melakukan tugas sebagaimana yang telah ditetapkan dalam perencanaan apa yang akan terjadi.

Dari simulasi tersebut semakin menyakinkan karyawan kolaborasi menghasilkan sesuatu yang luar biasa, jauh melampaui dari apa yang selama ini terpikirkan. Dari simulasi ini pula di dapatkan ada hal hal yang harus dilakukan sendiri, ada hal yang bisa dilakukan melalui kolaborasi.

Baca Juga  Mengalami itu Penting

Secara harfiah berdasarkan wikipedia, kolaborasi sebenarnya hampir sama dengan bekerjasama. Namun yang membedakan, pada kolaborasi unsur leadership lebih kental. Karena mentality yang dibangun bagaimana setiap orang berani memutuskan hal terbaik yang harus dilakukan dalam menyelesaikan masalah dan tantangan yang dihadapi. Karena itu agar kolaborasi lebih mudah dilakukan perlu memahami 3 C, yaitu:
1. Everybody Counted
2. Build health Communication
3. Care More

Everybody Counted
Setiap orang memiliki peran dan berkontribusi dalam mengerjakan misi yang telah ditetapkan untuk itu satu sama lain sebaiknya memahami karakter masing masing dan saling menghargai. Karakter bisa berdasarkan generasi. Baby boomer, gen X, gen Y dan milenial memiliki sifat dan ciri khas sendiri. Perlu dipahami ciri khas tersebut secara baik sehingga tidak menimbulkan permasalahan dalam berinteraksi. Tidak ada generasi terbaik, setiap masa selalu memiliki hal positif dan memiliki peluang berkolaborasi. Hindari generational tention, kurangnya respectnya satu generasi dengan generasi lainnya, karena terfokus pada perbedaan dan menganggap generasi lain tidak sebaik generasinya. Perbedaan karakter juga bisa disebabkan daerah asal yang berbeda ataupun latar belakang budaya di tempat kerja mereka sebelumnya.

Build health Communication
Setelah memahami point pertama. setiap orang diperhitungkan, maka komunikasi yang dibangun pun diupayakan haruslah komunikasi yang mendukung terjadinya kolaborasi. Jika dalam perjalanan ada perbedaan, bukan sesuatu yang menjadi penghalang, tetapi dicarikan solusi terbaik. Selalu berpikir positif, mendengar secara aktif dan berempati terhadap apapun yang terjadi. Posisikan diri Anda pada diri orang lain dan apa yang Anda harapkan dilakukan oleh orang lain, hal itulah yang kemudian perlu Anda lakukan pada rekan kerja Anda.

Care More
Berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana, apa yang bisa dilakukan untuk tim dan perusahaan memunculkan mindset care more. Memberi lebih dari apa yang seharusnya, melakukan sesuatu tanpa diminta dan berperan aktif mewujudkan kolaborasi adalah ciri mereka yang care more.

Baca Juga  SuksesMulia Star Employee Training di PT Cipta Krida Bahari

Silahkan lakukan 3 C dan buktikan dengan kolaborasi pekerjaan jauh lebih mudah, hasil yang dicapai mengagumkan dan hati pun happy.

Salam SuksesMulia


Share this
  • 9
  •  
  •  
  •  
  •  
    9
    Shares

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer