Manusia Wacana

wacana.jpg

Saya semakin mengerti mengapa Allah SWT membenci orang yang hanya pandai berkata tapi tak pandai berbuat. Manusia seperti ini saya sebut manusia wacana. Indah tutur katanya namun buruk kerjanya dan perilakunya. Manusia wacana terlihat hebat namun aslinya tak layak dijadikan teladan.

Banyak manusia wacana di sekitar kita. Saya pernah sedikit jatuh hati kepada salah satu pemilik even organizer (EO). Saat ngobrol dengan saya, ia menuturkan prinsip-prinsip hidupnya yang luar biasa. Ia juga bercerita tentang berbagai kebaikan yang sudah ia lakukan karena sejalan dengan visi hidupnya. Tetapi sudah setahun ia tak membayar kewajibannya kepada saya. Hehehehe… Ini contoh manusia wacana.

Orang yang sering menawarkan janji-janji kepada calon pelanggannya, namun setelah itu pelanggannya tidak mendapatkan apa yang ia janjikan. Ini juga saya sebut manusia wacana. Orang tua yang melarang anaknya merokok padahal ia perokok berat, ini pun termasuk manusia wacana.

Seorang trainer yang sering mendorong para peserta training membuat visi atau impian hidup padahal ia sendiri bingung apa impian hidupnya, ini juga manusia wacana. Para politisi yang mengklaim berjuang untuk rakyat hanya untuk menarik simpati pemilihnya juga termasuk manusia wacana. Manusia wacana itu tak tahu malu. Ia merasa baik, padahal faktanya tidak.

Manusia wacana itu seperti balon, terlihat besar namun kosong. Tentu Anda tak mau menjadi seperti balon. Bagaimana agar kita tidak termasuk menjadi manusia wacana? Pertama, belajarlah untuk menjadi pendengar yang baik. Jangan merasa menjadi pendengar kalau Anda hanya diam karena menunggu orang lain berbicara. Pendengar yang baik itu mengambil hikmah dari ucapan orang lain, respek kepada lawan bicara.

Kedua, bergaulah dengan orang kritis yang cerdas dan tulus. Orang yang selalu memuji kita belum tentu baik, boleh jadi justru itu menjerumuskan. Sebaliknya, bergaul dengan orang yang kritis boleh jadi kadang menyakitkan namun bisa jadi itu yang menyelamatkan. Banyak manusia kritis yang cerdas, baik dan tulus di sekitar kita, jadikanlah ia sahabat Anda.

Ibarat mobil, agar selamat sampai tujuan perlu rem dan gas. Sahabat yang sering memberi apresiasi itu adalah gas. Sementara sahabat yang kritis itu rem. Mainkan gas dan rem pada proporsi yang tepat.

Segerala lakukan kedua hal di atas, agar Anda tak menjadi manusia wacana.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

25 thoughts on “Manusia Wacana”

  1. makasih Kek atas nasehatnya pagi ini..

    selalu mohon “gas” dan “rem”nya ya kek.. agar saya dan cucu-cucu lainnya tidak menjadi manusia wacana..

    Salam SuksesMulia

    1. Gasnya buat impianmu lebih menantang ๐Ÿ™‚

  2. Denni Candra says:

    Terimakasih nasehatnya kek dan mohon doanya supaya tidak kebablasan menginjak “gas” dengan sengaja merusak “rem”. Insya Allah akan selalu mencoba untuk memainkan peran “gas” dan “rem” secara proporsional … ๐Ÿ™‚

    Salam SuksesMulia

  3. kang Rahmat says:

    Kek, daripada setelah baca tulisan kake ini saya punya wacana untuk komen, saya ngasih komen langsung aja ah . . . Biar gak wacana hoho

  4. ali samsudin says:

    Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. trimakasih tipsnya kek, semoga yang saya rencanakan tidak sekedar wacana. amin

  5. iyu says:

    Tidak berbicara sebelum bertindak, tapi bertindak dan biarkan menjadi contoh bagi yang lain ya beh, salam SuksesMulia *peluk kangen*

    1. Balas peluk sambil ngambil dompet di kantongmu ๐Ÿ™‚

  6. Siaaaap kek… Inspiratif ๐Ÿ™‚

  7. Terimakasih inspirasinya kek…pengingat dikala manusia wacana makin tumbuh subur…smoga kita smua tak termasuk didalamnya

  8. Fikri says:

    “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.โ€ (QS. As-Shaff: 2-3)…

    Terima kasih kek atas pengingatnya di pagi yg cerah ini.. smoga kita bs menjaga diri dr sifat tersebut.. aamiin..

    Salam Super Sukses Mulia ๐Ÿ™‚

  9. Jauhkanlah kami dari manusia wacana
    Yang suka berkata semata
    Tanpa meninggalkan karya
    Tapi jadikanlah kami manusia fakta
    Yang meninggalkan beribu karya

    Terima kasih insprirasi paginya kek…..

  10. basith says:

    Bener yai, belajar mjd manusia yg tdk hanya berwacana itu pelajaran 6 SKS dan mjd mata kuliah kehidupan yg tdk mesti lulus dg nilai A, nek jare Arema( arek malang)ojo dadi wong kakean cocot, kongkrit ae, yg pnting itu sikap,prilaku dan tindakan bisa jd tauladan, Jokowi dan indra sjafri layak di contoh, gak bnyk omong,klo ngomong sesuai takaran, lebih bnyk berbuat kongkrit dan berprestasi baru berbicara, faktanya dahsyat berprestasi, membanggakan indonesia,

  11. Abdul Sidik says:

    Sambil menyerap ilmu pagi ini, sambil menimbang diri, apakah ada bagian saya yang melakukan ini “manusia wacana” woooow ternyata masih ada dan banyak lagi… terima kasih kek, semoga tambah sehat.

  12. Syarifudin says:

    KerON ..
    Nice Monday kek ..
    *peluk*

    Syarifudin
    @arief_neji

  13. dnur77 says:

    Alhamdulillah…
    berbuat terbaik dan bermanfaat…semangat…..

  14. umar wirahadi says:

    wah ngga boleh nih jadi manusia wancana saja, mesti ACTION,, berkah buat kakek dan keluarga aamin.

  15. SukrON kek sedekah ilmunya pagi ini | ini menjadikan alarm bagi saya unt mengingat-ingat lagi kemungkinan melakukan janji kpd konsumen yg belum tertunaikan.
    sekali lagi sukrON kek.

    Salam SuksesMulia_!!!
    @npindh
    เธ‡^โ€ข^เธ‡

  16. Denny Dachlan says:

    Saya masih seperti itu, Kek… Masih suka terombang ambing oleh hidup ini..
    Masih jadi Manusia Wacana… Semoga Saya bisa terus berubah untuk mejadi lebih baik lagi, Aamiin Yaa Rabb…
    Terima Kasih untuk Kek JA yang selalu “setia” jadi salah satu “rem” dalam hidupku..
    Doa dan Hormatku untuk Kek Jamil…
    Salam SuksesMulia!

    1. Padahal selama ini saya ngasih gas lho bukan rem ๐Ÿ™‚

      1. Denny Dachlan - Sales Activator says:

        Kalau Kasih Gas, memang udah “naluriah”nya Kek Jamil.. ๐Ÿ™‚
        Kek Jamil beda dgn Motivator lainnya yang “kebanyakan” ngasih Gas-nya, sehingga semangat kita kadang2 “kebablasan”.
        Kalau dengan Kek Jamil, dikasih Gas, tapi juga dikasih Rem-nya, jadi “mengendarai” hidup ini jadi lebih Asyik dan berwarna, serta lebih Aman..
        Hidup Kek Jamil! ( kebawa suasana Kampanye… ๐Ÿ™‚ )

        @DennyDachlan

  17. indra says:

    Sahabat itu ibarat gas dan rem.. Tnggal main kan dproporsi yg pas biar tdk mncelakakan..

  18. Noza says:

    Istilahnya “no action talk only” makasih kek nasehatnya , semoga kita semua gak jadi manusia wacana , aamiin ๐Ÿ™‚

  19. Semoga kita terhindar dari sifat2 manusia wacana ya kek.. take action..

Leave a Reply

Your email address will not be published.